Istri Sakit Butuh Biaya, “Bank Orange” Diduga Persulit Dosen Unhas Cairkan Tabungan
2 min read
Ilustrasi proses pencairan tabungan di Bank. (Foto: Canva)
Majesty.co.id, Makassar – Dosen Universitas Hasanuddin (Unhas), Hasrullah, berjuang keras mencairkan tabungannya di salah satu bank himpunan milik negara atau Himbara. “Bank Orange” diduga mempersulit Sang Dosen mencairkan deposito.
Niat hati ingin menggunakan dana tersebut sebagai solusi penyelamat untuk biaya operasi sang istri, dosen FISIP Unhas itu justru mengaku dipersulit oleh pihak Bank Orange.
Tabungan itu sangat dibutuhkan untuk membiayai pengobatan istrinya yang kini tengah terbaring di RS Unhas.
Hasrullah menuturkan, istrinya telah menjalani operasi selama tiga hari dan sangat membutuhkan biaya tambahan untuk proses perawatan lanjutan serta administrasi kepulangan.
Dalam kondisi mendesak tersebut, ia berinisiatif mencairkan sebagian tabungannya.
Hasrullah mengaku telah mengikuti seluruh prosedur dan bahkan sempat mendapat informasi awal dari pihak bank bahwa pencairan bisa dilakukan dengan solusi tertentu.
Namun, proses itu berlarut-larut hingga lebih dari sepekan tanpa kejelasan.
“Saya hanya ingin mencairkan sebagian dana karena kebutuhan mendesak. Istri saya harus segera keluar dari rumah sakit, tapi dana saya justru sulit dicairkan,” ujar Hasrullah kepada wartawan Selasa.
Ia merasa kecewa karena telah menyampaikan kondisi darurat yang dihadapinya secara gamblang, termasuk menunjukkan bukti bahwa istrinya sedang dirawat intensif.
Hasrullah menilai pelayanan yang diterimanya sangat tidak mencerminkan empati terhadap nasabah yang sedang berada dalam situasi krisis.
Bahkan, demi kesembuhan sang istri, Hasrullah mengaku rela dan siap menerima konsekuensi pemotongan dana atau penalti atas pencairan tabungan yang dilakukan sebelum jatuh tempo tersebut.
“Saya tidak masalah kalau ada potongan. Tapi jangan sampai hak nasabah dihalangi dalam kondisi seperti ini,” tegasnya.
Atas kejadian ini, ia mengimbau masyarakat luas untuk lebih teliti dan berhati-hati dalam memilih produk perbankan, khususnya deposito, agar tidak menyulitkan ketika sewaktu-waktu membutuhkan dana cepat dalam kondisi darurat.
Lebih lanjut, Hasrullah mendesak pimpinan cabang bank Himbara tersebut di wilayah Sulawesi Selatan untuk bertanggung jawab penuh atas pelayanan buruk yang dialaminya.
Ia tak segan membuka kemungkinan untuk menempuh jalur hukum jika ditemukan adanya indikasi pelanggaran prosedur.
“Saya minta ada evaluasi serius. Kalau memang ada kesalahan, saya akan proses secara hukum,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak bank Himbara yang bersangkutan belum memberikan keterangan atau klarifikasi resmi terkait keluhan nasabahnya tersebut.
