27/08/2026

Majesty.co.id

News and Value

Jejak Akademik Prof Eko Hadi Sujiono: Dari Belanda ke Makassar Amalkan Ilmu

7 min read
Pengalaman panjang Prof Eko Hadi Sujiono di dunia penelitian, termasuk ketika berada di University of Twente, menjadi bagian dari rekam jejaknya sebagai akademisi.
Kolase. Prof. Eko Hadi Sujiono saat menekuni riset pada Mesa+ Research Institute di Belanda. (Foto: Istimewa/HO)

Majesty.co.id, Makassar — Perjalanan seorang peneliti ke luar negeri tidak selalu berakhir ketika pesawat membawanya pulang ke Indonesia.

Ada ilmu yang dibawa, jejaring yang ditinggalkan lalu terhubung kembali, cara bekerja yang berubah, serta pengalaman yang kemudian dibagikan kepada generasi berikutnya.

Hal itulah yang menjadi bagian dari perjalanan Prof. Eko Hadi Sujiono ketika menjalani penelitian pascadoktoral di University of Twente, Belanda, pada 2002 hingga 2004.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktor bidang fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2001, Eko mendapat kesempatan melanjutkan penelitian di lingkungan yang mempertemukan fisika, material, elektronika, dan teknologi.

Kesempatan itu datang melalui Prof Tjia May On, ko-promotornya saat menempuh pendidikan doktoral di ITB. Tjia menyampaikan undangan dari Prof Horst Rogalla, peneliti di bidang elektronika superkonduktor. Eko kemudian berangkat ke Belanda.

Di University of Twente, Eko bergabung dengan Mesa+ Research Institute, Department of Applied Physics, Low Temperature Division.

Bagi seorang peneliti muda saat itu, pengalaman tersebut bukan sekadar kesempatan bekerja di laboratorium luar negeri. Ada pelajaran yang lebih panjang tentang bagaimana penelitian dikembangkan, mulai dari pertanyaan dasar mengenai material hingga diarahkan menjadi teknologi yang dapat digunakan.

Dari Material hingga Sinyal Elektronik


Salah satu bidang yang ditekuni Eko selama berada di Twente berkaitan dengan teknologi superkonduktor.


Secara sederhana, superkonduktor merupakan material yang pada kondisi tertentu, terutama pada suhu sangat rendah, mampu menghantarkan listrik dengan hambatan yang sangat kecil.

Sifat tersebut membuat superkonduktor menarik untuk berbagai aplikasi teknologi yang membutuhkan kecepatan dan sensitivitas tinggi.

Salah satu topik yang dipelajari Eko adalah Super ADC atau superconducting analog-to-digital converter.

ADC merupakan perangkat yang berfungsi mengubah sinyal analog menjadi data digital.

Teknologi tersebut sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Suara manusia, misalnya, merupakan sinyal analog. Ketika seseorang berbicara melalui telepon, suara ditangkap perangkat, diubah menjadi data digital, diproses, kemudian dikirimkan ke perangkat penerima.

Proses serupa juga digunakan dalam berbagai perangkat elektronik, sensor, kamera, alat kesehatan, hingga sistem komunikasi.

Dari penelitian semacam itu, Eko belajar bahwa penelitian material tidak berhenti pada pertanyaan tentang material mana yang memiliki sifat terbaik.

Ada pertanyaan berikutnya: bagaimana material tersebut dapat bekerja di dalam sebuah perangkat?

Pertanyaan itulah yang membawa penelitian dari laboratorium menuju teknologi.

Meneliti Lapisan yang Sangat Tipis


Penelitian Eko juga berkaitan dengan pembuatan dan karakterisasi lapisan tipis superkonduktor.

Meski berukuran sangat kecil, kualitas lapisan tersebut berpengaruh terhadap kinerja perangkat.

Peneliti harus memastikan material dibuat dengan kondisi yang tepat. Suhu harus dikendalikan, komposisi diperhatikan, dan waktu proses diatur.

Hasilnya kemudian diperiksa menggunakan berbagai instrumen. Kesalahan kecil dalam proses dapat memengaruhi hasil akhir.

Bagi Eko, proses tersebut memberikan pelajaran penting tentang penelitian.

Hasil yang baik tidak selalu diperoleh melalui satu percobaan. Peneliti harus mencoba, mencatat hasil, menemukan kekurangan, memperbaiki proses, kemudian kembali melakukan percobaan.

Di situlah ketekunan menjadi bagian penting dari ilmu pengetahuan.

Selain superkonduktor, pengalaman penelitian Eko di Twente juga memperkenalkannya lebih jauh pada teknologi terahertz.

Terahertz merupakan wilayah gelombang elektromagnetik dengan frekuensi sangat tinggi. Teknologi ini memiliki potensi untuk berbagai aplikasi, mulai dari pencitraan dan pemeriksaan material hingga pengembangan sistem komunikasi dan sensor.

Namun, teknologi tersebut membutuhkan perangkat yang mampu menghasilkan, menangkap, dan mengolah sinyal dengan tingkat ketelitian tinggi.

Bagi peneliti, tantangannya bukan hanya memahami teori, tetapi juga bagaimana membuat material dan perangkat mampu bekerja secara konsisten.

Dari sinilah pengalaman penelitian di laboratorium internasional menjadi penting. Eko tidak hanya belajar mengenai sebuah material, tetapi juga bagaimana fisika, material, elektronika, dan rekayasa teknologi dipertemukan dalam satu penelitian.

Jejaring yang Terbentuk di Belanda


Ada hal lain yang dibawa Eko dari Belanda. Bukan berupa peralatan laboratorium, melainkan jejaring akademik.

Selama berada di University of Twente, ia bertemu dengan peneliti dari berbagai negara. Di antaranya Prof Khartikeyan dari India, Prof Ariando dari National University of Singapore, serta Prof Darminto dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam lingkungan akademik dan penelitian. Namun, hubungan yang terbentuk tidak berhenti setelah mereka meninggalkan Belanda.

Jejaring akademik yang lahir dari diskusi penelitian dapat bertahan selama bertahun-tahun apabila dirawat melalui komunikasi, kepercayaan, dan kerja sama.

Hubungan tersebut bahkan kemudian berkembang menjadi kolaborasi penelitian.

Pada 2026, Eko bersama Prof Khartikeyan terlibat dalam penelitian kolaboratif mengenai baterai seng-udara atau zinc-air battery.

Teknologi tersebut menjadi salah satu bidang yang dikembangkan dalam sistem penyimpanan energi. Di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap energi bersih dan energi terbarukan, teknologi penyimpanan energi menjadi salah satu persoalan penting yang terus diteliti.

Ilmu yang Dibawa Pulang ke Makassar


Bagi Eko, pengalaman di luar negeri tidak berhenti pada kisah perjalanan akademik.

Setelah kembali ke Indonesia, pengalaman tersebut diteruskan melalui kegiatan pendidikan, penulisan buku, pembinaan kelompok riset, serta pengembangan perangkat penelitian, termasuk pengembangan alat deposisi lapisan tipis di Universitas Negeri Makassar (UNM).

Di sinilah makna sebuah pengalaman internasional menjadi lebih luas.

Ukuran keberhasilan seorang akademisi bukan semata-mata berapa lama ia pernah berada di luar negeri atau berapa banyak konferensi internasional yang diikuti.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dibawa pulang.

Apakah ilmu tersebut dibagikan kepada mahasiswa? Apakah pengalaman itu membantu membangun laboratorium? Apakah jejaring internasional dapat membuka kolaborasi? Dan apakah penelitian yang dilakukan mampu menjawab persoalan di sekitar kampus dan masyarakat?

Dari Laboratorium ke Persoalan Masyarakat


Perguruan tinggi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah.

Ada kebutuhan untuk memastikan penelitian memiliki hubungan dengan persoalan nyata.

Di Sulawesi Selatan, misalnya, terdapat berbagai persoalan yang dapat menjadi ruang penelitian. Mulai dari pendidikan di daerah, kualitas lingkungan, kebutuhan energi, pengelolaan air, teknologi tepat guna, hingga penguatan usaha masyarakat.

Laboratorium kampus dapat menjadi salah satu tempat untuk mencari jawabannya.

Karena itu, pengalaman riset internasional menjadi semakin penting ketika mampu memperluas cara pandang, tetapi tetap diarahkan untuk menjawab kebutuhan di daerah.

Berpikir global, tetapi bekerja untuk persoalan di sekitar.

Apa yang Bisa Dibawa ke UNM?


Pengalaman panjang Eko Hadi Sujiono di dunia penelitian, termasuk ketika berada di University of Twente, menjadi bagian dari rekam jejaknya sebagai akademisi.

Dalam dinamika Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar periode 2026–2030, pengalaman tersebut tentu menjadi salah satu hal yang dapat dilihat warga kampus.

Namun, pengalaman internasional pada akhirnya bukan tujuan. Ia adalah modal.

Yang lebih penting adalah bagaimana modal tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang memberikan ruang lebih besar bagi mahasiswa, dosen muda, dan peneliti.

Bagaimana laboratorium dapat semakin produktif?

Bagaimana mahasiswa dapat terlibat dalam penelitian sejak dini?

Bagaimana dosen muda memperoleh kesempatan membangun kelompok riset?

Bagaimana kerja sama internasional dapat menghasilkan penelitian bersama, bukan sekadar seremoni?

Dan bagaimana hasil penelitian dapat keluar dari jurnal untuk memberikan manfaat bagi masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi tantangan perguruan tinggi ke depan.

Pulang Membawa Ilmu


Perjalanan dari Belanda ke Makassar pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang akademisi yang pernah melakukan penelitian di luar negeri.

Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi setelah seseorang kembali ke rumah.

Ilmu yang diperoleh di laboratorium, pengalaman bekerja dengan peneliti dari berbagai negara, serta jejaring yang dibangun baru memiliki arti ketika diteruskan kepada orang lain—mahasiswa, dosen muda, peneliti, guru, dan masyarakat.

Sebab, perguruan tinggi yang kuat bukan hanya perguruan tinggi yang mampu mengirim akademisinya ke berbagai penjuru dunia.

Lebih dari itu, perguruan tinggi harus mampu membawa pulang pengetahuan dunia, mengolahnya sesuai kebutuhan sendiri, lalu mengubahnya menjadi manfaat bagi masyarakat.

Dari Belanda ke Makassar, perjalanan riset Prof Eko Hadi Sujiono memperlihatkan satu hal sederhana: ilmu pengetahuan boleh berjalan jauh, tetapi pada akhirnya ia harus kembali memberi manfaat di tempat kita berpijak.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.