22/01/2026

Majesty.co.id

News and Value

OPINI: Tujuh Bulan SAR-Kanaah, Sidrap Mulai Rasa Baru

4 min read
Tujuh bulan sudah SAR–Kanaah memimpin Sidrap — duet Syaharuddin Alrif dan Nurkanaah — dan di sawah ini saya melihat sebuah perubahan kecil yang terasa besar.
Bupati Kabupaten Sidrap Syaharuddin Alrif mengoperasikan alat mesin pertanian saat panen raya baru-baru ini. (Foto: Istimewa)

Oke. Tulisan ini saya mulai dari sawah. Tepatnya di utara Sidrap; Baranti.

Matahari baru naik setengah saat saya keluar dari rumah menuju kampung H. Zulkifli Zain (H.Pilli), salah seorang anggota tokoh masyarakat Sidrap.

Menuju ke Dusun Simpo, Desa Passeno, suara traktor mengaum pelan, menggantikan bunyi derit bajak sapi yang dulu begitu akrab di telinga.

Di tengah hamparan hijau itu, seorang petani berkaus lengan panjang melambai dari kejauhan. Namanya La Patta, 49 tahun.

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

“Dulu saya butuh dua hari untuk membajak satu hektare, sekarang dua jam selesai,” katanya, sambil menepuk bodi traktor mini yang catnya masih mengilap.

“Ini bantuan dari pemerintah kabupaten, Pak. Katanya, biar petani Sidrap bisa bersaing.”

Tujuh bulan sudah SAR–Kanaah memimpin Sidrap — duet Syaharuddin Alrif dan Nurkanaah — dan di sawah ini saya melihat sebuah perubahan kecil yang terasa besar.

Di tempat yang dulu hanya diwarnai keluhan soal pupuk dan harga gabah, kini obrolan bergeser ke produktivitas, ke teknologi, ke hasil panen per hektare.

Sidrap memang bukan sembarang kabupaten. Ia dikenal sebagai lumbung padi Sulawesi Selatan, bahkan kerap disebut “Bulog”-nya daerah.

Tapi selama bertahun-tahun, banyak petani seperti La Patta yang hanya menjadi penonton dari sistem rantai pasok panjang yang tak ramah. Harga gabah naik-turun, biaya pupuk tak pasti, dan anak-anak mereka mulai enggan turun ke sawah.

Namun, sejak awal 2025, perlahan suasana berubah. Pemerintahan SAR–Kanaah seperti ingin memulai ulang Sidrap, dari hal-hal yang paling sederhana.

Dinas Pertanian dan Peternakan Sidrap tak lagi bekerja di balik meja, tapi turun langsung ke lapangan, membimbing petani menggunakan pupuk organik cair dan aplikasi digital pendataan hasil panen.

Di beberapa desa, drone pertanian mulai digunakan untuk penyemprotan.

Para petani muda diajak belajar cara membaca data cuaca, pola air, hingga prediksi serangan hama lewat pelatihan singkat yang digelar di balai desa.

“Dulu saya cuma tahu kapan tanam dari kebiasaan, sekarang dari aplikasi,” ujar Rudi, 28 tahun, petani muda di Kulo. “Dan anehnya, hasil panen saya malah lebih banyak.”

Data Berbicara


Dari sawah, saya bergerak ke arah selatan, menuju kawasan peternakan di Watang Pulu. Jalan menuju sana kini mulus, sebagian sudah dicor beton.

Di sepanjang jalan, bau rumput segar bercampur aroma dedak. Saya berhenti di kandang besar milik koperasi peternak muda yang menamakan dirinya “SIDRAP FARMERS HUB.”

“Dulu, kami urus sapi seadanya. Sekarang ada sistem pencatatan digital, ada mesin pencacah pakan dan kandang kami sudah ventilasi modern,” kata Sappe, ketua koperasi itu.

Ia menunjukkan ruang pakan dengan sistem timbang otomatis yang baru dibangun tiga bulan lalu.

Di dindingnya, terpampang poster bertuliskan “Kesejahteraan Peternak, Kemandirian Sidrap”.

Menurut data Dinas Peternakan, dalam 7 bulan terakhir, populasi sapi potong meningkat 8 persen, dan hasil olahan susu lokal naik hampir dua kali lipat.

Semua karena sistem distribusi yang lebih tertata dan dukungan langsung dari Pemkab.

“SAR–Kanaah tidak banyak beretorika,” kata Sappe sambil tertawa kecil. “Tapi truk pakan datang tepat waktu, itu sudah cukup membuat kami percaya.”

Saya mencatat hal itu dalam buku kecil saya. Dalam banyak hal, gaya kepemimpinan Syaharuddin Alrif memang khas: teknokrat tapi membumi.

Nurkanaah, wakilnya, menambah keseimbangan dengan pendekatan sosial yang lembut. Ia sering turun ke desa-desa perempuan tani, membantu koperasi mikro agar tetap hidup.

“Mereka tidak memimpin dari podium, tapi dari jalan-jalan kecil di desa,” kata seorang penyuluh di Panca Rijang.

Dan menariknya, semua ini bergerak seirama dengan arah pembangunan nasional di bawah duet Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Di Jakarta, pemerintah bicara soal ketahanan pangan nasional; di Sidrap, konsep itu menjelma nyata lewat traktor baru, bibit unggul dan sistem logistik yang mulai digital.

Petani Sidrap kini tidak lagi menunggu bantuan, mereka justru berlomba berinovasi.

Di Desa Mojong, saya bertemu sekelompok pemuda yang mengembangkan pupuk fermentasi dari limbah jerami.

“Kami jual ke luar daerah sekarang,” kata salah satu dari mereka, sambil tertawa bangga.

Ada rasa percaya diri baru di Sidrap. Sebuah semangat yang mungkin tak mudah dijelaskan dengan angka, tapi terasa di wajah-wajah mereka yang saya temui: di tangan yang kasar tapi yakin, di mata yang menatap jauh tapi tidak takut.

Mungkin inilah yang dimaksud modernisasi tanpa kehilangan akar. Petani masih bercocok tanam, peternak masih menggembala, tapi cara mereka bekerja kini jauh berbeda.

Lebih cepat, lebih efisien, lebih sejahtera.

Menjelang sore, saya kembali ke arah pusat kota. Langit Sidrap berwarna jingga keemasan. Di tepi jalan, saya melihat papan bertuliskan “Sidrap Maju Bersama SAR–Kanaah”.

Biasanya saya skeptis pada slogan. Tapi kali ini, saya tidak buru-buru menilai.

Karena di sawah dan kandang yang saya lewati hari ini, saya tahu: Slogan itu bukan sekadar tulisan. Ia sedang menjadi kenyataan.

Penulis oleh: Edy Basri, Warga Kabupaten Sidrap


Opini ini disadur dari artikel Katasulsel

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.