28/04/2026

Majesty.co.id

News and Value

Wahyuddin Halim Jadi Guru Besar UIN Alauddin: Ulas Konsep Siri’ na Sara’ dan Alasan Terlambat Profesor

3 min read
UIN Alauddin mengukuhkan Wahyuddin Halim bersama dua koleganya yaitu, Marhaeni Saleh sebagai guru besar bidang Pemikiran Islam Modern dan Rahmi Darmis guru besar bidang Ilmu Tafsir Tematik.
Wahyuddin Halim menyampaikan pidato saat dikukuhkan sebagai guru besar bidang Antropologi Agama UIN Alauddin di Kampus UIN Alauddin, Samata, Gowa, Selasa (27/4/2026). (Foto: Youtube/UIN Alauddin)

Majesty.co.id, Gowa – Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar bertambah. Satu di antaranya adalah Wahyuddin Halim sebagai guru besar bidang Antropologi Agama.

Pengukuhan Wahyuddin Halim sebagai profesor baru itu digelar dalam sidang senat terbuka pengukuhan guru besar di Auditorium Kampus UIN Alauddin, Samata, Kabupaten Gowa, Selasa (27/4/2026).

UIN Alauddin mengukuhkan Wahyuddin Halim bersama dua koleganya yaitu, Marhaeni Saleh sebagai guru besar bidang Pemikiran Islam Modern dan Rahmi Darmis guru besar bidang Ilmu Tafsir Tematik.

Wahyuddin Halim dalam pidato pengukuhannya mengulas konsep “Siri’ na Sara’ dalam Moralitas Lokal, Paradoks Kesalehan, dan Ikhtiar Penubuhan Islam (Perspektif Antropologi Agama)”.

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Pria kelahiran Wajo itu memilih kata Sara’ dibanding Pacce atau Passe yang merupakan ungkapan dalam Bugis-Makassar. Menurutnya, Sara’ menunjuk pada syariat Islam dalam pengertian yang luas.

“Lalu mengapa Sara’? Dalam khazanah Bugis-Makassar, Sara’ menunjuk pada syariat Islam dalam pengertian yang luas,” kata Wahyuddin Halim dikutip dari soft copy naskah pidato akademiknya.

“Ia tidak hanya merujuk pada hukum formal, tetapi juga mencakup dimensi batin seperti al-ḥayā’ (malu) dan taqwā (takwa). Kehadirannya tidak menggeser paccé/pessé. Ia mengangkatnya ke tingkat makna yang lebih dalam,” sambung Wahyuddin Halim.

Terlambat Profesor atau Slow Professor


Selain secara tematik tentang Siri’ na Sara’, Wahyuddin Halim dalam pidato pengukuhannya juga membahas alasan dirinya baru meraih jabatan akademik profesor di usia 56 tanun.

Pria kelahiran 21 November 1969 itu mengaku sering ditanya soal kapan menjadi guru besar saat kolega atau juniornya lebih dulu meraih jabatan ini.

Ternyata, Wahyuddin Halim punya alasan prinsipil di balik istilah terlambat profesor atau “Slow Profesor“.

“Sesuai tema-nya, slow professor atau profesor yang terlambat sehingga saya selalu menerima pertanyaan dari segala penjuru. Seperti dulu saya belum menikah, kapan, kapan, kapan?,” kata Wahyuddin Halim

Terlambat profesor terilhami dari buku The Slow Professor: Challenging the Culture of Speed in the Academy, karya Maggie Berg dan Barbara K.

“Bagi saya jabatan professor sesungguhnya bukan sekadar pencapaian administrasi, ia adalah akumulasi dari proses ingelektual yang panjanh, matang dan jujur,” katanya dalam naskah pidato setebal 104 halaman.

Menurut Wahyuddin Halim, jabatan profesor menuntut kesabaran, kesediaan untuk tidak tergesah, keberanian untuk terus menerus menguji diri.

“Karena itu pula, yang saya ingin jaga bukanlah gelarnya, melainkan orientasinya. Keyakinan ini tidak datang sendirian. Ia hadir diperkuat oleh suara-suara dari berbagai tradisi, yang secara mengejutkan bertemu pada satu arah yang sama,” katanya.

Di hadapan para guru besar lainnya, Wahyuddin Halim menegaskan jabatan profesor tidak selalu mencerminkan lompatan keilmuan yang signifikan.

“Khususnya dalam kasus saya. Dalam pengamatan dan pengalaman saya, yang paling terasa berubah ketika seseorang meraih jabatan ini bukanlah kedalaman pengetahuannya, tetapi pengakuan formal,” jelas Wahyuddin Halim.

Wahyuddin Halim mengutip sejumlah pernyataan soal kesadaran diri. Salah satunya ungkapan kearifan lokal Bugis yaitu “Issenngngi alemu, itai alemu”.

“Yang artinya kenalilah dirimu, lihatlah dirimu. Dan, ‘Lettu’ko jolo’ nappa jokka’. Kamu harus tiba lebih dahulu, sebelum berangkat. Sebuah paradoks yang indah: persiapan sejati mendahului langkah, bukan sebaliknya,” tegas Wahyuddin Halim.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.