30/05/2026

Majesty.co.id

News and Value

Proyek Sekolah Rakyat Prabowo di Takalar Tewaskan 2 Anak, Bupati Sesalkan PT Nindya Karya

3 min read
Sekolah Rakyat tersebut berlokasi di Desa Parappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar.
Aerial foto. Pembangunan proyek Sekolah Rakyat di Desa Parappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar oleh PT Nindya Karya (Persero). (Foto: Instagram/sr_takalar)

Majesty.co.id, Takalar – Proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, menelan korban jiwa. Dua anak meninggal dunia di lokasi proyek program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu.

Keduanya adalah anak usia 4 tahun inisial AZ dan inisial MA, 3 tahun. Dua anak ini diduga tenggelam di lubang galian septic tank proyek Sekolah Rakyat Takalar.

Sekolah Rakyat tersebut berlokasi di Desa Parappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar.

Tragedi tenggelamnya dua anak di lubang septic tank Sekolah Rakyat Takalar dilaporkan terjadi pada Rabu (27/5/2026).

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Garis polisi di lokasi lubang septic tank proyek Sekolah Rakyat di Kabupaten Takalar. (Foto: Istimewa/HO)

Menanggapi tragedi memilukan tersebut, Bupati Takalar Muhammad Firdaus Daeng Manye meminta agar kontraktor proyek Sekolah Rakyat yaitu PT Nindya Karya (Persero) bertanggung jawab penuh.

Pemda Takalar mendesak PT Nindya Karya mengevaluasi total sistem keamanan di sekitar area kerja agar keselamatan warga lebih terjamin.

Firdaus menilai tragedi tersebut seharusnya bisa dihindari jika PT Nindya Karya memperketat pengawasan. Kontraktor dinilai lalai sehingga jatuh korban jiwa.

“Kita semua kehilangan dan duka mendalam atas kasus ini dan ini sebenarnya tidak terjadi jika pihak perusahaan pembangunan proyek Sekolah Rakyat memaksimalkan pengamanan di lokasi,” katanya kepada wartawan.

Pemerintah menunjuk PT Nindya Karya selaku kontraktor utama yang bertanggung jawab atas seluruh aktivitas pembangunan di lapangan.

Firdaus menegaskan bahwa selain memberikan pertanggungjawaban kepada keluarga korban, perusahaan juga wajib memperketat pengawasan di area proyek demi keselamatan warga dan para pekerja.

Langkah preventif yang ketat harus segera diimplementasikan mengingat lokasi pembangunan Sekolah Rakyat tersebut berada di lingkungan yang dekat dengan aktivitas masyarakat.

“Kami minta pihak PT Nindya Karya yang menangani proyek ini agar bertanggung jawab sekaligus meningkatkan pengamanan baik warga sekitar dan terhadap keselamatan bagi seluruh pekerja jangan sampai kejadian serupa tidak terulang,” katanya.

Di sisi lain, megaproyek Sekolah Rakyat di Desa Parappunganta ini diketahui tengah dibangun di atas lahan yang cukup luas mencapai 5 hektare.

Sebelum dialihfungsikan menjadi fasilitas pendidikan, kawasan tersebut merupakan lahan bekas rumah pemotongan hewan (RPH) milik Pemerintah Kabupaten Takalar yang sudah lama terbengkalai.

Pembangunan kompleks sekolah ini sendiri sudah mulai berjalan sejak Desember 2025 lalu dengan menggunakan anggaran negara yang bersumber dari APBN senilai Rp229.451.220.000.

Hingga saat ini, proses pengerjaan proyek tersebut menjadi sorotan tajam menyusul adanya insiden maut yang menewaskan dua anak balita di lokasi galian.

“Lahannya adalah bekas rumah pemotongan hewan milik pemerintah Kabupaten tetapi sudah lama tidak digunakan jadi dialihfungsikan untuk bangun Sekolah Rakyat,” kata Arif Sirajuddin, Kepala Desa Parappunganta saat kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).

Pihak PT Nindya Karya belum dapat dimintai tanggapan perihal ragedi tenggelamnya dua anak di Sekolah Rakyat Takalar.


Penulis: Suedi

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.