21/08/2026

Majesty.co.id

News and Value

Suara Kritis Aktivis NU Sulsel: Sampai Kapan Ketum PBNU bukan dari Luar Jawa?

2 min read
Menurut Makmur Idrus, sudah 42 tahun Ketum PBNU bukan dari luar Pulau Jawa. Ia mengigatkan kepemimpinan K.H Idham Chalid.
Aktivis NU Sulsel, Makmur Idrus. (Foto: AI Generate/IST)

Majesty.co.id, Makassar — Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Selatan, Makmur Idrus, menilai Muktamar ke-35 menjadi momentum penting untuk membuka kembali ruang kepemimpinan PBNU bagi kader-kader terbaik dari luar Pulau Jawa.

Makmur Idrus yang juga Mantan Sekretaris Pengurus Wilayah GP Ansor Sulsel, mengingatkan, sejak K.H Idham Chalid mengakhiri masa kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PBNU pada 1984, sekitar 42 tahun belum ada lagi figur luar Jawa yang memimpin Tanfidziyah PBNU.

“Kiyai Idham Chalid telah membuktikan bahwa putra luar Jawa mampu memimpin NU selama 28 tahun. Sekarang sudah 42 tahun berlalu. Pertanyaannya, sampai kapan?” ujar Makmur Idrus dalam keterangannya di Makassar, Jumat (21/8/2026).

Pertanyaan menggugah dari Makmur Idrus bukan untuk mempertentangkan kader di Jawa dan luar Jawa. Yang perlu dibangun adalah kesetaraan kesempatan bagi kader NU dari seluruh Indonesia.

“NU adalah milik Nusantara. Jangan sampai luar Jawa hanya menjadi lumbung suara ketika Muktamar, tetapi tidak mendapat ruang yang seimbang dalam kepemimpinan nasional,” tegas mantan auditor senior itu.

Makmur berharap PWNU dan PCNU luar Jawa berani membangun konsolidasi berbasis gagasan, bukan semata-mata kepentingan kandidat.

Ia menegaskan, ukuran utama tetaplah kapasitas, integritas, keulamaan, pengalaman organisasi dan penerimaan secara nasional.

“Kalau ada kader luar Jawa yang memenuhi syarat dan mampu memimpin NU secara nasional, mengapa tidak? Luar Jawa harus berani menjadi sumber gagasan, kader sekaligus kepemimpinan,” tegasnya.

Mantan Ketua GP Ansor Makassar itu menilai, Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk mempertegas bahwa kesempatan memimpin PBNU terbuka bagi seluruh kader terbaik NU.

“Bukan Jawa melawan luar Jawa. Ini tentang pemerataan kesempatan. Kalau KH Idham Chalid dulu bisa, mengapa sekarang tidak?” pungkas Makmur.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.