Panen IP 300 Terus Berjalan di Sidrap, Kali Ini di Aka-Akae
2 min read
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengoperasikan alsintan saat panen padi ketiga di Desa Aka-Akae, Watang Sidenreng. (Foto: Humas Diskominfo Makassar)
Majesty.co.id, Sidrap – Program Indeks Pertanaman (IP) 300 atau panen padi dalam satu musim tanam di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, terus menunjukkan hasil positif.
Kali ini, panen digelar di Desa Aka-Akae, Kecamatan Watang Sidenreng, yang dipimpin langsung Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif alias Syahar, Selasa (23/12/2025).
Bupati Syahar menyampaikan bahwa panen IP 300 tidak hanya berlangsung di Desa Aka-Akae, tetapi juga telah berjalan di sejumlah kecamatan lain, seperti Kulo, Pancarijang, dan Maritengngae.
Syahar mencontohkan panen sebelumnya di Desa Mario yang menghasilkan 8,9 ton per hektare dengan harga gabah Rp7.000 per kilogram.
“Pemkab Sidrap berkomitmen memanfaatkan seluruh musim tanam, baik MT 1, MT 2, maupun MT 3, untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Tantangan di lapangan tidak menjadi penghalang selama petani mampu mengelola lahan secara maksimal,” ujar Syahar.
Ia juga memaparkan dukungan pemerintah daerah terhadap sektor pertanian, mulai dari kelancaran pupuk, stabilitas harga, hingga penguatan infrastruktur.
Di Desa Aka-Akae, dari total 1.027 hektare lahan sawah, sebanyak 552 hektare menerima bantuan optimalisasi lahan nonrawa dengan nilai anggaran sekitar Rp3 miliar.
Bantuan tersebut mencakup pengeboran air untuk sawah nonirigasi.
Selain itu, Pemkab Sidrap juga mengalokasikan program listrik masuk sawah di Kecamatan Watang Sidenreng yang mencakup hampir 3.000 hektare sawah tadah hujan dengan total anggaran sekitar Rp15 miliar, dengan porsi terbesar berada di Desa Aka-Akae.
Pemerintah daerah juga menyiapkan penguatan irigasi, pembentukan brigade pangan, serta mendorong transformasi pertanian berbasis teknologi guna mewujudkan kemandirian air dan peningkatan produktivitas berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Desa Aka-Akae, Amiruddin, mengatakan pola tanam tiga kali setahun telah berjalan dengan baik di wilayahnya. Berdasarkan hasil ubinan, produktivitas padi mencapai sekitar 7,2 ton per hektare.
Ia menambahkan, Desa Aka-Akae tidak lagi memiliki lahan untuk percetakan sawah baru, sehingga penerapan IP 300 menjadi solusi untuk meningkatkan hasil panen dan pendapatan petani.
“Selain padi, masyarakat juga mendapatkan dukungan program penanaman alpukat di pekarangan sebagai sumber tambahan ekonomi,” tandasnya.
Panen perdana IP 300 di Desa Aka-Akae dirangkaikan dengan penyerahan bibit alpukat dan benih padi kepada para petani. (Ril/Adv)
