Dua Pesan Tegas HIPMI Luwu Timur sikapi Konflik Proyek PT IHIP
2 min read
Ketua BPC HIPMI Luwu Timur, Wahyu Maizal. (Foto: Istimewa/HO)
Majesty.co.id, Luwu Timur – BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Luwu Timur menyatakan dukungan terhadap investasi proyek smelter PT Indonesia Huali Industry Park (IHIP) di Laoli, Desa Harapan, Malili.
Meski demikian, HIPMI menegaskan investasi harus berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat dan pemberdayaan pengusaha lokal Luwu Timur.
Ketua BPC HIPMI Luwu Timur, Wahyu Maizal, mengatakan pihaknya terus mencermati dinamika yang terjadi di kawasan Laoli, Desa Harapan, Kecamatan Malili.
Menurutnya, persoalan yang berkembang di kawasan proyek pemurnian nikel tersebut perlu diselesaikan secara bijaksana, transparan, dan berkeadilan bagi seluruh pihak.
Pada prinsipnya, HIPMI Luwu Timur mendukung penuh masuknya investasi di daerah, termasuk kehadiran PT IHIP.
Menurut Wahyu, investasi berskala besar memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.
“Kami meyakini bahwa hadirnya investasi skala besar adalah motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi lokal, pembuka lapangan kerja, serta penstimulus lahirnya ekosistem usaha baru di Luwu Timur,” kata Wahyu Maizal dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/8/2026).
Meski begitu, Wahyu menegaskan dukungan terhadap investasi harus dibarengi dengan komitmen moral dan sosial.
Menurutnya, investasi yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila PT IHIP mengedepankan dua pilar utama.
Pilar pertama, adalah kesejahteraan masyarakat lokal. Wahyu menilai masyarakat di sekitar kawasan operasional harus merasakan manfaat langsung dari kehadiran investasi.
Hak-hak warga, keharmonisan sosial, serta ruang hidup masyarakat harus dihormati dan dilindungi dalam setiap tahapan operasional perusahaan.
Pilar kedua adalah pemberdayaan pengusaha daerah. HIPMI Luwu Timur meminta PT IHIP membuka ruang kemitraan yang adil dan proporsional bagi pelaku usaha lokal.
“Kedua pemberdayaan pengusaha daerah. PT IHIP harus membuka ruang kemitraan yang adil dan proposional bagi pengusaha lokal Luwu Timur,” tegas alumni Fakultas Hukum Unhas tersebut.
“Pengusaha daerah tidak boleh hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri, melainkan harus dilibatkan aktif sebagai mitra strategis dalam rantai pasok (supply chain) maupun pengerjaan proyek-proyek pendukung.”
HIPMI Luwu Timur juga mengajak pemerintah daerah, manajemen PT IHIP, dan tokoh masyarakat untuk mengedepankan dialog yang terbuka, konstruktif, dan mengutamakan penyelesaian secara damai.
Menurut Wahyu, solusi yang diambil harus mampu menjaga iklim investasi tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat dan pelaku usaha lokal.
“HIPMI Luwu Timur siap menjadi jembatan komunikasi dan pengawal kemitraan ini demi terwujudnya investasi yang ramah, inklusif, dan menyejahterakan Bumi Batara Guru,” pungkas Wahyu.
