Perang Iran–Israel dan Amerika: Ujian Keras Ketahanan Ekonomi dan Keberanian Kebijakan Indonesia
3 min read
Foto penulis Opini, Oland Muhammad. (Foto: Istimewa/Majesty.co.id)
Perang terbuka antara Iran, Israel, dan keterlibatan langsung Amerika Serikat kembali membuktikan satu hal: dunia belum keluar dari era ketidakpastian geopolitik.
Bagi Indonesia, perang ini bukan sekadar urusan luar negeri, melainkan alarm keras atas rapuhnya fondasi ekonomi dan energi nasional.
Selama ini, pemerintah kerap menyebut dampak konflik global terhadap Indonesia “terkendali”. Namun pertanyaannya: terkendali untuk siapa, dan sampai kapan?
Secara makro, Indonesia memang tampak relatif stabil. Inflasi dijaga, pertumbuhan masih positif, dan pemerintah berulang kali menegaskan bahwa APBN cukup kuat menghadapi guncangan global. Narasi ini terdengar menenangkan tetapi juga berbahaya.
Konflik di Timur Tengah secara langsung memukul sektor energi global. Dimana Indonesia, yang masih sangat bergantung pada impor minyak, kembali berada pada posisi paling rentan.
Setiap kenaikan harga minyak dunia, Indonesia memiliki dua pilihan pahit yaitu subsidi membengkak, menggerus ruang fiskal, atau harga BBM dinaikkan. Hal ini menekan daya beli rakyat
Menyebut kondisi ini “aman” sama saja menormalisasi kerentanan yang sudah berulang kali terjadi.
Dengan kata lain saat ini, bagi pendukung pemerintah, mereka menyebut, Harga minyak dunia belum mencapai titik krisis ekstrem, Cadangan devisa masih memadai, dan seakan akan konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama ekonomi di Indonesia
Argumen ini tidak sepenuhnya salah. Namun masalahnya, logika bertahan jangka pendek terus dijadikan strategi utama, sementara persoalan struktural dibiarkan.
Pandangan kritis melihat konflik Iran–Israel–AS sebagai cermin kegagalan lama yang belum diselesaikan: ketergantungan energi impor.
Sudah puluhan tahun Indonesia mengetahui risiko akan ketergantungan Energi. Dimana Timur Tengah merupakan kawasan paling tidak stabil secara geopolitik. Harga minyak akan selalu menjadi alat tekanan global
Dan sebagai Negara pengimpor, Indonesia selalu berada di posisi reaktif.
Namun transisi energi berjalan lambat, hilirisasi energi belum menjawab kebutuhan BBM, dan kebijakan masih lebih fokus meredam gejolak ketimbang mencegahnya.
Akibatnya, setiap perang global selalu menghadirkan kepanikan yang sama, dengan alasan yang sama, dan solusi yang juga sama.
Perang ini mungkin tidak terasa di meja rapat elite ekonomi, tetapi dampaknya nyata di tingkat rumah tangga, seperti, naiknya harga pangan dan transportasi naik, biaya produksi UMKM meningkat dan berpengaruh besar dan berdampak pada Kelompok berpendapatan rendah dengan munculnya inflasi energi.
Ketika negara gagal mengantisipasi risiko global, bebannya dialihkan ke masyarakat, bukan dihilangkan.
Dilema Politik Luar Negeri: Bebas Aktif atau Serba Takut?
Konflik ini juga menguji konsistensi politik luar negeri Indonesia. Di satu sisi, Indonesia mengusung prinsip bebas aktif dan dukungan terhadap perdamaian.
Di sisi lain, hubungan ekonomi dengan kekuatan besar membatasi ruang gerak diplomasi.
Sikap yang terlalu normatif dan aman justru berisiko membuat Indonesia tidak relevan secara geopolitik, hanya menjadi penonton yang menanggung dampak ekonomi.
Konflik Iran–Israel dan Amerika Serikat seharusnya tidak hanya dibaca sebagai krisis eksternal, tetapi sebagai peringatan internal.
Sebagai renungan, jika setiap perang global selalu mengancam APBN hingga menekan rakyat kecil, maka masalah utamanya bukan perang itu sendiri, melainkan ketiadaan keberanian untuk berbenah secara struktural.
Perang ini terjadi ribuan kilometer dari Jakarta, tetapi dampaknya menampar realitas nasional. Indonesia tidak bisa terus bergantung pada narasi “masih aman” setiap kali dunia bergejolak.
Tanpa reformasi energi yang serius, strategi ekonomi yang antisipatif, dan keberanian keluar dari ketergantungan lama, Indonesia akan terus menjadi korban konflik yang bukan perangnya tetapi selalu harus membayar harganya.
Penulis: Oland Muhammad, Ketua Harian Pemuda Perti Sulsel
*) Semua isi opini ini di luar tanggung jawab redaksi Majesty.co.id
