01/04/2026

Majesty.co.id

News and Value

WALHI Sulsel Temukan Residu pasca 6 Bulan Tumpahan Minyak PT Vale Indonesia

2 min read
Berdasarkan hasil investigasi lapangan pada Februari 2026, WALHI Sulsel mengungkapkan bahwa skala pencemaran jauh lebih luas dari informasi yang disampaikan PT Vale.
Peta tumpahan minyak PT Vale Indonesia di Towuti, Kabupaten Luwu Timur yang dipetakan oleh WALHI Sulsel. (Foto: Istimewa/HO)

Majesty.co.id, Makassar – Enam bulan pasca-insiden tumpahan minyak jenis Marine Fuel Oil (MFO) milik PT Vale Indonesia Tbk di Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menemukan masih adanya residu minyak di sejumlah titik.

Berdasarkan hasil investigasi lapangan pada Februari 2026, WALHI Sulsel mengungkapkan bahwa skala pencemaran jauh lebih luas dari informasi yang disampaikan PT Vale.

Alur tumpahan minyak PT Vale yang terjadi pada akhir Agustus 2025 ditemukan mencapai 18,777 kilometer, mengalir dari hulu Sungai Koromusilu hingga ke Danau Towuti.

Kepala Divisi Perlindungan Ekosistem Esensial WALHI Sulsel, Zulfaningsih HS, menjelaskan bahwa tumpahan tersebut melewati enam desa di wilayah terdampak.

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

“Temuan kami menunjukkan alur tumpahan minyak mencapai 18,777 kilometer—hampir 19 kilometer—minyak mengalir dari hulu Sungai Koromusilu di Desa Lioka, melewati enam desa hingga ke Danau Towuti,” ujar Zulfaningsih dalam konferensi pers di Makassar, Selasa (31/3/2026).

Zulfaningsih menegaskan bahwa data ini membuktikan dampak ekologis dan sosial yang dirasakan masyarakat jauh lebih besar setelah tim melakukan monitoring langsung di lapangan.

Senada dengan itu, Direktur WALHI Sulsel, Muhammad Al Amien, menyoroti lemahnya akuntabilitas PT Vale terkait insiden yang terjadi setengah tahun lalu tersebut.

Ia menilai hingga kini belum ada kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab secara hukum dan organisasi.

“Tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini. Tanpa akuntabilitas yang jelas, tidak ada jaminan kejadian serupa tidak akan terulang,” tegas Muhammad Al Amien.

WALHI Sulsel menyampaikan empat tuntutan tegas. Pertama, pemulihan lingkungan secara nyata dan transparan.

Kedua, perusahaan harus mengumumkan pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. Ketiga, transparansi penuh terkait perbaikan pipa guna menjamin tidak adanya kebocoran di masa depan.

Tuntutan keempat berkaitan dengan pemenuhan hak warga terdampak. WALHI mendesak penyelesaian seluruh ganti rugi warga tanpa pengecualian serta meminta PT Vale segera menghentikan penggunaan MFO dalam operasional perusahaan karena risiko tingginya terhadap lingkungan.

“Karena itu, PT Vale juga harus segera menghentikan penggunaan MFO dalam operasionalnya karena berisiko tinggi terhadap lingkungan,” pungkas Al Amien.

Manajemen PT Vale Indonesia belum dapat dikonfirmasi mengenai hal ini. Tapi, sebelumnya, perusahaan menyatakan berkomitmen melakukan ganti rugi maupun pemulihan dampak lingkungan tumpahan minyak tersebut.


Penulis: Suedi

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.