Guru Sekolah Rakyat Takalar Didorong Ajarkan Bahasa Inggris Berbasis Kewirausahaan
4 min read
Pelatihan guru Sekolah Rakyat Takalar tentang penyusunan modul ajar Bahasa Inggris berbasis kewirausahaan. (Foto: Istimewa)
Majesty.co.id, Takalar — Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Rakyat Takalar didorong tidak berhenti pada penguasaan bahasa, tetapi juga mampu membekali siswa dengan keterampilan kewirausahaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hal itu menjadi fokus pelatihan penyusunan modul ajar Bahasa Inggris berbasis kewirausahaan yang diikuti 15 guru Sekolah Rakyat Takalar Nomor 1 atau SRT No.1 Takalar pada 13-14 Agustus 2026.
Pelatihan tersebut menghadirkan dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) Muhalim, dan Fauzan Hari Sudding sebagai pemateri.
Muhalim juga sekaligus bertindak sebagai ketua tim pengabdian kepada masyarakat dalam kegiatan tersebut.
Muhalim mengatakan, pengembangan modul ajar berbasis kewirausahaan penting agar pembelajaran Bahasa Inggris lebih kontekstual dan memiliki keterkaitan dengan keterampilan hidup yang dibutuhkan peserta didik.
Menurutnya, guru perlu memiliki kemampuan mengembangkan materi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari dengan total 32 jam tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun bahan ajar yang aplikatif sekaligus relevan dengan karakteristik peserta didik Sekolah Rakyat.
“Pembelajaran Bahasa Inggris dapat menjadi ruang untuk mengenalkan keterampilan kewirausahaan kepada siswa, terutama dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan mereka,” kata Muhalim dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
SRT No. 1 Takalar merupakan sekolah yang melayani peserta didik dari keluarga prasejahtera hingga miskin ekstrem.
Berdasarkan data awal pelatihan, sebanyak 86,7 persen guru belum memiliki materi maupun metode untuk mengintegrasikan keterampilan kewirausahaan ke dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.
Sementara itu, 93,3 persen guru menyatakan ingin mengikuti pelatihan pengembangan diri, tetapi terkendala biaya dan akses.
Dalam pelatihan tersebut, guru diperkenalkan dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Project-Based Learning (PjBL).
Kedua pendekatan tersebut digunakan untuk mendorong pembelajaran yang lebih partisipatif dan mengurangi ketergantungan pada pola teacher-centered.
Materi yang diberikan mencakup integrasi nilai kewirausahaan, practical English for business, pemetaan potensi lokal, penyusunan dialog dan teks, pengembangan tugas proyek, micro-teaching, hingga desain modul menggunakan Microsoft Word dan Canva.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta. Rata-rata skor pre-test sebesar 56,4 meningkat menjadi 82,7 pada post-test, atau naik 46,6 persen.
Seluruh peserta juga berhasil menyusun sedikitnya satu draf unit modul ajar dengan rata-rata skor kelayakan mencapai 86,1.
Dari pelatihan tersebut, guru menghasilkan 15 draf unit modul ajar, 12 contoh dialog komunikasi bisnis, enam teks deskriptif produk lokal, empat rancangan proyek pembelajaran, dan lima unit komunikasi bisnis sederhana.
Pada sesi micro-teaching, rata-rata skor peserta mencapai 84,2. Sebanyak 14 dari 15 peserta atau 93,3 persen berada dalam kategori baik atau sangat baik.
Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian dari pelatihan. Seluruh peserta mampu menyimpan modul dalam format digital, sementara 13 peserta mampu mendesain aktivitas pembelajaran secara mandiri menggunakan Canva.
Muhalim mengatakan, salah satu keunggulan pendekatan yang digunakan dalam pelatihan tersebut adalah materi Bahasa Inggris dapat dikembangkan berdasarkan potensi lokal yang ada di Takalar.
Potensi pertanian, perikanan, rumput laut, makanan lokal, hingga kerajinan dapat dijadikan sumber pembelajaran.
Guru, misalnya, dapat mengajarkan siswa mendeskripsikan produk, menawarkan barang, melakukan tawar-menawar, hingga membuat promosi sederhana menggunakan Bahasa Inggris.
“Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar kosakata dan struktur bahasa, tetapi juga memahami bagaimana Bahasa Inggris dapat digunakan dalam aktivitas ekonomi sederhana,” jelas Muhalim.
Hasil angket menunjukkan 93,3 persen peserta menyatakan sangat puas terhadap pelaksanaan kegiatan, sedangkan 6,7 persen menyatakan puas.
Lebih lanjut, Muhalim menyebut, seluruh peserta juga menilai integrasi kewirausahaan dalam pembelajaran Bahasa Inggris relevan dengan kebutuhan siswa Sekolah Rakyat.
Program tersebut akan dilanjutkan melalui pembentukan teacher learning community.
Komunitas ini menjadi wadah bagi guru dan tim pengabdi untuk berbagi materi, mendiskusikan pengalaman penggunaan modul, serta melakukan penyempurnaan bahan ajar secara berkelanjutan.
Tim pengabdi terdiri atas tiga dosen dan dua mahasiswa pendamping dari UNM.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. (*)
PEMBERITAHUAN HAK CIPTA: Seluruh konten yang dipublikasikan di Majesty.co.id dilindungi dan tidak diperkenankan untuk diambil, disalin, didistribusikan, dipublikasikan ulang, maupun digunakan untuk keperluan crawling atau pengindeksan otomatis oleh sistem AI tanpa izin tertulis dari Redaksi Majesty.co.id.
