Kader Hipma UNM soroti Mandeknya Mubes juga Munculnya “Hipma Pemberontak”
2 min read
Dialog yang digelar Hipma Komisariat UNM di Titik Singgah Coffee, Gowa, Selasa (5/5/2026). (Foto: Istimewa/HO)
Majesty.co.id, Gowa – Himpunan Pelajar Mahasiswa (HIPMA) Gowa Komisariat Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar bazar dan dialog publik untuk membedah polemik akun anonim serta mandeknya pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) DPP Hipma Gowa.
Kegiatan bertajuk “MPO dan DPP Hipma Gowa dalam Lingkaran Narasi Anonimitas” ini berlangsung di Titik Singgah Coffee, Gowa, Selasa (5/5/2026).
Diskusi Hipma Komisariat UNM menyoroti maraknya kritik dari media sosial terhadap internal organisasi.
Dialog tersebut menghadirkan Mumtaz Khalil Gibran Yusuf dan Abimanyu Asbur sebagai pemantik diskusi.
Fokus utama perdebatan adalah munculnya akun-akun anonim di Instagram, seperti “hipmagowa.pemberontak”, yang secara konsisten menyerang kinerja Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
Dinamika ini memicu pro dan kontra di kalangan kader mengenai cara penyampaian aspirasi serta dampaknya terhadap nama baik organisssi.
Mumtaz Khalil Gibran Yusuf mempertanyakan independensi serta keberanian di balik gerakan akun anonim tersebut.
Ia menilai kritik tersebut tidak proporsional karena hanya menyasar satu struktur, sementara elemen lain seperti Koordinatorat Komisariat (Koorkom) yang pasif luput dari sorotan.
Ia mendorong agar setiap persoalan diselesaikan melalui saluran resmi organisasi secara terbuka.
“Seharusnya kritik diarahkan ke Hipma Gowa secara keseluruhan, bukan hanya ke satu struktur saja,” kata Mumtaz dalam keterangan tertulis.
Kekhawatiran terhadap penurunan kepercayaan publik juga disuarakan oleh Ketua Umum Hipma Gowa Koordinatorat Bungaya, Sitti Rahmayanti.
Ia mengaku dampak dari narasi anonim tersebut mulai menggerus citra organisasi di mata pemuda dan masyarakat luas.
“Kami dari Koordinatorat Bungaya sangat merasakan dampak yang kurang baik dari akun anonim tersebut, kepercayaan pemuda dan masyarakat semakin menurun,” ungkapnya.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh mantan Ketua Umum Hipma Gowa Komisariat UNM, Muhammad Agung Syafaat.
Ia justru melihat fenomena ini sebagai pemantik semangat bagi pengurus pusat untuk segera bergerak menuntaskan kewajiban organisatoris, termasuk persiapan Mubes.
“Saya sepakat dengan adanya akun anonim tersebut karena sedikit berdampak terhadap DPP Hipma Gowa, beberapa hari lalu mereka langsung melakukan rapat persiapan pelaksanaan Musyawarah Besar,” jelas Agung.
Diskusi ini menjadi ruang refleksi bagi seluruh kader untuk menimbang kembali transparansi dan tanggung jawab kolektif dalam berorganisasi.
Melalui dialog ini, diharapkan DPP Hipma Gowa dapat segera memberikan kepastian jadwal Musyawarah Besar guna menjaga stabilitas dan marwah organisasi di masa mendatang.
