Appi-Melinda Aksa Panen Urban Farming di Tallo Makassar
3 min read
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi (tengah) memanen sayur dari urban farming di Kelurahan Tammua, Tallo, Jumat (19/6/2026). (Foto: Diskominfo Makassar)
Majesty.co.id, Makassar – Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi didampingi Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa melakukan kunjungan ke kawasan urban farming sekaligus panen sayuran bersama warga di Kelurahan Tammua, Kecamatan Tallo, Jumat (19/6/2026).
Kedatangan Appi disambut Camat Tallo Andi Husni bersama jajaran kelurahan, ketua RT/RW, kader PKK, dan warga setempat.
Camat Tallo Andi Husni mengatakan kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kota Makassar terhadap pengembangan urban farming yang terus digalakkan di wilayahnya.
“Kunjungan bapak wali kota hari ini memberikan semangat dan dukungan kepada kami agar program urban farming terus berkembang,” ujarnya.
Menurut Husni, wali kota juga mendorong agar program pertanian perkotaan diperluas hingga menjangkau seluruh kelurahan dan lingkungan RT/RW di Kecamatan Tallo.
Dalam kunjungan tersebut, Appi dan Melinda Aksa meninjau berbagai fasilitas yang dikembangkan warga, mulai dari area budidaya sayuran, kolam ikan, kandang ayam, teba modern, biopori, hingga pemanfaatan eco enzyme sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan.
Appi juga ikut memanen berbagai jenis sayuran yang telah dibudidayakan masyarakat setempat.
Husni menjelaskan, Kecamatan Tallo menargetkan pengembangan sekitar 50 titik urban farming yang tersebar di berbagai kelurahan sebagai bagian dari program ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat.
“Program ini menjadi salah satu fokus kami di Kecamatan Tallo. Ke depan kami menargetkan sekitar 50 lokasi urban farming yang dapat menjadi pusat edukasi, produksi pangan keluarga, sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat,” katanya.
Selain sebagai kawasan pertanian perkotaan, lokasi tersebut juga dikembangkan sebagai pusat edukasi lingkungan yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, perikanan, pengelolaan sampah organik, dan konservasi lingkungan.
Husni menambahkan, kawasan urban farming itu akan menjadi lokasi pameran urban farming dan peluncuran Sentra Tukar Sampah yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (20/6/2026).
“Kawasan ini nantinya akan menjadi pusat aktivitas masyarakat. Selain pameran urban farming dan peluncuran Sentra Tukar Sampah, kami juga merencanakan area ini menjadi pasar tani yang beroperasi setiap hari Minggu,” jelasnya.
Menurutnya, pasar tani tersebut akan menjadi wadah bagi masyarakat untuk memasarkan hasil pertanian, produk UMKM, serta berbagai produk olahan lokal.
Sementara itu, Appi mengapresiasi inisiatif warga dalam mengembangkan urban farming sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Hari ini, kita melihat langsung bagaimana masyarakat memanfaatkan lahan yang ada untuk kegiatan urban farming. Ini adalah kegiatan yang sangat positif karena selain mendukung kebutuhan pangan keluarga, juga bisa menjadi sumber tambahan penghasilan bagi masyarakat,” ujar Appi.
Ia menjelaskan, urban farming merupakan konsep pertanian yang memanfaatkan lahan terbatas di kawasan perkotaan untuk menghasilkan berbagai komoditas pangan, mulai dari sayuran, buah-buahan, ikan hingga ternak.
Menurutnya, keterbatasan lahan bukan menjadi hambatan untuk bercocok tanam karena masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan rumah, halaman kosong, balkon, hingga media tanam vertikal.
“Dengan cara ini, masyarakat tetap bisa bercocok tanam meskipun tinggal di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan ruang,” katanya.
Munafri juga mengajak masyarakat untuk memulai urban farming dari skala kecil dengan menanam komoditas yang mudah dibudidayakan seperti kangkung, bayam, cabai, dan tomat.
“Yang terpenting adalah kemauan untuk memulai. Tidak harus dengan lahan yang luas. Bahkan dengan memanfaatkan lahan bekas sebagai lokasi tanam, masyarakat sudah bisa menghasilkan kebutuhan pangan untuk keluarga,” tutupnya.
