Hikmah di Era AI dan Visualisasi Wajah Nabi Muhammad SAW
4 min read
Ilustrasi. opini “Hikmah di Era AI dan Visualisasi Wajah Nabi Muhammad SAW”. (Foto: Canva/Majesty.co.id)
Kemajuan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan (AI) telah menghadirkan kemampuan yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi. Kini, gambar dan video dapat dibuat hanya dari perintah teks.
AI bahkan mampu menghasilkan wajah seseorang, menirukan suaranya, hingga membuat video yang tampak nyata meski tidak pernah terjadi.
Fenomena ini melahirkan tantangan baru, terutama ketika teknologi digunakan untuk merepresentasikan tokoh-tokoh yang dihormati, termasuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Dalam Islam, wajah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallamumumnya tidak divisualisasikan.
Sikap ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan berakar pada sejumlah pertimbangan teologis dan etis yang telah dijaga selama berabad-abad.
Pertama, untuk menjaga kemurnian tauhid. Islam sangat menekankan bahwa segala bentuk ibadah hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Karena itu, mayoritas ulama berpandangan bahwa tidak membuat gambar Nabi merupakan langkah preventif agar tidak muncul penghormatan yang berlebihan terhadap sebuah representasi visual hingga berpotensi mengarah pada pengultusan atau penyembahan terhadap gambar.
Kedua, menjaga kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Umat Islam meyakini bahwa tidak ada gambar yang mampu menggambarkan keagungan pribadi, akhlak, dan kemuliaan Rasulullah secara utuh.
Mengenal Nabi lebih ditekankan melalui ajaran, teladan akhlak, dan riwayat hidup beliau daripada melalui representasi fisik yang pada akhirnya hanyalah hasil imajinasi manusia.
Ketiga, sikap kehati-hatian terhadap hadis-hadis yang membahas pembuatan gambar makhluk bernyawa.
Sejumlah hadis dipahami oleh banyak ulama sebagai dasar untuk menghindari pembuatan gambar para nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW.
Tujuannya bukan hanya mengikuti tuntunan agama, tetapi juga mencegah kemungkinan penyalahgunaan gambar tersebut di kemudian hari.
Keempat, pandangan tersebut telah menjadi tradisi yang dianut oleh mayoritas ulama dari berbagai mazhab.
Meskipun dalam sejarah Islam pernah ditemukan sejumlah manuskrip Persia, Turki, dan Asia Tengah yang memuat ilustrasi Nabi Muhammad SAW, karya-karya tersebut umumnya tidak menampilkan wajah beliau secara langsung.
Dalam banyak ilustrasi, wajah Nabi ditutupi kain putih atau digambarkan sebagai pancaran cahaya sebagai simbol penghormatan, sekaligus menghindari klaim bahwa gambar tersebut benar-benar merepresentasikan wajah Rasulullah.
Dengan demikian, tidak divisualisasikannya wajah Nabi Muhammad SAW bukanlah larangan yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an.
Praktik tersebut merupakan hasil pemahaman terhadap hadis, prinsip menjaga kemurnian tauhid, serta tradisi penghormatan yang berkembang dan dipertahankan oleh mayoritas umat Islam sepanjang sejarah.
Di era AI, hikmah di balik “hukum” tersebut justru semakin terasa relevansinya.
Teknologi generatif memungkinkan siapa saja menciptakan gambar atau video yang tampak autentik, padahal sepenuhnya merupakan hasil rekayasa algoritma.
Apabila digunakan untuk membuat visual Nabi Muhammad SAW, AI berpotensi menimbulkan kesalahpahaman karena masyarakat dapat menganggap gambar tersebut sebagai representasi yang benar atau memiliki dasar sejarah.
Risiko tersebut semakin besar dengan berkembangnya teknologi deepfake, yang memungkinkan wajah seseorang dipasang pada tubuh orang lain, suara ditiru secara presisi, bahkan video dibuat seolah-olah tokoh tertentu sedang berbicara atau melakukan sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Penyalahgunaan teknologi seperti ini telah menimpa banyak tokoh publik, sehingga sangat mungkin terjadi pula terhadap figur-figur keagamaan apabila tidak disertai tanggung jawab moral.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai tidak divisualisasikannya wajah Nabi Muhammad SAW tidak lagi semata-mata dipandang sebagai persoalan keagamaan.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, prinsip tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk perlindungan terhadap kemuliaan Rasulullah sekaligus upaya mencegah penyebaran representasi visual yang tidak memiliki dasar autentik dan berpotensi menyesatkan.
Kemajuan teknologi pada akhirnya harus berjalan seiring dengan etika. AI mampu menghasilkan karya yang luar biasa, tetapi tidak semua yang dapat dilakukan teknologi layak untuk dilakukan.
Menghormati nilai-nilai agama, menjaga keaslian informasi, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab merupakan bagian dari tantangan moral yang harus dijawab oleh masyarakat di era digital.
Penulis: Oland Muhammad, Ketua Harian Pemuda PERTI Sulsel
*) Semua isi opini ini di luar tanggung jawab redaksi Majesty.co.id
