KKLR Sulsel Prihatin Krisis Air di Palopo hingga Mahasiswa Demo Dipukul
4 min read
Ketua BPW KKLR Sulsel, Hasbi Syamsu Ali. (Foto: Ist)
Majesty.co.id, Palopo — Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu Raya (BPW KKLR) Sulawesi Selatan menyatakan keprihatinan atas kericuhan dalam aksi Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) Luwu Raya di Kantor PDAM Kota Palopo pada 2–3 November 2026.
Dalam insiden tersebut, puluhan mahasiswa yang demo dilaporkan mengalami luka diduga dipukul karyawan PDAM Palopo.
KKLR Sulsel mengimbau seluruh pihak menahan diri dan mengedepankan nilai kearifan lokal Luwu Raya, yakni sipakatau (saling memanusiakan) dan sipakalebbi (saling memuliakan).
Seruan itu disampaikan Ketua BPW KKLR Sulsel, Hasbi Syamsu Ali, dari Inggris, Selasa (3/11/2026). Pernyataan tersebut mewakili pengurus dan keluarga besar Luwu Raya di perantauan.
Hasbi mengatakan, persoalan pelayanan air bersih yang melatarbelakangi aksi mahasiswa merupakan masalah serius yang harus mendapat perhatian.
Namun, penyampaian aspirasi maupun respons terhadap kritik tidak semestinya berujung pada kekerasan.
“Kami sangat prihatin. Mahasiswa adalah anak-anak kita, dan karyawan serta petugas keamanan Perumda juga saudara kita sendiri. Tidak ada yang diuntungkan ketika sesama keluarga Luwu Raya saling melukai,” ujar Hasbi.
Ia menegaskan, hak masyarakat menyampaikan pendapat harus dihormati. Keluhan terkait kebutuhan dasar seperti air bersih juga harus didengar dan dijawab melalui langkah konkret.
“Menyampaikan pendapat adalah hak warga negara dan harus dihormati. Keluhan soal air bersih harus didengar dan dijawab dengan langkah konkret, bukan dengan kekerasan,” lanjutnya.
KKLR turut menyampaikan simpati kepada mahasiswa yang mengalami luka dan berharap seluruh korban segera pulih.
Jaga Nilai Sipakatau dan Sipakalebbi
Hasbi mengingatkan bahwa Palopo, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur merupakan satu kesatuan kultural yang diikat oleh nilai persaudaraan.
Karena itu, perbedaan pandangan dan kepentingan tidak seharusnya merusak hubungan antarsesama warga Luwu Raya.
“Dalam keluarga, perbedaan pendapat boleh keras, tetapi harus diselesaikan dengan duduk bersama. Nilai sipakatau (saling memanusiakan) dan sipakalebbi (saling memuliakan) yang kita warisi dari leluhur harus hidup di saat seperti ini,” katanya.
Menurut Hasbi, kedua nilai tersebut tidak cukup hanya menjadi semboyan atau identitas budaya.
Nilai itu harus tercermin dalam sikap dan tindakan, terutama ketika masyarakat menghadapi persoalan yang memicu perbedaan pendapat.
KKLR juga mengingatkan masyarakat agar bijak menyikapi informasi dan rekaman kericuhan yang beredar di media sosial. Informasi yang belum terverifikasi dan komentar provokatif dikhawatirkan memperkeruh suasana.
Persoalan Air Bersih Harus Tetap Diselesaikan
Di tengah situasi tersebut, KKLR menilai persoalan pelayanan air bersih di Kota Palopo tidak boleh kehilangan perhatian. Pemerintah daerah dan manajemen PAM-TM didorong menjadikan aspirasi masyarakat sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan.
Hasbi secara khusus mengingatkan bahwa kondisi kekeringan akibat El Nino dapat memperberat persoalan ketersediaan air bersih dan meningkatkan kerentanan masyarakat.
“Dalam kondisi seperti ini, kita harus saling menjaga, bukan saling menyalahkan,” ujarnya.
KKLR juga menghormati langkah perwakilan GAM Luwu Raya yang telah mendatangi Polres Palopo untuk menyampaikan laporan dan menjalani visum.
Hasbi berharap setiap laporan diproses berdasarkan bukti secara profesional, adil, dan tanpa tekanan dari pihak mana pun.
Di sisi lain, KKLR menyebut manajemen PAM-TM belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut hingga pernyataan disampaikan. Organisasi itu meminta semua pihak tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum fakta terungkap secara utuh.
Enam Poin Imbauan KKLR Sulsel
Untuk meredakan situasi, KKLR Sulsel menyampaikan enam imbauan kepada pihak-pihak terkait.
Pertama, kepada mahasiswa dan GAM Luwu Raya, KKLR meminta agar aspirasi tetap disampaikan secara tertib dan damai, tidak membalas kekerasan, serta mengutamakan jalur hukum dan dialog. Rencana aksi lanjutan juga diminta dipertimbangkan secara matang agar tidak memicu bentrokan susulan.
Kedua, kepada manajemen, karyawan, dan petugas keamanan PAM-TM, KKLR meminta agar kritik tidak direspons dengan tindakan fisik. Manajemen juga didorong segera memberikan klarifikasi resmi dan membuka ruang dialog dengan pelanggan serta mahasiswa.
Ketiga, kepada Pemerintah Kota Palopo, KKLR meminta agar insiden tersebut menjadi bahan evaluasi pelayanan air bersih. Pemerintah kota juga diharapkan menyiapkan solusi darurat selama El Nino dan mempertimbangkan tuntutan kompensasi bagi pelanggan terdampak.
Keempat, kepada aparat kepolisian, KKLR berharap situasi tetap kondusif dan laporan yang masuk diproses secara profesional, adil, serta transparan.
Kelima, kepada masyarakat dan pengguna media sosial, KKLR mengimbau agar tidak menyebarkan video, informasi, atau komentar provokatif. Setiap informasi perlu diperiksa kebenarannya sebelum dibagikan.
Keenam, kepada tokoh adat, tokoh masyarakat, dan keluarga besar Luwu Raya, KKLR mengajak untuk ikut meredakan suasana serta menjadi jembatan komunikasi antarpihak.
Menutup pernyataannya, Hasbi mengajak seluruh warga Luwu Raya saling membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air selama El Nino. Ia berharap persoalan pelayanan publik tersebut dapat diselesaikan tanpa mengorbankan persaudaraan dan ketenteraman masyarakat.
Bagi KKLR, nilai sipakatau dan sipakalebbi harus menjadi pegangan bersama, termasuk ketika perbedaan dan persoalan muncul. Menjaga persaudaraan, martabat, dan kedamaian Luwu Raya merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
PEMBERITAHUAN HAK CIPTA: Seluruh konten yang dipublikasikan di Majesty.co.id dilindungi dan tidak diperkenankan untuk diambil, disalin, didistribusikan, dipublikasikan ulang, maupun digunakan untuk keperluan crawling atau pengindeksan otomatis oleh sistem AI tanpa izin tertulis dari Redaksi Majesty.co.id.
