05/03/2026

Majesty.co.id

News and Value

Kepala Kemenag Sulsel Ceramah Malam ke-15 Ramadan di Al Markaz, Ulas Akhlak Bertetangga

3 min read
Kepala Kemenag Sulsel Ali Yafid menegaskan bahwa kualitas keimanan seseorang salah satunya dinilai dari cara ia memperlakukan tetangganya.
Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulsel Ali Yafid di mimbar Masjid Al Markaz Al Islami pada malam ke-15 Ramadan pada Rabu (4/3/2026). (Foto: Humas Kemenag Sulsel)

Majesty.co.id, Makassar — Memasuki malam ke-15 Ramadan 1447 H, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Ali Yafid, didaulat mengisi ceramah di Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar, Rabu (4/3/2026).

Di hadapan ribuan jemaah, Ali Yafid mengulas tema “Akhlak Bertetangga” sebagai fondasi kerukunan hidup.

Dalam tausiyahnya, Ali Yafid menekankan bahwa tetangga merupakan lingkaran sosial terdekat yang sering kali menjadi pihak pertama yang hadir saat seseorang mengalami kesulitan, bahkan melampaui keluarga jauh.

“Sesungguhnya yang paling dekat dengan kita secara sosial adalah tetangga. Kalau keluarga dekat itu saudara, sepupu, orang tua. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita mengalami kesulitan, yang pertama kali hadir membantu sering kali adalah tetangga,” ujarnya.

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Ia menjelaskan bahwa Islam telah mengatur hubungan sosial antarwarga secara detail melalui hadis-hadis Rasulullah SAW.

Mengutip pesan Nabi, Ali Yafid menegaskan bahwa kualitas keimanan seseorang salah satunya dinilai dari cara ia memperlakukan tetangganya.

“Allah telah menyempurnakan agama ini. Aturan tentang pribadi, rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara semuanya lengkap. Hadis-hadis Rasulullah SAW sangat memperhatikan kehidupan sosial agar terbangun masyarakat yang harmonis,” jelas Ali Yafid.

Ia juga memaparkan hak-hak tetangga, mulai dari kewajiban menolong saat dibutuhkan hingga etika saat menolak permintaan pinjaman dengan tutur kata yang baik.

Ali Yafid mengingatkan jemaah untuk menjauhi sifat iri hati (hasad) dan justru ikut berbahagia atas nikmat yang didapatkan tetangga.

“Jika tetangga meminta tolong dan kita mampu membantu, maka tolonglah. Jangan sampai tetangga membutuhkan bantuan sementara kita memiliki kemampuan tetapi tidak peduli. Suatu saat kita pun bisa berada pada posisi membutuhkan pertolongan mereka,” ulasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ibadah ritual seperti salat dan puasa tidak akan sempurna jika seseorang masih menyakiti hati tetangganya. Bahkan, kepedulian sosial yang sederhana seperti berbagi makanan bisa menjadi jalan menuju surga.

“Ada orang rajin salat dan puasa, tetapi menyakiti tetangganya. Rasulullah SAW menyebut orang seperti itu sebagai penghuni neraka. Sebaliknya, ada yang ibadahnya sederhana, tetapi tidak pernah menyakiti tetangga, itu justru penghuni surga,” tegasnya.

Di akhir ceramah, Ali Yafid mengaitkan pesan tersebut dengan program “Ekoteologi” yang digagas Menteri Agama, yakni mengajak umat melihat sesama dan alam sebagai ciptaan Tuhan yang wajib dihormati.

Ia mengajak jemaah menjadikan sisa hari di bulan Ramadan sebagai momentum memperkuat kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar.

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi membangun kepekaan sosial terhadap orang-orang di sekitar kita, terutama tetangga dan kaum dhuafa. Semua kebaikan di bulan Ramadan dilipatgandakan pahalanya,” tutupnya.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.