IJTI Sulselbar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda
4 min read
Aksi nyala lilin dan doa bersama untuk 5 jurnalis hilang yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di pelataran Museum Balla Lompoa, Kabupaten Gowa. (Foto: Majesty.co.id/Nca/Str)
Majesty.co.id, Gowa – Suasana haru menyelimuti pelataran Museum Balla Lompoa, Kabupaten Gowa, Kamis (17/9/2026) malam. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat bersama Polresta Gowa menggelar doa bersama dan menyalakan lilin untuk lima jurnalis yang hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kelima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis freelance.
Mereka berada dalam satu rombongan bersama tiga kru kapal yang juga hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Operasi SAR gabungan selama 10 hari resmi dihentikan pada Kamis (17/9/2026) setelah tidak ditemukan tanda keberadaan rombongan.
Doa bersama di Gowa digelar sebagai bentuk solidaritas sekaligus dukungan moral bagi keluarga para jurnalis dan kru kapal yang masih menanti kepastian.
Ketua IJTI Pengda Sulselbar, Andi Mohammad Sardi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk doa dan refleksi bagi insan pers.
“Kami berharap ke depannya sudah tidak ada peristiwa ini lagi,” ujar Andi Mohammad Sardi.
Sardi mengajak seluruh pihak mendoakan kelima jurnalis beserta keluarga mereka agar diberikan ketabahan.
“Kami mendoakan teman-teman jurnalis, terkhusus keluarganya agar tetap tabah dan diberikan kekuatan dalam menghadapi kondisi ini,” ujarnya.
“Semoga doa ini menjadi bagian dari ikhtiar kita bersama dan mudah-mudahan teman-teman kita yang masih dalam pencarian segera ditemukan dalam kondisi apapun,” sambungnya.
IJTI Soroti Keselamatan Peliputan Bencana
Menurut Sardi, peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya penerapan protokol keselamatan ketika jurnalis meliput bencana.
“Teman-teman jurnalis untuk meliput bencana harus bisa lebih mengutamakan safety protocol atau lebih mengutamakan keamanan dalam meliput sebuah bencana,” jelasnya.
Ia mengatakan perusahaan pers perlu melakukan koordinasi dan mitigasi risiko sebelum menugaskan jurnalis ke wilayah berbahaya.
“Harus dipikirkan matang-matang ketika ada perintah dari perusahaan pers, itu harus berkoordinasi dengan baik. Seperti apa medannya, seperti apa bentuknya, peliputannya seperti apa, memang harus dimitigasi dengan lebih baik lagi ke depan,” katanya.
Sardi menambahkan, keselamatan bukan hanya menjadi tanggung jawab perusahaan pers. Jurnalis sebagai individu dan organisasi profesi juga memiliki peran dalam memahami kondisi lapangan.
“Tidak hanya perusahaan pers yang harus berbenah, tapi bagi diri kita sendiri juga, individu profesi, memang karena kita yang di lapangan jadi banyak lebih mengenal atau lebih mengetahui bagaimana medannya di lapangan,” ujarnya.
Ia berharap peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi bersama bagi insan pers, khususnya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
“Kami juga tidak mengharapkan ada peristiwa seperti yang dialami oleh lima rekan kita itu. Tapi bagaimana dari peristiwa ini kita bisa belajar,” katanya.
Sardi menegaskan keselamatan tidak boleh dikorbankan demi mendapatkan informasi dari lokasi bencana.
“Kita tidak hanya mengejar suatu berita untuk informasi publik, tapi tidak ada berita seharga nyawa,” tegasnya.
Ia juga mendorong organisasi profesi memberikan pembekalan mengenai mitigasi risiko dan penerapan protokol keselamatan untuk peliputan bencana di berbagai medan.
“Bagaimana caranya organisasi profesi ini juga bisa terlibat dalam memberikan pembekalan, pemahaman, bagaimana mitigasinya menerapkan safety protocol saat peliputan bencana, entah itu peliputan bencana di gunung, laut, di udara,” ujarnya.
Kapolresta Gowa Ingatkan Keselamatan Jurnalis
Kapolresta Gowa Kombes Pol Muh Yusuf Usman mengapresiasi inisiatif IJTI Sulselbar menggelar doa bersama.
“Alhamdulillah saya mengucapkan terima kasih atas inisiatif dari rekan-rekan, tentunya berkolaborasi dengan teman-teman kepolisian khususnya Polresta Gowa untuk kita laksanakan kegiatan doa bersama,” kata Yusuf.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap para jurnalis yang menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Sebagai bentuk keprihatinan kita dan rasa belasungkawa kita terhadap saudara-saudara kita yang kemarin melaksanakan tugas, melaksanakan peliputan erupsi Anak Gunung Krakatau, dan sampai mengorbankan jiwa dan raganya,” ujarnya.
Yusuf mengingatkan insan pers agar selalu menempatkan keselamatan sebagai prioritas saat bertugas di lapangan.
“Kami juga berpesan kepada teman-teman jurnalis bahwa keselamatan juga menjadi hal yang utama ketika rekan-rekan semua melaksanakan tugasnya,” katanya.
“Perhatikan keselamatan dan tentu kita dapat melihat potensi-potensi bahaya yang dapat mengancam kita dengan tugas-tugas yang kita bisa hadapi kapan saja,” sambungnya.
Ia berharap komunikasi dan kolaborasi antara kepolisian dan insan pers terus terjalin.
Kegiatan solidaritas tersebut turut dihadiri Wakil Rektor II UMI Zakir Sabara, serta sejumlah pejabat utama Polresta Gowa.
Penulis: Anca/Str
PEMBERITAHUAN HAK CIPTA: Seluruh konten yang dipublikasikan di Majesty.co.id dilindungi dan tidak diperkenankan untuk diambil, disalin, didistribusikan, dipublikasikan ulang, maupun digunakan untuk keperluan crawling atau pengindeksan otomatis oleh sistem AI tanpa izin tertulis dari Redaksi Majesty.co.id.
