Amerika-Iran Masih Berunding: Negosiasikan Selat Hormuz hingga Kompensasi Perang
3 min read
Islamabad Talks sebagai tajuk perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran di Islamabad, Pakistan. (Foto: Media Sosial X/IRIMFA)
Majesty.co.id, Islamabad – Pemerintah Republik Islam Iran memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan negosiasi gencatan senjata dengan Amerika Serikat yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Perundingan intensif Amerika-Iran yang dimulai sejak Sabtu (11/4/2026), melibatkan pertukaran pesan dan dokumen penting di bawah mediasi pemerintah Pakistan. Negosiasi ini bertajuk “Islamabad Talks.”
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan diplomasi bagi Teheran adalah kelanjutan dari jihad suci para pembela tanah Iran.
Menurutnya, perundingan ini merupakan upaya diplomatik untuk melindungi hak dan kepentingan nasional Iran di tengah konflik yang tengah berlangsung.
“Hari ini merupakan hari yang panjang dan penuh aktivitas bagi delegasi Republik Islam Iran di Islamabad. Para perunding Iran memanfaatkan seluruh kemampuan, pengalaman, dan pengetahuan mereka untuk melindungi hak dan kepentingan Iran,” tulis Esmaeil Baghaei melalui media sosial X, Minggu (12/4/2026).
Meski menempuh jalur diplomasi, Teheran menegaskan tetap waspada dan tidak melupakan pengalaman masa lalu terkait hubungan dengan Washington.
Baghaei menekankan bahwa pihaknya tidak akan melupakan rekam jejak Amerika dalam berunding membahas nuklir Iran sebelum negeri Paman Sam menyerang Teheran.
“Kami tidak melupakan dan tidak akan pernah melupakan pengalaman pengingkaran janji serta itikad buruk Amerika Serikat. Tidak ada apa pun yang dapat dan boleh menghalangi kami dalam menjalankan misi besar historis kami terhadap tanah air tercinta dan peradaban mulia Iran,” tegas Esmaeil.
Dalam 24 jam terakhir, perundingan tersebut mencakup berbagai isu krusial dan strategis bagi kedua belah pihak.
Beberapa poin utama yang dibahas meliputi pengamanan Selat Hormuz, isu nuklir, kompensasi perang, pencabutan sanksi, hingga tuntutan penghentian total perang terhadap Iran maupun di kawasan sekitar.
Esmaeil menambahkan bahwa Iran bertekad menggunakan seluruh instrumen nasional, termasuk jalur diplomasi, untuk menjaga kedaulatan negara.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan proses ini sangat bergantung pada sikap pihak lawan.
“Keberhasilan proses diplomatik ini bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan, serta pada penghindaran tuntutan berlebihan dan tidak sah, serta pengakuan atas hak-hak yang sah dan kepentingan legitim Iran,” tandasnya.
Di akhir pernyataannya, Pemerintah Iran menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada pemerintah dan rakyat Republik Islam Pakistan atas peran aktif mereka sebagai mediator serta kesediaannya menjadi tuan rumah dalam proses perdamaian yang krusial ini.
Perundingan ini dijadwalkan akan tuntas hingga 2 pekan selama gencatan senjata Amerika-Iran.
Sebelumnya, lembaga penyiaran milik pemerintah Iran merilis rincian 10 butir syarat gencatan senjata yang diajukan Teheran:
1. Penghentian total perang di Irak, Lebanon, dan Yaman
2. Penghentian perang terhadap Iran secara menyeluruh dan permanen tanpa batas waktu
3. Akhir seluruh konflik di kawasan secara menyeluruh
4. Pembukaan kembali Selat Hormuz
5. Pembentukan protokol dan persyaratan untuk menjamin kebebasan serta keamanan navigasi di Selat Hormuz
6. Pembayaran penuh kompensasi biaya rekonstruksi kepada Iran
7. Komitmen penuh untuk mencabut sanksi terhadap Iran
8. Cabut pembekuan dana dan aset Iran yang ditahan oleh Amerika
9. Komitmen penuh Iran untuk tidak mengupayakan kepemilikan senjata nuklir
10. Gencatan senjata segera berlaku di seluruh lini begitu seluruh persyaratan di atas disetujui.
