29/09/2026

Majesty.co.id

News and Value

Forum Komunitas Hijau Nilai Penataan TPA Tamangapa Ubah Tata Kelola Sampah Kota Makassar

4 min read
Penataan TPA Tamangapa yang dibarengi penyiapan ranch, menunjukkan perubahan pendekatan dalam menangani persoalan sampah di Kota Makassar.
Aerial foto. TPA Tamangapa di Manggala, Kota Makassar. (Ist)

Majesty.co.id, Makassar — Pemerintah Kota Makassar terus membenahi kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, termasuk menata keberadaan sapi yang selama ini berkeliaran di sekitar timbunan sampah.

Salah satu langkah yang disiapkan yakni pembangunan dan penataan ranch atau kawasan peternakan sapi agar ternak tidak lagi mencari makan di antara timbunan sampah.

Ketua Forum Komunitas Hijau Makassar, Achmad Yusran, mengapresiasi langkah Pemkot Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin tersebut.

Menurut Achmad, penataan TPA yang dibarengi penyiapan ranch menunjukkan perubahan pendekatan dalam menangani persoalan sampah sekaligus keberadaan sapi di kawasan tersebut.

“Ini langkah yang penting, penataan TPA bukan hanya soal bagaimana sampah ditangani, tetapi juga bagaimana kita memastikan tidak ada lagi sapi yang berkeliaran dan memakan sampah campuran,” ujar Achmad, Senin (28/9/2026).

Dia mengatakan keberadaan sapi di TPA Tamangapa selama bertahun-tahun bukan sekadar persoalan ternak yang berkeliaran. Kondisi itu juga menunjukkan masih bercampurnya sampah organik dan anorganik di kawasan TPA.

Sampah yang bercampur dengan plastik, logam, bahan kimia maupun material lain dinilai berpotensi membahayakan kesehatan hewan dan keamanan pangan.

Karena itu, Achmad menilai ranch harus dilengkapi fasilitas yang layak, seperti akses air bersih, tempat pakan, sanitasi, drainase, sirkulasi udara, serta perlindungan dari panas dan hujan.

“Ranch harus menjadi kawasan peternakan yang layak dan aman bagi ternak,” katanya.

Sapi dan Pemulung di Tengah Timbunan Sampah

Achmad mengingat kondisi TPA Tamangapa sekitar satu dekade lalu. Saat itu, sapi dan pemulung beraktivitas di antara timbunan sampah.

Sapi mencari sisa makanan, sementara pemulung memilah material yang masih memiliki nilai ekonomi, seperti plastik, aluminium dan besi.

“Sapi-sapi itu sebenarnya menjadi korban dari sistem pengelolaan sampah yang belum mampu memisahkan sampah organik dari sampah lainnya sejak dari sumber,” jelas Achmad.

Dia menyebut penataan ranch menjadi salah satu upaya untuk memutus kebiasaan sapi mencari makan di timbunan sampah.

Pada Januari 2016, Forum Komunitas Hijau Makassar mencatat ratusan sapi berada di antara timbunan sampah TPA Tamangapa.

“Kondisi tersebut membuat kawasan TPA seolah menjadi ruang hidup bersama antara manusia dan ternak,” kenang Yusran.

Menurutnya, kondisi tersebut juga menggambarkan persoalan pengelolaan sampah yang lebih luas. Pada 2016, produksi sampah Kota Makassar dilaporkan mencapai sekitar 700-1.000 ton per hari.

“Sapi-sapi itu bukan sekadar ternak yang tersesat ke TPA. Hewan menjadi bagian dari persoalan ketika sampah organik, plastik, logam dan material lainnya bercampur sejak dari sumber,” tuturnya.

“Sapi tidak dapat membedakan sisa makanan yang aman dengan material yang berbahaya,” lanjutnya.

Sampah Organik Mulai Dimanfaatkan


Achmad mengatakan pada September 2026, sampah organik dari sekitar 14 pasar yang dikelola Perumda Pasar Makassar Raya dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Volume yang sebelumnya sekitar 3-4 ton per hari disebut meningkat hingga mendekati 31 ton per hari setelah mendapat dukungan dari pemerintah kecamatan.

Namun, dia mengingatkan sampah organik tersebut harus melalui pemilahan dan pengawasan untuk memastikan tidak tercampur plastik, kaca, logam, bahan kimia maupun material berbahaya lainnya.

“Pemilahan harus menjadi sistem kendali mutu,” ujarnya.

Menurut Achmad, penataan sapi dan pembangunan ranch harus berjalan beriringan dengan pembenahan sistem pengelolaan sampah.

Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengolahan sampah organik, pengurangan residu hingga pengangkutan harus menjadi satu kesatuan.

Dia juga mengingatkan agar keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah tonase sampah organik yang dimanfaatkan.

“Ukurannya adalah apakah sapi benar-benar tidak lagi memakan sampah campuran, dan apakah volume sampah yang masuk ke TPA terus berkurang,” katanya.

Forum Komunitas Hijau Makassar menyatakan siap berkolaborasi dalam pemetaan sumber sampah organik, edukasi pemilahan dan pengawasan lingkungan.

Achmad berharap pembenahan TPA Tamangapa menjadi momentum untuk mengakhiri pemandangan sapi mencari makan di antara timbunan sampah.

“Sapi tidak seharusnya mencari makan di antara limbah, dan manusia juga tidak seharusnya mempertaruhkan keselamatan demi mengais barang bernilai dari timbunan sampah,” pungkasnya.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.