Plus-Minus PSM dua Laga Terakhir: Main Dominan, Lemah Penyelesaian Akhir
3 min read
Gelandang PSM Makassar Ananda Raehan menggiring bola di depan pemain Arema FC pada pertandingan pekan kedua Super League 2026/27 di Stadion Gelora B.J Habibie, Parepare, Minggu (13/9/2026). (Foto: Official PSM)
Majesty.co.id, Parepare — Pelatih PSM Makassar Darije Kalezic memberikan evaluasi setelah timnya memaksa Arema FC bermain imbang 3-3 pada pekan ke-2 Super League di Stadion Gelora B.J. Habibie, Kota Parepare, Minggu (13/9/2026).
Kalezic menilai PSM tampil sangat baik pada babak pertama. Menurutnya, tim mampu menerapkan gaya bermain baru yang selama ini dibangun dalam latihan.
“Saya bisa katakan bahwa kami memulai pertandingan dengan sangat, sangat baik. Faktanya, kami memainkan babak pertama persis seperti apa yang kami inginkan,” ujar Kalezic dalam sesi post-match usai pertandingan di Parepare.
Arema mencetak dua gol lebih dulu ke gawang PSM melalui aksi indivisi Gabriel Silva menit 29. Kemudian tendangan penalti Gustavo Franca menit 35.
Tuan rumah memperkecil ketertinggalan lewat tendangan penalti Stefan Jevtoski jelang turun minum. Skor 2-1 menutup babak pertama.
Usai jeda, Careca menambah gol Arema menjadi 3-1 dengan sepakan spektakulernya. PSM selamat dari kekalahan berkat sepasan gol Luka Cumic masing-masing menit 66 dan 90+6.
Kalezic menyebut PSM mampu menciptakan banyak peluang dan seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol pada babak pertama.
Namun, Kalezic mengakui PSM masih memiliki kelemahan dalam penyelesaian akhir dan umpan terakhir.
“Namun dalam proses ini—proses pembangunan pemain muda tempat kami menerapkan semua hal baru—Anda bisa melihat kami masih kehilangan elemen kunci hari ini untuk bisa memimpin 2-0, 3-0, atau 4-0 di babak pertama, yaitu mencetak gol serta memberikan umpan terakhir (final pass). Hanya itu yang kurang dari kami di babak pertama,” jelas Kalezic.
Apa yang disampaikan Kalezic secara statisik memang terbukti. Menurut data Lapanganbola.com, PSM menguasai 63 persen bola disertai 17 persen kemampuan menciptakan peluang.
Statistik itu jauh di atas Arema FC dengan 37 persen ball possesion dan 6 created chance.
PSM juga unggul dalam sentuhan di kotak penalti lawan dengan 44 kali, berbanding 19 sentuhan milik Arema.
PSM Kebobolan dari Situasi Transisi
Kalezic juga menyoroti enam gol yang bersarang di gawang PSM dalam dua pertandingan awal Super League. Ia menilai sebagian besar gol tersebut terjadi setelah tim kehilangan bola.
“Ya, kebobolan enam gol dalam dua pertandingan tentu terlalu banyak. Saya setuju dengan Anda. Sebagian besar gol tersebut terjadi melalui situasi transisi setelah kita kehilangan bola,” ujarnya.
Menurut Kalezic, persoalan tersebut menjadi bagian dari proses PSM dalam menerapkan gaya bermain baru. Ia meminta waktu untuk membenahi berbagai situasi dalam pertandingan.
Menurutnya, Rizky Eka dan kawan-kawan sudah mampu mengontrol pertandingan ketika menguasai bola. Namun, aspek tersebut harus diimbangi kemampuan mengendalikan permainan ketika kehilangan bola.
“Namun, kami juga harus bisa mengontrol permainan saat kehilangan bola. Ini adalah sesuatu yang membutuhkan waktu dan kita harus bersabar untuk memperbaikinya,” kata pelatih asal Bosnia tersebut.
Kalezic menyebut PSM baru bekerja bersama selama enam hingga delapan pekan. Karena itu, ia melihat masih ada proses yang harus dijalani untuk memperbaiki permainan tim, terutama ketika kehilangan bola.
“Kami baru bekerja sama selama enam hingga delapan minggu. Jadi Anda bisa melihat dengan jelas bahwa kami paling sering kebobolan lewat transisi, dan hal ini tentu sedang kami benahi agar di masa depan bisa berbalik menjadi keuntungan kami,” tegasnya.
PEMBERITAHUAN HAK CIPTA: Seluruh konten yang dipublikasikan di Majesty.co.id dilindungi dan tidak diperkenankan untuk diambil, disalin, didistribusikan, dipublikasikan ulang, maupun digunakan untuk keperluan crawling atau pengindeksan otomatis oleh sistem AI tanpa izin tertulis dari Redaksi Majesty.co.id.
