Tolak Ekspansi Tambang PT Vale, Petani Loeha Raya Lebih Tergiur Merica Hasilkan Uang Triliunan
2 min read
Ketua Asosiasi Petani Lada Loeha Raya di Luwu Timur, Ali Kamri Nawir (kedua kiri) dalam konferensi pers di Kota Makassar. (Foto: Majesty.co.id/Arya)
Majesty.co.id, Makassar – Hasil pertanian Lada atau Merica lebih menjanjikan dibanding tambang yang membawa kerusakan alam.
Hal itu ditegaskan Ketua Asosiasi Petani Lada Loeha Raya di Luwu Timur, Ali Kamri Nawir dalam konferensi pers di Kota Makassar, Selasa (14/6/2026).
Ali menyebut, valuasi ekonomi merica di Loeha Raya bisa mencapai angka Rp1,5 triliun khususnya pada Desa Loeha dan Rante Anging, Towuti.
Valuasi ekonomi merica menjadi alasan logis petani tetap menolak dan melawan, ekspansi tambang PT Vale Indonesia di Blok Tanamalia.
Ali bahkan mengklaim valuasi total ekonomi mencapai Rp6 triliun dari hasil produksi hingga distribusi merica setiap tahunnya.
Pernyataan Ali Kamri merujuk riset valuasi ekonomi petani Merica di Loeha Raya yang dilakukan Wahan Lingkungan Hidup atau Walhi Sulsel pada 2023.
Ia menyebut, satu pohon merica pada dua desa tersebut bisa menghasilkan 3 sampai 5 Kilogram setiap kali panen.
Dengan asumsi harga satu kilo merica Rp120 ribu sampai Rp150 ribu, maka satu hektare kebun dengan 2 ribu pohon, bisa menghasilkan Rp2,5 miliar lebih setiap tahun.
“Itulah hasil maksimal yang yang diterima oleh masyarakat dalam satu rumah tangga setiap tahun kalau dia punya satu hektar,” ujar Ali Kamri.
Saat ini kata Ali Kamri, luas kebun merica petani di Blok Tanamalia seluas 9 ribu hektare. Rata-rata petani menggarap 2 hingga 5 hektare.
“Kalau saya cuma 3 hektar. Tiga hektar itu hektar itu sekitar 7 ribu pohon lah,” imbuh Ali Kamri.
Belum lagi jumlah tenaga kerja yang terserap untuk kebun merica tersebut. Jumlahnya kata Ali sebanyak 20 ribu pekerja dengan upah Rp100 ribu per hari.
Dengan potensi langsung ekonomi merica, masyarakat Loeha Raya menolak dan tetap melawan ekspansi tambang PT Vale Indonesia di blok Tanamalia.
Blok Tanamalia merupakan wilayah izin usaha pertambangan PT Vale Indonesia. Luasnya mencapai 17.776,78 hektare.
Meski demikian Ali mengakui bahwa ada beberapa petani yang melepas lahannya ke perusahaan. Beberapa di antaranya, sudah “sadar” hingga kembali ke barisan warga petani Loeha Raya.
“Tapi kalau kami, saya sendiri, sudah siap hidup mati dalam perjuangan ini. Saya selalu meminta kepada Allah agar ditempatkan pada tempat terbaik di sisi Nya,” pungkas Ali Kamri.
