04/11/2026

Majesty.co.id

News and Value

Presidium ISMAHI Nilai Formasi Ditintelkam Polda Metro Jaya Sesuai Semangat Polri

4 min read
Illank menilai perpaduan keduanya memiliki nilai strategis dari sisi pengalaman penugasan dan karakter kepemimpinan.
Presidium Pusat Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI), Illank Radjab. (Foto: Ist)

Majesty.co.id, Jakarta — Presidium Pusat Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI), Illank Radjab, menyoroti formasi kepemimpinan baru di Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Metro Jaya yang diisi dua perwira dengan pengalaman penugasan di Sulawesi Selatan.

Kedua perwira tersebut adalah Kombes Pol Ardyansyah sebagai Pelaksana Dirintelkam dan AKBP Ananda Fauzi Harahap sebagai Wakil Direktur Intelkam (Wadirintelkam).

Ardyansyah merupakan mantan Kapolres Palopo saat masih berpangkat AKBP pada 2019 dan sejumlah jabatan di wilayah Polda Sulsel.

Sementara Ananda Fauzi Harahap adalah eks Kapolres Barru sejak 2025 sampai 2026 diangkat sebagai Wadirintelkam Polda Sulsel.

Illank menilai perpaduan keduanya memiliki nilai strategis dari sisi pengalaman penugasan, karakter kepemimpinan, dan kedekatan sosial dengan masyarakat.

Menurutnya, kehadiran dua figur yang pernah bertugas di lingkungan intelijen Sulawesi Selatan tersebut juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat daerah itu.

Ardyansyah dikenal dengan julukan “Panritanya Polisi”, sementara Ananda Fauzi Harahap dikenal dengan sebutan “Panglima dari Timur” di kalangan aktivis dan masyarakat.

Bagi Illank, kedua julukan tersebut menggambarkan karakter kepemimpinan yang saling melengkapi.

Sebutan Panglima dari Timur kata Illank, merepresentasikan ketegasan, sedangkan Panritanya Polisi menggambarkan kebijaksanaan dan kearifan dalam memahami dinamika sosial.

“Karena itu, ketika melihat dua figur ini berada dalam satu formasi, kami melihat perpaduan pengalaman dan karakter yang menarik,” ujar Illank dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).

Ia menggambarkan keduanya sebagai duet strategis yang mempertemukan ketegasan dengan kebijaksanaan, insting dengan kecermatan, serta profesionalitas dengan empati.

“Kalau boleh saya ilustrasikan, ini seperti mempertemukan dua karakter dalam satu ruang pengabdian. Inilah yang saya sebut sebagai duet strategis jebolan pengalaman intelijen Sulawesi Selatan,” ungkapnya.

Tekankan Pentingnya Pendekatan Humanis


Illank mengatakan, pengalaman di Makassar dan Sulawesi Selatan memberikan pelajaran tentang pentingnya membangun hubungan antara aparat dan masyarakat.

Menurutnya, karakter masyarakat Sulawesi Selatan yang dinamis serta menjunjung nilai siri’, ada’, dan marwah mengajarkan bahwa kepercayaan tidak cukup dibangun melalui kewenangan. Kepercayaan perlu dirawat melalui keteladanan, komunikasi, dan penghormatan.

“Pelajaran dari Makassar, kami percaya, bahwa menjaga keamanan bukan hanya tentang keberanian menghadapi ancaman, tetapi juga kemampuan memahami masyarakat. Ketegasan harus memiliki kebijaksanaan, insting harus disertai kecermatan, dan profesionalitas harus berjalan bersama empati,” tegasnya.

Ia menilai tantangan keamanan Jakarta sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan aktivitas sosial nasional membutuhkan kepemimpinan intelijen yang adaptif.

Perkembangan teknologi informasi, dinamika sosial, potensi konflik, serta perubahan pola interaksi masyarakat menuntut kemampuan deteksi dini yang semakin presisi.

Illank menambahkan, kekuatan intelijen tidak hanya diukur dari kecepatan memperoleh informasi, tetapi juga kedalaman memahami informasi, kecermatan membaca konteks, dan kebijaksanaan dalam menerjemahkannya menjadi langkah profesional.

Illank juga menilai formasi tersebut relevan dengan semangat Polisi Bersama Masyarakat.

Menurutnya, keamanan tidak dapat dibangun hanya melalui pendekatan struktural dan kewenangan aparat, tetapi membutuhkan kepercayaan, partisipasi, komunikasi, serta kolaborasi berkelanjutan.

Masyarakat, kata dia, bukan sekadar objek pengamanan, melainkan mitra strategis dalam menjaga stabilitas.

Dalam konteks tersebut, intelijen memiliki posisi penting sebagai jembatan komunikasi antara negara dan realitas sosial masyarakat.

Ia berharap pengalaman dan karakter kepemimpinan kedua perwira tersebut dapat memperkuat tradisi kerja Ditintelkam Polda Metro Jaya yang profesional, akurat, adaptif, dan humanis, sekaligus menjunjung tinggi hukum serta hak-hak masyarakat.

Bagi Illank, perpindahan tugas dari daerah ke ibu kota bukan sekadar perubahan wilayah pengabdian, melainkan kesempatan membawa pengalaman dan nilai-nilai positif untuk menjawab tantangan yang lebih luas.

“Jangan hanya membawa nama besar dari daerah, tetapi bawalah nilai pengabdian yang telah ditempa oleh pengalaman. Sebab, ukuran keberhasilan seorang perwira bukan pada julukan yang melekat padanya, melainkan pada manfaat, keteladanan, dan rasa aman yang dapat dirasakan masyarakat dari kehadirannya,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Illank berharap kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap kedua perwira tersebut menjadi motivasi untuk terus memberikan kontribusi bagi institusi dan masyarakat.

“Panglima dari Timur dan Panritanya Polisi dalam satu formasi pengabdian. Dari Makassar membawa pengalaman, di Jakarta melanjutkan tanggung jawab. Kami percaya, ketajaman membaca keadaan harus berjalan bersama kebijaksanaan memahami manusia,” tutup Illank Radjab.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.