Diskresi Golkar Sulsel: GPS Musda di Tangan Pak Aco
3 min read
Foto penulis opini, Ibnu Hajar Yusuf. (Istimewa/HO)
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menerbitkan surat diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS). Surat sakti itu memuluskan jalan Ilham memimpin partai beringin rimbun di Sulawesi Selatan.
Diskresi meruntuhkan segala syarat yang harus dipenuhi IAS memimpin Golkar Sulsel. Ia adalah mantan kader Partai Demokrat, lalu kembali ber-golkar.
Bagi penulis, diskresi dari Bahlil untuk IAS adalah kompas penunjuk arah atau “GPS” yang dipastikan, menentukan dan mengubah peta Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel.
Di sisi lain, Bahlil tentu menimbang banyak hal mengapa diskresi untuk IAS alias “Pak Aco” adalah jalan yang benar.
Setidaknya ada tiga alasan yang mendasari pandangan tersebut. Pertama, kepemimpinan yang telah teruji.
Pak Aco bukan sosok baru dalam memimpin organisasi besar. Pengalamannya sebagai Wali Kota Makassar selama dua periode menjadi bukti kapasitasnya dalam mengelola pemerintahan, birokrasi, dan kebijakan publik.
Di dunia politik, rekam jejaknya juga cukup panjang. Ia pernah memimpin DPD Partai Golkar Makassar dan Demokrat Sulawesi Selatan.
Kombinasi pengalaman pemerintahan dan kepartaian ini menjadikannya figur yang relatif siap untuk mengonsolidasikan dan menjaga stabilitas partai di daerah.
Kedua, gaya politik sombere’ dan kekuatan modal sosial.
Dalam kultur politik Sulawesi Selatan, karakter sombere’—ramah, terbuka, dan dekat dengan masyarakat—bukan sekadar citra, melainkan aset politik yang bernilai tinggi.
Pak Aco dikenal mampu membangun komunikasi yang cair dengan berbagai kalangan. Ia dapat berinteraksi secara natural dengan masyarakat di warung kopi maupun melakukan komunikasi politik di level elite.
Kemampuan ini membentuk modal sosial yang kuat dan berpotensi melahirkan loyalitas basis pendukung yang relatif stabil.
Ketiga, kemampuan menjahit komunikasi lintas generasi.
Salah satu tantangan utama partai politik saat ini adalah menjembatani kepentingan generasi senior dengan generasi muda, khususnya kalangan milenial dan Gen Z yang memiliki karakter serta preferensi politik berbeda.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan komunikasi yang adaptif menjadi faktor penting.
Figur yang mampu merangkul berbagai kelompok dan menjaga keseimbangan antar-faksi memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan konsolidasi partai yang solid tanpa menimbulkan perpecahan internal.
Meski demikian, modal sosial, pengalaman politik, rekam jejak kepemimpinan, dan karakter sombere’ yang dimiliki Pak Aco bukan satu-satunya faktor penentu.
Dalam tradisi politik Golkar, keputusan strategis sering kali dipengaruhi berbagai pertimbangan di tingkat pusat.
Diskresi DPP tidak hanya melihat kekuatan figur di daerah, tetapi juga memperhitungkan keselarasan dengan agenda kepemimpinan nasional partai, kebutuhan konsolidasi jangka panjang, serta peta kekuatan tokoh-tokoh lain yang memiliki basis dukungan di Sulawesi Selatan.
Karena itu, apabila terjadi kebuntuan atau deadlock dalam proses Musda, figur yang dianggap paling mampu menjaga stabilitas organisasi dan menjamin konsolidasi tanpa gejolak besar biasanya akan menjadi pilihan utama.
Penulis: Dr. Ibnu Hadjar Yusuf, M.I.Kom, Akademisi UIN Alauddin Makassar
*) Semua isi opini ini di luar tanggung jawab redaksi Majesty.co.id
