Connecting Minds, Creating Impact: Aksi SDGs Pemuda Serumpun Melalui ISEP 2026 di Malaysia
4 min read
Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Hasanuddin, Mukhlisatul Amaliyah Putri (kiri) dalam agenda ISEP 2026 di Malaysia. (Foto: Istimewa/HO)
Dua pekan menjadi delegasi Indonesia di Malaysia menyadarkan saya, bahwa Sustainable Development Goals bukan sekadar teori di buku kuliah, melainkan kerja kolaboratif yang lahir dari keberanian merangkul perbedaan.
Oleh, Mukhlisatul Amaliyah Putri — Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Hasanuddin, Delegasi ISEP 2026.
Ada jarak yang cukup jauh antara membaca Sustainable Development Goals (SDGs) di dalam buku kuliah dan benar-benar duduk di sebuah kampung kecil di Malaysia, mendengar langsung persoalan warganya, lalu dituntut merumuskan solusi bersama mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Jarak itulah yang saya tempuh selama dua pekan, sejak 9–21 Mei sebagai delegasi Indonesia untuk International Student Mobility Programme (ISEP) 2026 di Universiti Utara Malaysia (UUM).
Bagi saya yang menempuh studi Ilmu Politik, keterlibatan ini bukan sekadar perjalanan akademik biasa. Pengalaman berorganisasi di kampus, memang telah memberi saya fondasi awal tentang pentingnya membangun koneksi global dan membaca keberagaman karakter.
Namun, begitu melangkah ke ruang internasional, saya belajar satu hal yang tidak tertulis di silabus mana pun, yaitu gagasan-gagasan besar dunia hanya akan bermakna bila dihidupkan lewat aksi nyata dan kolaborasi yang erat antar pemuda serumpun.
Perjalanan ini dibuka dengan UUM Learning Experience, sebuah fase yang saya maknai sebagai upaya menghubungkan banyak pemikiran (connecting minds).
Di ruang kelas yang baru itu, saya menyadari bahwa kepemimpinan sejati selalu bermula dari kemampuan memimpin diri sendiri.
Alih-alih menyembunyikan keraguan, saya menantang diri untuk berani angkat suara, aktif dalam sesi presentasi dan membangun komunikasi dua arah dengan teman-teman baru.
Proses ini tidak menuntut saya melepaskan karakter yang saya bawa dari Tanah Air; sebaliknya, ia melatih kelenturan untuk menyesuaikan diri dengan ritme belajar yang berbeda.
Dari interaksi-interaksi sederhana semacam itu, cara pandang kami sebagai sesama mahasiswa serumpun perlahan menjadi semakin kaya. Dimensi kolaborasi itu benar-benar diuji ketika kami memasuki agenda Living with Locals di Kampung Telok Kandis.

Menariknya, meski sebagian besar dari kami berasal dari rumpun ilmu sosial dan humaniora—bahkan banyak yang berlatar komunikasi—perbedaan etos kerja dan ritme komunikasi di lapangan tetap memunculkan gesekan.
Di tengah hangatnya sambutan para orang tua angkat di desa, tim kami dituntut menyatukan persepsi untuk mengamati persoalan sosial-ekonomi warga setempat.
Ada yang terbiasa berkomunikasi secara langsung dan praktis, adapula yang lebih suka mendalami persoalan secara perlahan.
Sempat muncul hambatan ketika cara kami merumuskan masalah tak selalu sejalan. Namun, berbekal niat untuk terus belajar bersama, kami pelan-pelan menemukan seni menyelaraskan perbedaan tanpa harus mengorbankan keutuhan tim.
Gesekan di lapangan itu kemudian bermuara pada dampak nyata (creating impact) saat kami berkompetisi dalam Pitching Competition.
Kami ditantang menerjemahkan hasil observasi di desa menjadi solusi konkret yang dikaitkan dengan poin-poin SDGs, lalu menuangkannya ke dalam sebuah poster.
Dikejar tenggat yang ketat, saya memilih memperlakukan keberagaman cara kerja bukan sebagai penghambat, melainkan sebagai modal.
Kami memetakan kelebihan masing-masing dan membagi peran secara adil: ada rekan yang piawai menata struktur teknis poster, sementara saya mengoptimalkan kacamata Ilmu Politik untuk merangkai narasi dampak sosialnya.
Sinergi itu membuktikan bahwa perbedaan yang dikelola dengan baik justru melahirkan karya yang jauh lebih utuh.
Tentu, menjaga performa terbaik di negeri orang di tengah tekanan akademik bukanlah perkara ringan; ada titik-titik ketika energi terkuras dansemangatmenurun.
Pada saat-saat seperti itu, dukungan dari jauh oleh kedua orang tua saya menjadi jangkar yang membuat saya tetap membumi.
Saya pun membiasakan diri berhenti sejenak untuk berefleksi, mengingat kembali alasan paling awal mengapa saya berjuang hingga bisa berdiri di titik ini.
Penawar lelah lainnya datang dari agenda-agenda nonformal: menyusuri situs-situs bersejarah Malaysia bersama sesama delegasi, hingga puncaknya pada Cultural Exchange Night.
Di malam penutupan itu, kami menampilkan kekhasan budaya daerah masing-masing dengan penuh bangga, merayakan identitas lokal di panggung internasional.
Pada akhirnya, ISEP 2026 di Universiti Utara Malaysia bukanlah soal seberapa banyak catatan baru yang memenuhi buku kuliah kami.
Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi ruang yang menempa kami menjadi pribadi yang lebih tangguh, lebih berempati, dan lebih siap merebut peluang global yang kian kompetitif.
Satu pesan yang ingin saya titipkan bahwa jangan pernah takut melangkah ke lingkungan yang baru, dan beranikan diri merangkul rasa tidak nyaman di dalamnya.
Sebab, justru lewat gesekan yang sehat dan keberanian untuk saling memahami itulah, anak-anak muda mampu melintasi batas-batas perbedaan dan menciptakan dampak yang benar-benar bermakna bagi dunia.
