Warga Pulau Lae-Lae Makassar Gencarkan Gerakan Zero Sampah
3 min read
Warga di Pulau Lae-Lae Kota Makassar menimbang sampah sebagai bagian gerakan Zero Waste. (Foto: Istimewa)
Majesty.co.id, Makassar – Pemerintah Kecamatan Ujung Pandang menggelar Gerakan Zero Sampah di RW 003, Kelurahan Lae-Lae, Jumat (17/7/2026), sebagai upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mendukung program Makassar Zero Waste.
Kegiatan yang dipusatkan di kawasan pesisir Pulau Lae-Lae itu melibatkan ketua RT/RW, aparat Kecamatan Ujung Pandang, pemerintah Kelurahan Lae-Lae, masyarakat, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Negeri Makassar (UNM).
Camat Ujung Pandang, Nanin Sudiar, mengatakan edukasi pengelolaan sampah di wilayah kepulauan menjadi penting mengingat keterbatasan lahan dan tingginya risiko pencemaran laut akibat sampah.
“Dalam rangka mendukung program Makassar Zero Waste dan mewujudkan lingkungan yang bersih serta sehat, kami melakukan kegiatan Gerakan Zero Sampah di wilayah RW 003 Kelurahan Lae-Lae,” ujar Nanin.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengurangan sampah. Karena itu, warga didorong mulai memilah sampah sejak dari rumah sebelum diangkut ke tempat pengolahan.
Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat diberikan edukasi untuk memisahkan sampah menjadi tiga kategori, yakni sampah organik yang dapat diolah menjadi kompos, sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi melalui daur ulang atau bank sampah, serta sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Warga juga mendapat pemahaman mengenai dampak penggunaan plastik sekali pakai terhadap lingkungan, termasuk ancaman mikroplastik bagi ekosistem laut, serta cara sederhana mengolah sampah organik menjadi pupuk.
Nanin menjelaskan edukasi tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Makassar yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2026, di mana Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa hanya menerima sampah residu sebagai bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah menuju metode sanitary landfill.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengumpulan sampah dari rumah-rumah warga, kemudian dilakukan pemilahan, penimbangan, dan dilanjutkan aksi bersih-bersih di kawasan pesisir.
Dari hasil penimbangan, total sampah yang berhasil dipilah mencapai 353,1 kilogram. Sampah anorganik mendominasi dengan 335,1 kilogram, terdiri atas 97,5 kilogram cup plastik, 167,6 kilogram botol plastik, 65 kilogram kardus, 2 kilogram aluminium, dan 3 kilogram kaleng minuman.
Sementara itu, sampah organik tercatat 10,1 kilogram, terdiri atas 3,6 kilogram organik kering dan 6,5 kilogram organik basah. Adapun sampah residu yang tidak dapat didaur ulang mencapai 7,9 kilogram.
Nanin menegaskan Gerakan Zero Sampah tidak hanya bertujuan membersihkan lingkungan, tetapi juga membangun kebiasaan masyarakat mengelola sampah dari sumbernya melalui penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Ia berharap RW 003 Kelurahan Lae-Lae dapat menjadi kawasan percontohan pengelolaan sampah di wilayah kepulauan Kota Makassar.
“Keberhasilan program ini hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi. Mari terus bergerak bersama mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman untuk generasi mendatang,” tutupnya.
