09/10/2026

Majesty.co.id

News and Value

Ismunandar, Guru Besar ITB Daftar Bacalon Rektor UNM

4 min read
Ismunandar tercatat sebagai pendaftar ketujuh Bacalon Rektor UNM. Guru Besar ITB itu menjadi kandidat pamungkas.
Profesor Ismunandar (kiri) menyerahkan berkas pendaftaran bacalon rektor UNM kepada ketua panitia Profesor Andi Moh. Idkhan di Makassar, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa/HO)

Majesty.co.id, Makassar – Guru Besar Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Profesor Ismunandar, ikut mendaftar sebagai bakal calon rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2027-2031.

Ismunandar mendaftar Bacalon Rektor UNM pada Jumat (9/10/2026) atau pada hari terakhir yang dibuka panitia pelaksana di lantai 14 Menara Phinisi UNM.

Ismunandar tiba di menara Phinisi UNM sekira pukul 09:00 WITA. Kedatangannya didampingi sang istri dan sejumlah rekan.

Advertisement
DPRD Sulsel

Ia merasa terhormat mengikuti proses pendaftaran bacalo rektor UNM. Ia menilai prosesi yang dijalankan panitia berlangsung formal dan profesional.

“Terima kasih, saya senang sekali. Ini pengalaman pendaftaran rektor yang sangat formal. Saya pernah terus terang ikut proses pendaftaran atau seleksi bakal calon rektor di tempat lain, tetapi tidak se apa? Ini prosesinya formal sekali. Panitianya lengkap dan sangat hebat. Saya sangat merasa terhormat mengikuti prosesi ini,” kata Ismunandar.

Ismunandar tercatat sebagai pendaftar ketujuh Bacalon Rektor UNM. Sehari sebelumnya, ada mantan Dekam Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan UNM, Profesor Hasmyati.

Ia tegas mengakui bukan alumni UNM. Ismunandar kuliah sarjana dan magister di ITB serta melanjutkan program doktor di University of Sydney, Australia.

Meski berasal dari luar lingkungan UNM, Ismunandar mengaku tidak asing dengan Makassar. Istrinya merupakan orang Makassar sehingga kota ini memiliki kedekatan tersendiri dalam perjalanan hidupnya.

“Saya, kalau dari sisi darah atau ini, orang Jawa tapi istri saya orang Makassar. Istri saya orang Makassar dan almarhum ayah mertuanya adalah di Unhas, jadi tidak asing. Saya di Makassar ya sudah tanah lahir kedua saya,” katanya.

Jejak Akademik Ismunandar


Dari sisi pengalaman profesional, Prof Ismunandar memiliki rekam jejak di lingkungan akademik maupun pemerintahan.

Ia pernah menjadi dosen di ITB, memimpin jurusan dan fakultas, hingga menjabat Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di kampus tersebut.

Ia juga pernah bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura dan Washington DC, Amerika Serikat, dalam bidang diplomasi bilateral. Selain itu, ia pernah terlibat dalam tim Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Pengalaman lainnya mencakup jabatan direktur jenderal di lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), keterlibatan di lingkungan Ristek-BRIN, serta penugasan sebagai Duta Besar Indonesia untuk UNESCO di Paris, Prancis.

Sekembalinya dari Paris, ia diminta Menteri Kebudayaan untuk menjabat sebagai Staf Ahli Kebudayaan.

Di tengah berbagai penugasan tersebut, ia mengaku tetap membimbing mahasiswa program doktor, meski sudah lama tidak mengajar rutin di kelas sarjana dan magister.

“Semua ini seandainya dipercaya oleh komunitas dan sivitas akademika UNM, akan saya persembahkan untuk UNM dan mudah-mudahan untuk kemajuan bersama,” ujarnya.

Jika dipercaya memimpin UNM, Ismunandar menilai pengalaman akademik dan jaringan internasional yang dimilikinya dapat menjadi modal untuk mendorong pengembangan kampus, terutama dalam memperkuat daya saing global.

Menurutnya, kampus UNM telah memiliki sejumlah modal awal, di antaranya program studi yang terakreditasi internasional dan kerja sama riset dengan mitra luar negeri.

Ia juga menyoroti sejumlah inisiatif internasional yang telah dilakukan di lingkungan UNM, termasuk kehadiran profesor tamu dari luar negeri di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

“Semua itu adalah contoh-contoh beberapa hal yang saya kira modal. Tentu dengan jaringan kita bersama dan mungkin juga kontak-kontak yang saya punya, jaringan yang saya punya, kita kalau terpilih nantinya tentu saja kita bisa tingkatkan lebih besar lagi untuk push internasional,” jelasnya.

Ismunandar turut menilai proses pemilihan rektor harus menjadi ruang demokratis bagi para kandidat untuk menyampaikan gagasan, program, dan kompetensi masing-masing.

“Ini adalah proses akademik demokratis yang kita berharap adu gagasan, adu program, adu kompetensi,” tegasnya.

Ia berharap UNM terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang semakin maju, unggul, dan mandiri.

Ismunandar ingin status UNM sebagai kampus Badan Layanan Umum (BLU), menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).

Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan kerja keras bersama serta dukungan pemerintah pusat agar UNM dapat memperkuat posisi dan daya saingnya di masa mendatang.


Penulis: Anca/Str

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.