22/08/2026

Majesty.co.id

News and Value

Data BPBD Sulsel: Karhutla Hancurkan 1.607 Hektare Hutan sejak Januari-Agustus

2 min read
Berdasarkan rekapitulasi data BPBD Sulsel, tercatat sebanyak 112 kejadian Karhutla yang melanda 15 kabupaten dan kota sepanjang 2026 ini.
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (Foto: Canva)

Majesty.co.id, Makassar — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan merilis data resmi penanganan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) untuk periode Januari hingga Agustus 2026.

Berdasarkan rekapitulasi data BPBD Sulsel yang dirilis pada Jumat (21/8/2026), tercatat sebanyak 112 kejadian Karhutla yang melanda 15 kabupaten dan kota sejak Januari.

Dampak dari rentetan Karhutla tersebut menghanguskan total luas area mencapai 1.613,67 hektare.

Luas area yang terbakar di Sulsel periode Januari-Agustus 2026, terdiri dari 1.607,92 hektare hutan dan lahan serta 5,75 hektare area perkebunan warga.

Kepala BPBD Sulsel Amson Padolo mengatakan, Karhutla pada sejumlah daerah tersebut diduga berawal dari pembukaan lahan maupun hanya membakar sampah.

“Ada beberapa kejadian yang mungkin saja hanya bermaksud untuk membuka lahan, membakar sampah, tapi karena cuaca ekstrem itu membuat mudahnya itu terbakar. Ada beberapa kejadian begitu,” kata Amson Padolo saat dihubungi, Jumat.

Terbanyak di Enrekang


Kabupaten Enrekang menjadi wilayah terdampak terparah dengan Karhutla mencapai 1.044,55 hektare dari 10 kejadian.

Wilayah lain yang mengalami kerusakan lahan cukup signifikan di antaranya Kabupaten Barru seluas 315 hektar (5 kejadian) dan Kabupaten Tana Toraja seluas 126 hektare (11 kejadian).

Selain memicu kerusakan lingkungan, bencana Karhutla periode ini juga berdampak pada pemukiman warga.

Kota Palopo mencatatkan dampak sosial tertinggi, di mana selain 10 kejadian Karhutla yang menghanguskan 1,25 hektare kebun dan 3,5 hektare hutan/lahan. Peristiwa di wilayah ini berdampak pada 7 Kepala Keluarga (KK).

Sementara itu, di Kabupaten Bantaeng tercatat ada 4 KK yang terdampak dari 2 kejadian kebakaran, dan 1 KK di Kabupaten Bone dari 1 kejadian. Secara keseluruhan, sebanyak 12 KK terdampak Karhutla sejak Januari-Agustus 2026.

Bencana ini turut merusak fasilitas dan sarana fisik warga, dengan total kerusakan sarana mencapai 39 unit. Kerusakan sarana terbanyak berada di Kabupaten Barru sebanyak 37 unit dan Kabupaten Luwu Utara sebanyak 2 unit.

Puncak intensitas kejadian Karhutla secara umum terkonsentrasi pada periode musim kemarau, khususnya di bulan Juli dan Agustus.

Kota Parepare mencatatkan frekuensi kejadian tertinggi dengan 25 kali peristiwa kebakaran hutan dan lahan, disusul Kabupaten Pinrang sebanyak 18 kejadian.

BPBD Sulsel terus mengimbau masyarakat dan pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan guna mencegah potensi timbulnya titik api baru.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.