22/07/2026

Majesty.co.id

News and Value

Ketua RW 006 Gunung Sari Makassar Siap Sukseskan Gerakan Pilah Sampah

3 min read
Melalui gerakan "Yuk Warga RW 006 Kelurahan Gunung Sari Pilah Sampah", masyarakat diminta memisahkan sampah ke dalam tiga kategori, yakni sampah organik, sampah nonorganik, dan sampah residu.
Ilustrasi. Tempat sampah pilahan. (Pexels)

Majesty.co.id, Makassar — Ketua RW 006 Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Hasrul Kaharuddin, mengajak warga mulai menerapkan budaya memilah sampah dari rumah sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan baru Pemerintah Kota Makassar yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2026.

Advertisement
Banner Bapenda Makassar

Melalui gerakan “Yuk Warga RW 006 Kelurahan Gunung Sari Pilah Sampah”, masyarakat diminta memisahkan sampah ke dalam tiga kategori, yakni sampah organik, sampah nonorganik, dan sampah residu.

Sampah nonorganik seperti plastik, kaleng, kertas, dan kaca dipilah untuk dimanfaatkan kembali atau didaur ulang. Sementara sampah organik berupa sisa makanan, sayuran, kulit buah, dan daun kering dapat diolah menjadi kompos atau produk lainnya.

Advertisement
Banner DPRD Sulsel

Adapun sampah residu yang akan dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hanya sampah yang sudah tidak dapat diolah maupun didaur ulang, seperti popok bekas, tisu, pembalut, dan puntung rokok.

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Hasrul Kaharuddin mengatakan, gerakan tersebut bertujuan membangun kesadaran masyarakat bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga.

Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan pengangkutan ke TPA, tetapi harus diawali dengan pemilahan sejak dari sumbernya.

“Sampah kita, lingkungan bersih, masa depan cerah. Mari kita mulai memilah sampah dari rumah. Sampah organik, nonorganik, dan residu harus dipisahkan,” katanya Hasrul kepada wartawan, Rabu (22/7/2026).

Pria yang akrab disapa Arul itu berharap seluruh warga RW 006 berpartisipasi aktif dalam gerakan tersebut.

Dengan memilah sampah sejak dari rumah, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali, sedangkan hanya sampah residu yang dikirim ke TPA.

Ia menilai langkah tersebut akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

“Pilah sampah sekarang, lingkungan bersih kita nyaman, kampung asri masa depan cerah,” ujarnya.

Arul menargetkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah terus meningkat sehingga persoalan sampah dapat ditangani mulai dari tingkat rumah tangga dan lingkungan.

Sebelumnya, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada peran aktif camat, lurah, hingga ketua RT dan RW.

Munafri menyoroti tingginya biaya pengelolaan sampah di Makassar yang mencapai hampir Rp1 juta per ton, jauh di atas Kota Surabaya yang menurutnya hanya sekitar Rp600 ribu per ton dengan tingkat penyelesaian sampah mencapai 99 persen.

“Kita Rp1 juta belum selesai, artinya biaya penanganan sampah ini masih sangat besar,” tegas Munafri.

Karena itu, ia meminta setiap kelurahan menghadirkan inovasi dalam pengelolaan sampah dan membangun sistem yang lebih terukur, sehingga kebijakan pemilahan sampah dari sumber dapat berjalan efektif di seluruh wilayah Kota Makassar.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.