Dewan Gerindra Desak Pertamina Cari Solusi Mahalnya Gas LPG 3 Kg di Wajo
3 min read
Ilustrasi. Distribusi gas LPG 3 Kg di suatu daerah di Sulawesi Selatan. (Foto: Majesty.co.id/Febri)
Majesty.co.id, Makassar — Anggota DPRD Sulawesi Selatan Fraksi Partai Gerindra, Sultan Tajang, menyoroti kelangkaan dan meroketnya harga LPG 3 kilogram (kg) di Kabupaten Wajo.
Sultan Tajang meminta PT Pertamina Patra Niaga memastikan ketersediaan pasokan dan memperketat pengawasan distribusi agar gas bersubsidi tersebut tepat sasaran, khususnya bagi petani.
Sultan mengungkapkan bahwa harga LPG 3 kg di tingkat eceran di Wajo telah melonjak drastis dari harga normal, yakni mencapai Rp40 ribu hingga Rp70 ribu per tabung, bahkan ada yang dijual hingga ratusan ribu rupiah.
“Yang ingin saya tegaskan hari ini, kira-kira langkah-langkah antisipasi apa yang harus dilakukan oleh pihak Pertamina mulai saat ini?,” ujar Sultan dalam rapat dengar pendapat bersama PT Pertamina di kantor DPRD Sulsel, Kota Makassar, Selasa (18/8/2026).
“Jangan sampai, ini masih dugaan, memang ada pengusaha atau oknum tertentu yang sengaja menimbun atau mengumpulkan LPG 3 kg sehingga terjadi kelangkaan di salah satu kabupaten,” kata Sultan.
Sultan menjelaskan, dampak kelangkaan ini tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga mengancam sektor pertanian.
Di Kecamatan Belawa saja, sekitar 10.000 hektare lahan pertanian terancam terdampak karena mayoritas mesin pompa air milik petani telah dikonversi menggunakan gas LPG 3 kg sesuai program pemerintah.
Oleh karena itu, ia meminta Pertamina melakukan pemetaan ulang kuota pertanian di 14 kecamatan di Wajo serta mengantisipasi potensi penimbunan.
Selain masalah LPG, Sultan turut menyoroti maraknya antrean solar bersubsidi di jalur poros Maros, Wajo, hingga Luwu.
Ia menduga terjadi kebocoran BBM bersubsidi akibat maraknya pengisian menggunakan kendaraan yang tangkinya telah dimodifikasi, sehingga jatah masyarakat justru tergerus dan diduga dibawa keluar daerah.
Menanggapi hal tersebut, Sales Area Manager Retail Sulselbar PT Pertamina Patra Niaga, Rainier Axel S. P. Gultom, membenarkan adanya lonjakan permintaan (demand) LPG 3 kg hingga 5 persen di wilayah Bone, Soppeng, Wajo, dan Sidrap selama periode April hingga Agustus 2026.
Menurutnya, lonjakan ini dipicu oleh musim kemarau dan El Nino yang meningkatkan penggunaan pompa air berbahan bakar LPG oleh petani, yang pada akhirnya menggerus jatah rumah tangga.
Rainier menegaskan bahwa Pertamina telah menindak tegas pangkalan dan agen yang nakal. Sebanyak sembilan pangkalan telah dijatuhi sanksi Pemutusan Hubungan Usaha (PHU).
Mengenai kebocoran solar akibat kendaraan bertangki modifikasi yang mampu menampung hingga 1.000 liter, Pertamina bekerja sama dengan aparat kepolisian dan telah menghentikan sementara penyaluran BBM bersubsidi di 59 SPBU di Sulsel yang terbukti melanggar.
Pertamina pun mendorong pemerintah daerah untuk mengusulkan penyesuaian kuota riil ke BPH Migas berbasis data lapangan.
PEMBERITAHUAN HAK CIPTA: Seluruh konten yang dipublikasikan di Majesty.co.id dilindungi dan tidak diperkenankan untuk diambil, disalin, didistribusikan, dipublikasikan ulang, maupun digunakan untuk keperluan crawling atau pengindeksan otomatis oleh sistem AI tanpa izin tertulis dari Redaksi Majesty.co.id.
