Cerita Zulkarnain, Pemuda Gowa Nyaris Taklukkan Gunung Elbrus Tertinggi di Eropa
3 min read
Kolase. Momen Pemuda Gowa, Zulkarnain dalam pendakian ke puncak Gunung Elbrus di Rusia. (Foto: Instagram/zq.interisti)
Majesty.co.id, Makassar – Anak muda asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, bernama Zulkarnain berhasil mendaki Gunung Elbrus yang tertinggi di Eropa dan berlokasi di Rusia.
Meski belum mampu mencapai puncak Gunung Elbrus, tapi Zulkarnain telah membuktikan sebagai salah satu manusia dari Sulsel khususnya Limbung, Gowa, yang mendaki gunung setinggi 5.550 Mdpl itu.
Pengalaman Zulkarnain untuk menaklukkan ganasnya Gunung Elbrus sebagai salah satu “Seven Summits” dibagikan kepada Majesty.co.id, Jumat (17/7/2026).
Zulkarnain bercerita, pendakiannya menunjuk puncak Elbrus bersama sejumlah WNI lainnya harus terhenti demi keselamatan.
“Ego berbisik untuk terus melangkah, namun rasionalitas berteriak bahwa pulang dengan selamat adalah prestasi tertinggi,” kata Zulkarnain.
Berangkat Membawa Mimpi
Perjalanan menuju Gunung Elbrus dimulai pada 4 Juli 2026 saat Zulkarnain meninggalkan Makassar menuju Jakarta.
Di ibu kota, pemuda 35 tahun itu bergabung dengan dua pendaki perempuan, Tante Dira dari Jakarta dan Elisca dari Pangkal Pinang.
Mereka kemudian terbang melalui Abu Dhabi menuju Moskow sebelum melanjutkan perjalanan udara ke Mineralnye Vody dan perjalanan darat menuju Lembah Baksan, pintu masuk pendakian Gunung Elbrus.
Ekspedisi tersebut mempertemukan pendaki dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Padang, Bekasi, Karawang, Malang, Jambi, Kalimantan Timur, Pangkal Pinang, Jakarta, hingga Makassar.

Menurut Zulkarnain, mereka dipersatukan oleh satu tujuan yang sama, yakni mengibarkan Merah Putih di atap Eropa.
Sebelum melakukan summit attack, seluruh peserta menjalani proses aklimatisasi yang cukup berat.
Mereka mendaki Gunung Cheget hingga ketinggian 3.050 mdpl, melintasi jalur berbatu di Garabashi 3.400 mdpl, hingga berlatih menggunakan crampon, kapak es, dan harness di tengah hujan salju bersuhu sekitar 1 derajat Celsius pada ketinggian 4.700 mdpl.
Seluruh tahapan tersebut menjadi bekal menghadapi pendakian menuju puncak Elbrus.
Setelah sempat tertunda akibat cuaca buruk, pendakian menuju puncak akhirnya dimulai pada Rabu (15/7/2026) pukul 00.00 waktu setempat di bawah arahan pemandu gunung, Vitali.
Selama delapan jam, mereka berjalan menembus salju abadi dalam suhu yang sangat dingin hingga mencapai ketinggian sekitar 5.550 mdpl.
Namun, kondisi cuaca berubah drastis. Badai mulai menyapu jalur pendakian, sementara beberapa anggota tim mengalami gangguan fisik akibat dingin ekstrem.
Dengan mempertimbangkan keselamatan seluruh peserta dan keterbatasan jumlah pemandu, Vitali bersama Valeri memutuskan menghentikan pendakian.
Keputusan itu harus diterima seluruh anggota tim meski hanya tersisa sekitar 100 meter menuju puncak.
Pulang Membawa Pelajaran Berharga
Meski gagal mencapai titik tertinggi Gunung Elbrus, Zulkarnain mengaku ekspedisi tersebut memberikan pengalaman hidup yang tidak ternilai.
Ia belajar arti persahabatan dari 13 pendaki yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, pentingnya mengendalikan ego, serta makna saling menjaga dalam kondisi yang penuh risiko.
“Di atas sana, keselamatan rekan satu tim jauh lebih berharga daripada kebanggaan pribadi berdiri di titik tertinggi,” ujar Zulkarnain.
Menurutnya, Gunung Elbrus mungkin belum mengizinkannya berdiri di puncak kali ini.
Namun, gunung tertinggi di Eropa itu telah mengajarkan bahwa pencapaian terbesar bukan hanya berdiri di puncak, melainkan mampu kembali ke rumah dengan selamat.
“Kami pulang dengan kepala tegak. Sebab di atas sana kami tidak kalah, kami hanya memilih untuk hidup dan kembali bercerita,” tutup Zulkarnain.
*) Koreksi. Sebelumnya disebutkan Pemuda Takalar dan diubah menjadi Gowa
