04/11/2026

Majesty.co.id

News and Value

Mahasiswa Tewas Ditikam, RSI Faisal Makassar Didemo atas Dugaan Kelalaian Medis

4 min read
Demo mahasiswa asal Bone digelar di Jalan A.P. Pettarani dekat RSI Faisal Makassar.
Demo aliansi Mahasiswa Bone di area RSI Faisal, Jalan Andi Pangerang Pettarani, Kota Makassar, Rabu (4/11/2026). (Foto: Majesty.co.id/Arya)

Majesty.co.id, Makassar — Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Wija To Bone bersama Kerukunan Pemuda Arung Palakka menggelar aksi unjuk rasa memprotes pelayanan Rumah Sakit Islam (RSI) Faisal Kota Makassar.

Demo mahasiswa asal Bone digelar di Jalan A.P. Pettarani dekat RSI Faisal Makassar pada Rabu (4/11/2026).

Dalam aksi tersebut, massa memblokade separuh badan jalan dan membakar ban bekas sebagai bentuk protes.

Orasi yang disampaikan secara bergantian menyebabkan arus lalu lintas di sekitar lokasi mengalami kemacetan.

Aksi itu dipicu dugaan kelalaian pelayanan Rumah Sakit Islam (RSI) Faisal Makassar terhadap Sopyan (23), mahasiswa Politeknik Maritim AMI (Polimarim AMI), yang meninggal dunia setelah menjadi korban penikaman di Jalan Boulevard, Kecamatan Panakkukang, Makassar.

Jenderal Lapangan Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Wija To Bone bersama Kerukunan Pemuda Arung Palakka, Khaidir, mengatakan korban sempat dibawa ke RSI Faisal untuk mendapatkan pertolongan awal.

Namun, menurut Khaidir, korban justru diarahkan untuk dirujuk ke Rumah Sakit CPI tanpa mendapatkan penanganan awal sebagaimana diharapkan keluarga dan rekan korban.

“Pada saat sampai di Rumah Sakit Faisal, ini temannya yang bernama Resa, dia yang ambil ini troli atau kasur untuk korban, kemudian menaikkan korban ke atas kasur,” kata Khaidir di lokasi demonstrasi.

Ia menjelaskan, ketika korban hendak didorong masuk untuk mendapatkan penanganan, pihak rumah sakit disebut menolak dan meminta agar korban dibawa ke Rumah Sakit CPI.

“Ketika sudah mau didorong ke dalam, pihak rumah sakit menolak. Katanya silakan bawa ke Rumah Sakit CPI,” ungkapnya.

Khaidir mengatakan, rekan korban yang mengantar menggunakan mobil pribadi telah meminta agar Sopyan terlebih dahulu mendapatkan pertolongan medis di RSI Faisal. Mereka bahkan menyatakan bersedia menanggung biaya pengobatan.

“Calu yang membawa mobilnya sendiri itu mengantar korban ke Rumah Sakit Faisal, dia meminta pihak rumah sakit untuk ditangani dulu, berapapun akan dia siap dia bayar. Itu pernyataan yang keluar,” jelasnya.

Selain meminta penanganan awal, rekan korban juga disebut meminta fasilitas ambulans untuk memudahkan pemindahan pasien ke rumah sakit rujukan.

Namun, permintaan itu diklaim tidak dipenuhi dengan alasan administratif.

“Meminta juga teman-teman korban ini meminta untuk diberikan ambulans sebagai memudahkan perjalanan korban ke Rumah Sakit CPI. Tetapi dari pihak rumah sakit enggan memberikan juga fasilitas ambulans dengan alasan administratif,” ucap Khaidir.

Karena tidak mendapatkan ambulans, rekan korban akhirnya membawa Sopyan ke Rumah Sakit Bhayangkara menggunakan kendaraan pribadi.

Mereka mempertimbangkan rumah sakit tersebut lebih dekat untuk dijangkau.

Namun, setibanya di Rumah Sakit Bhayangkara, Sopyan diketahui telah meninggal dunia.

“Ketika sudah sampai di Rumah Sakit Bhayangkara, ternyata tanpa diketahui oleh teman-teman, nyawa korban ini sudah melayang. Nyawa korban ini sudah hilang di perjalanan ke Rumah Sakit Bhayangkara, belum sempat diberikan pertolongan pertama,” ucapnya.

Khaidir menyebut, dalam audiensi bersama keluarga dan saksi, perwakilan RSI Faisal menjelaskan bahwa korban diduga mengalami gangguan saraf sehingga disarankan untuk dirujuk ke Rumah Sakit CPI.

Meski demikian, ia mempertanyakan alasan tersebut karena menurutnya luka tusukan yang masih tertancap di bagian betis korban tidak mendapatkan penanganan awal.

“Tidak melihat bahwasanya di betisnya korban ini masih ada patik yang terkancap, jadi korban ini meninggal karena kehabisan darah tanpa adanya pertolongan pertama dari Rumah Sakit Faisal, seperti itu,” tegasnya.

Atas kejadian itu, massa menyampaikan sejumlah tuntutan. Mereka mendesak agar dugaan kelalaian dalam penanganan pasien gawat darurat di RSI Faisal Makassar diusut secara tuntas.

Massa juga meminta polisi segera mengamankan rekaman kamera pengawas atau CCTV di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSI Faisal Makassar untuk menjaga keutuhan barang bukti.

Selain itu, mereka menuntut transparansi manajemen RSI Faisal terkait prosedur pelayanan dan alasan korban disebut tidak mendapatkan penanganan medis saat tiba di rumah sakit.

Massa turut meminta pertanggungjawaban manajemen RSI Faisal Makassar dan Kalla Group atas persoalan pelayanan tersebut.

Terakhir, mereka mendesak evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kegawatdaruratan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, pihak RSI Faisal Makassar belum memberikan tanggapan terkait dugaan kelalaian yang disampaikan massa aksi.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.