Makassar Bangun Gerbang Moderasi Beragama, Batu Pertama Diletakkan Appi dan Menag
3 min read
Menteri Agama Nasaruddin Umar meletakkan batu pertama pembangun Gerbang Moderasi Indonesia di Kawasan BTP, Kota Makassar, Kamis (9/7/2026). (Foto: Diskominfo Makassar)
Majesty.co.id, Makassar – Makassar menjadi daerah pertama di Indonesia yang membangun Gerbang Moderasi Indonesia. Simbol penguatan moderasi beragama tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Momen pembangunan Gerbang Moderasi Beragama ini juga dihadiri Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi di kawasan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Kecamatan Biringkanaya, Kamis (9/7/2026).
Gerbang Moderasi Indonesia di Makassar dibangun sebagai simbol penguatan nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama di tengah kehidupan masyarakat.
Kota Makassar menjadi daerah pertama yang memulai pembangunan gerbang tersebut.
Appi menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Makassar sebagai lokasi perdana pembangunan Gerbang Moderasi Indonesia.
Menurutnya, program tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam memperkuat keberagaman dan toleransi di tengah masyarakat.
Di hadapan Nasaruddin Umar Appi juga mengungkapkan indeks toleransi Kota Makassar mengalami peningkatan signifikan.
Dari sebelumnya berada di peringkat ke-49, kini Makassar berhasil masuk sembilan besar kota paling toleran di Indonesia.
“Alhamdulillah, sekarang Kota Makassar berada di peringkat sembilan. Ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak, termasuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), yang terus membangun komunikasi dan pendekatan di tengah masyarakat,” ujar Appi.
Peletakan batu pertama juga dilakukan oleh Rektor UIN Alauddin Makassar Hamdan Juhannis, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan Ali Yafid, CEO Founder Kabar Grup Upi Asmaradhana, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar Muhammad.
Appi menegaskan capaian tersebut menjadi modal penting mengingat Makassar merupakan pintu gerbang Indonesia Timur dengan mobilitas ekonomi, sosial, dan budaya yang sangat tinggi.
Ia juga menjelaskan kawasan BTP menjadi contoh kehidupan masyarakat yang multietnis dan multikeyakinan. Di kawasan tersebut berdiri rumah ibadah dari berbagai agama yang hidup berdampingan secara harmonis.
“Dan khususnya di daerah BTP ini, kami laporkan Pak Menteri, bahwa di sini pemukiman yang sangat multi-etnis. Di sini ada gerejanya, ada masjidnya, ada puranya,” urainya.
Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Kota Makassar akan menginisiasi pembangunan Gerbang Moderasi Indonesia di sejumlah titik lainnya agar semangat toleransi tumbuh hingga tingkat RT dan RW.
“Ini menjadi tanggung jawab kami setelah pencanangan hari ini. Kami akan menghadirkan gerbang-gerbang moderasi di beberapa lokasi sebagai upaya memperkuat nilai keberagaman hingga ke tingkat masyarakat paling kecil,” jelasnya.
Appi juga memastikan pemerintah segera membenahi akses jalan menuju lokasi pembangunan gerbang agar didukung infrastruktur yang memadai.
“Hari ini Dinas PU sudah turun melakukan survei. Kita ingin memastikan infrastruktur menuju kawasan ini juga semakin baik. Saat ini tingkat kemantapan jalan Kota Makassar sudah berada di atas 97 persen dan akan terus kami tingkatkan,” ungkapnya.
Sementara itu, Nasaruddin Umar menegaskan pembangunan Gerbang Moderasi Indonesia bukan sekadar menghadirkan monumen fisik, melainkan simbol yang menghidupkan nilai persatuan dalam kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan, pemilihan lokasi di kawasan permukiman memiliki makna strategis karena masyarakat akan berinteraksi langsung dengan simbol moderasi tersebut setiap hari.
“Kehadiran monumen kebersamaan seperti ini jangan dilihat dari besar kecil tempatnya, tetapi dari dampaknya. Ketika dibangun di tengah permukiman, setiap orang yang melihatnya akan selalu diingatkan bahwa kita semua adalah satu, tidak ada perbedaan di antara kita,” ujarnya.
Nasaruddin berharap Gerbang Moderasi Indonesia di Makassar menjadi ikon persatuan yang menginspirasi daerah lain sehingga monumen serupa dapat dibangun di berbagai kabupaten dan kota.
“Dan saya berharap monumen ini nanti menjadi kekuatan simbolik, ikonik di Kota Makassar, apalagi ini yang pertama. Kita akan saksikan di setiap kabupaten kabupaten ada monumen-monumen seperti ini sebagai simbol pemersatu,” harapnya.
