Pemkot Makassar Tertarik Adopsi Teknologi SOMYA untuk Kelola Sampah
4 min read
Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham (kanan) dalam kunjungannya di pabrik pengolahan sampah di Denpasar, Bali (Foto: Humas Diskominfo Makassar)
Majesty.co.id, Denpasar – Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, melakukan kunjungan dan konsultasi ke PT Enviro Mas Sejahtera di Denpasar, Bali, Minggu (5/7/2026).
Kunjungan itu untuk mempelajari inovasi dan teknologi pengelolaan sampah PT Enviro Mas yang dapat diterapkan di Kota Makassar.
Kunjungan di Kantor PT Enviro Mas Sejahtera, ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Makassar memperkuat sistem pengelolaan sampah yang modern, efektif, dan berkelanjutan.
Aliyah didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman.
Rombongan menerima pemaparan dari Direktur PT Enviro Mas Sejahtera sekaligus pencipta teknologi SOMYA Digester, Agung Ngurah Panji Astika, mengenai sistem pengolahan sampah organik berbasis teknologi ramah lingkungan.
Aliyah mengatakan persoalan sampah merupakan isu strategis yang membutuhkan inovasi dan kolaborasi berbagai pihak.
Karena itu, Pemkot Makassar terus membuka ruang belajar dari daerah maupun mitra yang telah berhasil mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang efektif.
“Kunjungan ini merupakan bagian dari ikhtiar Pemerintah Kota Makassar untuk mempelajari praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan sampah,” kata Aliyah dalam keterangan tertulis.
“Kami berharap berbagai inovasi yang diperoleh dapat menjadi referensi sekaligus bahan evaluasi dalam memperkuat sistem pengelolaan persampahan di Kota Makassar sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat,” ujar Aliyah.
Sementara itu, Kepala DLH Makassar Helmy Budiman menilai teknologi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari upaya penyelesaian persoalan sampah di Kota Makassar.
Menurutnya, kondisi persampahan di Makassar saat ini membutuhkan berbagai inovasi, terutama untuk menangani sampah organik yang mendominasi timbulan sampah harian.
“Persoalan sampah sudah menjadi kondisi darurat, termasuk di Makassar. Karena itu kita membutuhkan banyak teknologi dan berharap teknologi SOMYA ini nantinya juga dapat hadir di Makassar,” katanya.
“Hasil kunjungan ini akan kami laporkan kepada Bapak Wali Kota bersama Tim Percepatan Pembangunan Daerah sebagai bahan pertimbangan untuk pengembangan sistem pengelolaan sampah di Kota Makassar,” kata Helmy.
Ia menjelaskan sekitar 56 hingga hampir 60 persen timbulan sampah di Makassar merupakan sampah organik yang membutuhkan penanganan berbasis teknologi.
“Kalau seluruh persoalan sampah tidak diselesaikan dengan teknologi, tentu akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Karena itu kami terus mencari berbagai inovasi yang dapat mempercepat penyelesaiannya,” jelasnya.
Helmy juga mengungkapkan bahwa Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Makassar masih menggunakan sistem open dumping dan saat ini tengah menjalani proses pembenahan setelah menerima sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup.
“Mudah-mudahan pada Agustus nanti sistem open dumping dapat ditutup sepenuhnya. Ke depan TPA hanya menerima sampah residu, sedangkan sampah organik akan diolah sejak dari sumber melalui pemilahan dan pengolahan yang lebih baik. Karena itu teknologi seperti SOMYA menjadi salah satu solusi yang sangat menarik untuk dipelajari,” tambahnya.
Direktur PT Enviro Mas Sejahtera, Agung Ngurah Panji Astika, menyambut baik kunjungan Pemerintah Kota Makassar dan berharap teknologi yang dikembangkan perusahaannya dapat diterapkan di berbagai daerah.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan Ibu Wakil Wali Kota Makassar beserta jajaran. Harapan kami, teknologi SOMYA tidak hanya digunakan di Bali, tetapi juga dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Apalagi pemerintah telah mendorong penghentian sistem open dumping, sehingga daerah membutuhkan teknologi yang mampu menyelesaikan persoalan sampah secara cepat dan efektif,” ujar Agung.
Menurut Agung, SOMYA Digester mampu mengolah sampah organik menjadi kompos hanya dalam waktu empat hingga delapan jam.
Hal itu, jauh lebih cepat dibanding metode komposting konvensional yang membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan.
“Teknologi ini juga mampu mereduksi volume sampah hingga hampir 90 persen. Dari 100 kilogram sampah yang masuk, hanya tersisa sekitar 10 kilogram hasil olahan. Selain itu, prosesnya tidak menggunakan pembakaran sehingga tidak menghasilkan emisi karbon, tidak menimbulkan gas metana maupun hidrogen sulfida penyebab bau,” jelasnya.
Ia menambahkan, mesin tersebut telah dilengkapi teknologi Human Machine Interface (HMI) berbasis layar sentuh sehingga mudah dioperasikan dan dapat ditempatkan langsung di sumber sampah seperti hotel, restoran, rumah sakit, kawasan komersial, maupun fasilitas publik lainnya.
“Keunggulan lainnya, mesin ini dapat ditempatkan langsung di lokasi sumber sampah sehingga pengolahan dapat dilakukan sejak dari sumbernya. Inilah yang kami harapkan dapat menjadi solusi bagi kota-kota di Indonesia dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan,” tutup Agung.
