Bukan Cuma Penghasil Padi, Wajo-Sidrap Jadi “Lumbung Emas” di Sulsel
2 min read
Kolase foto. Emas dan ikon Kota Sengkang di Kabupaten Wajo. (Foto: Pexels)
Majesty.co.id, Makassar — Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) tahun 2025 mengungkap tren menarik terkait pola investasi masyarakat.
Wilayah yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan, yakni Wajo dan Sidrap, ternyata juga mendominasi kepemilikan aset emas di Sulsel.
Secara rata-rata, sebanyak 27,54 persen rumah tangga di Sulawesi Selatan memiliki simpanan emas atau perhiasan setidaknya minimal 10 gram.
Namun, angka ini melonjak signifikan di beberapa wilayah tertentu. Wilayah Ajatappareng dan sekitarnya menunjukkan dominasi yang kuat.
Di daerah ini, lebih dari empat dari sepuluh rumah tangga memiliki simpanan emas dalam jumlah besar.
Melansir data BPS Sulsel pada Rabu (28/1/2026), Kabupaten Wajo menempati posisi pertama dengan 53,23 persenpenduduknya memiliki minimal 10 gram emas.
Disusul Kabupaten Sidrap. Sebagai daerah penghasil padi, Sidrap berada di posisi kedua dengan angka 49,95 persen kepemilimam emas.
Peringkat berikutnya yaitu Kabupaten Soppeng (45,23 persen), Pangkep (44,80 persen), dan Kepulauan Selayar (40,97 persen).
Budaya menabung emas tampak cukup merata di daerah penyangga kota besar dengan tingkat kepemilikan di kisaran 30 persen hingga 39 persen.
Wilayah yang masuk dalam kategori ini meliputi Maros, Barru, Parepare, Pinrang, Enrekang, dan Bantaeng.
Di daerah-daerah tersebut, setidaknya sepertiga dari total rumah tangga memilih emas sebagai aset utama.
Kota Makassar dan Luwu Raya di Papan Bawah
Cukup mengejutkan, Kota Makassar sebagai ibu kota provinsi justru berada di peringkat ke-14 dengan angka 25,35 persen.
Hal ini mengindikasikan bahwa meski perputaran uang di pusat kota sangat tinggi, bentuk investasi masyarakat jauh lebih beragam dan tidak terfokus pada emas fisik semata.
Sementara itu, wilayah Luwu Raya (Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur) dan Tana Toraja berada di peringkat terbawah dengan angka di bawah 20 persen.
Tana Toraja mencatatkan angka kepemilikan emas terendah di Sulawesi Selatan, yakni hanya 11,09 persen.
Hasil data ini menunjukkan adanya perbedaan karakter investasi yang dipengaruhi oleh letak geografis dan budaya.
Wilayah Utara dan Pesisir (Wajo, Sidrap, Soppeng) memiliki tradisi menyimpan emas yang sangat kuat sebagai aset pelindung nilai.
Wilayah Pegunungan yaitu Toraja dengan tren kepemilikan emas dalam jumlah besar cenderung rendah.
