BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla Sulsel: Wilayah Maros Kekeringan Ekstrem, 61 Hari Tanpa Hujan
3 min read
Ilustrasi kekeringan. (Foto: Canva)
Majesty.co.id, Makassar – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sulawesi Selatan selama periode Agustus hingga Oktober 2026.
Salah satu wilayah yang menjadi sorotan BMKG adalah Kabupaten Maros, yang mencatat hari tanpa hujan (HTH) terpanjang di Sulsel.
Peringatan tersebut tertuang dalam Surat BMKG Makassar tentang Informasi Siaga Potensi Karhutla yang ditujukan kepada pemerintah daerah.
BMKG menyebutkan hasil pemantauan cuaca, analisis iklim, pemantauan titik panas (hotspot), serta prakiraan iklim menunjukkan sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan telah memasuki musim kemarau.
“Dari hasil analisis BMKG, sebanyak 20 dari 24 Zona Musim (ZOM) di Provinsi Sulawesi Selatan telah memasuki musim kemarau. Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026,” demikian keterangan BMKG Makassar dikutip pada Kamis (6/8/2026).
BMKG juga mengungkapkan, berdasarkan pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH), wilayah Sulawesi Selatan bagian selatan dan barat telah mengalami kondisi tidak turun hujan selama 30 hingga 61 hari berturut-turut.
Kondisi tersebut menjadi indikasi berkembangnya kekeringan meteorologis yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Wilayah dengan kondisi paling ekstrem tercatat berada di Pattene, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros.
BMKG mencatat HTH terpanjang mencapai 61 hari berturut-turut dengan kategori Kekeringan Ekstrem, menjadikannya wilayah tanpa hujan terlama di Sulawesi Selatan saat ini.
“Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut (HTH) menunjukkan HTH terpanjang terjadi di Pattene Marusu, Kabupaten Maros selama 61 hari berturut-turut dengan kriteria Kekeringan Ekstrem,” tulis BMKG.
BMKG menjelaskan, kondisi minim hujan tersebut menyebabkan kadar air tanah dan vegetasi terus menurun sehingga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, hasil pemantauan juga menunjukkan adanya sebaran titik panas (hotspot) di sejumlah kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
Berdasarkan prakiraan curah hujan bulanan, sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan diperkirakan mengalami curah hujan kategori rendah sepanjang Agustus hingga Oktober 2026.
Sementara itu, perkembangan iklim global menunjukkan fenomena El Nino berpotensi mencapai kategori sangat kuat dan Dipole Mode berpeluang memasuki fase positif.
“Kondisi tersebut dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang durasi musim kemarau di wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ujar BMKG dalam keterangannya.
Atas kondisi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan seperti Kabupaten Maros.
Pencegahan sejak dini dinilai menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko kebakaran selama puncak musim kemarau berlangsung.
