25/08/2026

Majesty.co.id

News and Value

Buka MTQ Korpri, Menag sebut Dunia “Demam” Al-Qur’an, Laris Seperti Pisang Goreng

2 min read
Menurut Nasaruddin Umar, semangat Al-Qur'an tidak bisa dibendung lagi. Maka, MTQ Korpri bukan sekadar ajang melafalkan seni membaca Al-Quran.
Menag Nasaruddin Umar pada pembukaan MTQ VIII Korpri tingkat nasional di Lapangan Karebosi, Kota Makassar. (Foto: Youtube/Diskominfo Makassar)

Majesty.co.id, Makassar – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa dunia sedang “demam” Al-Qur’an. Buku-buku tentang kitab agama Islam itu disebut paling dicari di banyak negara. Ia ibaratkan seperti larisnya pisang goreng.

Hal itu disampaikan Nasaruddin Umar saat berpidato pada pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran Korps Pegawai Republik Indonesia atau MTQ ke-8 KORPRI tingkat nasional di Lapangan Karebosi, Kota Makassar, Senin (24/8/2026) malam

Menurut Nasaruddin Umar, semangat Al-Qur’an tidak bisa dibendung lagi. Maka, MTQ Korpri bukan sekadar ajang melafalkan seni membaca Al-Quran.

“MTQ itu bapak ibu sekalian, bukan untuk memperdengarkan, memperlombakan seni baca Al-Qur’an. Al-Qur’an sekarang ini, dunia sedang ‘demam’ Al-Qur’an,” tutur Nasaruddin Umar dilihat dari tayangan live streaming Youtube Diskominfo Makassar.

Nasaruddin menyebut, salah satu bukti demam Al-Qur’an adalah jurnal perbukuan di Amerika Serikat yang paling laris bertema tentang Qur’an.

Tidak hanya jurnal tentang Al-Qur’an, ia mengungkapkan buku-buku tentang Al-Qur’an juga banyak dibaca di perpustakaan Amerika maupun Eropa.

Nasaruddin mengibaratkan tingginya minat terhadap Al-Qur’an seperti larisnya pisang goreng.

“Terbitan atau buku yang paling laris di perpustakaan dibaca dan yang paling laris di toko-toko buku adalah Al-Qur’an. [Laris] seperti pisang goreng,” imbuh Imam Besar Masjid Istiqlal ini.

“Tidak ada terbitan yang bisa mengalahkan oplah penjualan Al-Qur’an di toko-toko buku, baik itu di Amerika maupun Eropa.”

Di sisi lain, Nasaruddin menjelaskan bahwa di Indonesia kebutuhan untuk membeli Al-Qur’an mencapai 2 juta per tahun.

Tingginya kebutuhan membeli Al-Qur’an tidak sebanding kemampuan percetakan di dalam negeri.

“Tapi kemampuan cetak kita itu hanya sampai 400 ribu sampai 500 ribu Al-Qur’an, sehingga harus mengimpor Al-Qur’an dari beberapa negara lain,” jelas Nasaruddin Umar.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.