Alumni Kritik Survei Unhas, Nilai Sarat Kepentingan Politik dan “Cari Muka”
4 min read
Tangkapan layar. Hasil survei LPPM Unhas tentang figur cawapres dari Indonesia Timur yang diumumkan pada Rabu (21/10/2026). (Foto: Youtube/Unhas TV)
Majesty.co.id, Makassar — Tokoh alumni Universitas Hasanuddin, Mulawarman, mengkritik hasil Survei Suara Indonesia Timur yang dirilis Pusat Penelitian Opini Publik, Demokrasi, dan Pembangunan (Podium) LPPM Unhas.
Mulawarman menilai survei yang diumumkan Unhas pads Rabu (21/10/2026) tersebut telah masuk ke ranah politik karena turut mengukur elektabilitas tokoh untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Kritik itu disampaikan Mulawarman saat ditemui di Makassar, Minggu (25/10/2026).
Ia menanggapi pemaparan hasil survei oleh Kepala Podium LPPM Unhas, Imam Mujahidin Fahmi.
Survei tersebut mencatat tingkat kepuasan responden terhadap dua tahun kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebesar 55,02 persen.
Dalam simulasi pilihan tokoh apabila Pilpres digelar saat survei dilakukan, Andi Amran Sulaiman memperoleh dukungan 19,22 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda sebesar 6 persen dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebesar 4,80 persen.
Menurut Mulawarman, pengukuran elektabilitas tokoh menjadi salah satu alasan survei tersebut tidak dapat dilepaskan dari kepentingan politik.
“Tapi survei opini publik Unhas ini juga mengukur tingkat kepuasan masyarakat Indonesia Timur pada kinerja pemerintahan Presiden Prabowo dan mengukur elektabilitas calon Cawapres 2029,” kata Mulawarman.
Mulawarman, Alumni Fakultas Ekonomi Unhas itu juga menyoroti pemaparan Imam Mujahidin yang menurutnya menggunakan analisis politik saat menjelaskan hasil survei kepada media.
“Imam mengatakan, jika Pilpres diadakan hari ini, tokoh Indonesia yang paling banyak dipilih adalah Andi Amran Sulaiman, sebesar 19,22 persen. Andi Amran Sulaiman menjadi The Next Jk,” kata Mulawarman mengutip pemaparan Imam Mujahidin.
Mulawarman turut mempertanyakan keterlibatan Rektor Unhas Jamaluddin Jompa yang memberikan pengantar dalam kegiatan rilis survei tersebut.
Ia berpendapat kehadiran pimpinan universitas dalam forum itu berpotensi memberikan legitimasi terhadap hasil survei yang dinilainya memiliki muatan politik.
Mulawarman menduga terdapat motif Imam Mujahidin Fahmid untuk menunjukkan kedekatan kepada Andi Amran Sulaiman yang juga Ketua Umum IKA Unhas.
“Imam Mujahidin lagi cari muka, memamerkan perhatiannya dan loyalitasnya ke Andi Amran Sulaiman Ketua IKA Unhas yang menjadi tokoh utama di survei itu. Tapi tragisnya, Imam Mujahidin mantan staf khusus Mentan Syahrul Yasin Limpo itu, memakai nama Unhas dan menyeret-nyeret Prof Jompa Rektor Unhas ikut serta di aksi politik cari mukanya,” ujar Mulawarman menambahkan.
Imam Mujahidin belum dapat dimintai keterangan perihal dugaan Mulawarman tersebut.
Mulawarman mengingatkan bahwa perguruan tinggi tetap memiliki ruang untuk membahas persoalan politik, tetapi harus berpijak pada gagasan, moral, etika, prinsip akademik, kebenaran, dan keadilan.
“Bukan menggunakan nafsu kuasa dan kepentingan, baik itu kepentingan kelompok, apalagi kepentingan diri sendiri,” pungkas Mulawarman.
Rektor Tegaskan Survei Bukan untuk Kepentingan Politik
Sebelumnya, Rektor Unhas Jamaluddin Jompa menegaskan bahwa Survei Suara Indonesia Timur tidak ditujukan untuk kepentingan politik maupun mendukung tokoh tertentu.
Menurutnya, survei tersebut merupakan upaya akademik untuk merekam pandangan masyarakat dari kawasan timur Indonesia terhadap berbagai persoalan, tidak terbatas pada isu politik.
“Yang jelas ini bukan tujuan untuk politik ini tujuan untuk memastikan bahwa suara-suara masyarakat dari Timur dari seluruh aspek. Bukan hanya aspek politik ya, seluruh aspek, mulai dari aspek yang terkait dengan masalah mungkin keluhan masyarakat tentang sesuatu,yang mungkin belum terdengar oleh kita,” kata Jamaluddin Jompa, dikutip dari Unhas TV.
Dalam pengantarnya sebelum pemaparan hasil survei, Jamaluddin juga secara khusus mengingatkan agar hasil penelitian tersebut tidak diarahkan untuk menguntungkan citra pihak tertentu.
“Prof Imam mohon dipastikan bahwa ini jangan tergiring ke dalam pencitraan seseorang atau sekelompok orang ataukah bahkan,universitas sendiri,” sambungnya.
PEMBERITAHUAN HAK CIPTA: Seluruh konten yang dipublikasikan di Majesty.co.id dilindungi dan tidak diperkenankan untuk diambil, disalin, didistribusikan, dipublikasikan ulang, maupun digunakan untuk keperluan crawling atau pengindeksan otomatis oleh sistem AI tanpa izin tertulis dari Redaksi Majesty.co.id.


