06/02/2026

Majesty.co.id

News and Value

PATBM-Mahasiswa di Burau Lutim masuk Sekolah Kampanye Setop Perundungan

2 min read
PATBM menggelar sosialisasi "STOP Bullying" di SD Negeri 110 Saele dan SD Negeri 108 Bone Pute, Burau
Sosialisasi stop perundungan yang digelar Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat atau PATBM di sekolah-sekolah, Burau, Lutim. (Foto: Istimewa/HO)

Majesty.co.id, Luwu Timur — Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak terus digalakkan mulai dari tingkat desa di Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur (Lutim).

Itu dilakukan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) Desa Asana dan Desa Bone Pute.

PATBM menggelar sosialisasi “STOP Bullying” atau Setop Perundungan di SD Negeri 110 Saele dan SD Negeri 108 Bone Pute, Burau.

Kegiatan yang dilaksanakan pada awal Februari 2026 ini menyasar siswa kelas IV, V, dan VI.

IMG_20260206_005105
PlayPause
previous arrow
next arrow
Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Program ini bertujuan membekali siswa dengan pemahaman mengenai bentuk-bentuk perundungan serta langkah mitigasi jika hal tersebut terjadi.

Berbeda dengan sosialisasi formal, kegiatan yang berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) ini dikemas secara interaktif.

Siswa diajak mengenali berbagai macam emosi melalui metode role play untuk menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.

Materi yang disampaikan mencakup cara menghadapi pelaku perundungan secara tepat dan diakhiri dengan pembuatan komitmen bersama untuk menjaga sekolah tetap aman dan nyaman.

Kepala SDN 110 Saele, Asriani, menyambut baik kolaborasi ini dan berharap jangkauan sosialisasi bisa diperluas di masa mendatang.

“Kami sangat menyambut baik kegiatan kolaborasi ini. Harapannya ke depan bisa menjangkau lebih banyak anak,” ujar Asriani dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026).

Senada dengan itu, Kepala SDN 108 Bone Pute, Mukaddis, menilai metode yang digunakan sangat efektif bagi anak usia sekolah dasar.

“Saya sangat senang karena sosialisasi bullying dikemas dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan situasi anak-anak, sehingga materi mudah dipahami,” tuturnya.

Melalui gerakan berbasis masyarakat ini, diharapkan budaya sekolah ramah anak dapat tertanam sejak dini guna memutus mata rantai perundungan di lingkungan pendidikan.


Penulis: Huzein

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.