Ilmu Politik Unhas-CSIS Kupas Strategi Dekarbonisasi Industri Kendaraan Listrik
4 min read
Seminar publik tentang dekarbonisasi industri kendaraan listrik yang digelar oleh Departemen Ilmu Politik Unhas di Gedung Ipteks Unhas, Makassar. (Foto: Istimewa/HO)
Majesty.co.id, Makassar — Strategi proyek dekarbonisasi indutri baterai maupun kendaraan listrik menjadi topik utama dalam seminar publik yang digelar Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau Universitas Hasanuddin atau Fisip Unhas.
Seminar dekarbonisasi ini melibatkan Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Gedung Ipteks Unhas, Tamalanrea, Kota Makassar, Selasa (9/6/2026).
Forum ini mengusung tema “Membangun Dekarbonisasi pada Rantai Pasok Industri Baterai dan EV demi Menjaga Daya Saing dan Komitmen Lingkungan Indonesia”.
Seminar ini diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri atas mahasiswa, akademisi, pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat umum.
Kegiatan ini bertujuan membahas tantangan dan peluang dekarbonisasi dalam pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) Indonesia, khususnya di tengah pesatnya hilirisasi industri nikel yang menjadi tulang punggung rantai pasok baterai global.
Dalam sambutannya, Sekretaris Unhas, Sumbangan Baja, menegaskan komitmen kampus dalam mendukung agenda dekarbonisasi melalui penguatan riset baterai, kajian kredit karbon, serta pengembangan kendaraan listrik.
“Dekarbonisasi menjadi isu strategis yang tidak dapat dipisahkan dari upaya menghadapi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan pembangunan industri nasional,” kata Sumbangan Baja yang juga guru besar Unhas.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, peneliti, dan dunia usaha.
Keynote speaker, Bupati Morowali Utara Delis Julkarson Hehi menjelaskan, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam industri baterai kendaraan listrik dunia karena menguasai sekitar 53 persen cadangan nikel global.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan hilirisasi harus diiringi dengan upaya pengurangan emisi karbon melalui pengembangan energi terbarukan, penerapan teknologi penangkapan karbon (CCUS).
“Serta penerapan standar lingkungan global yang semakin ketat,” katanya.
Jangan Bergantung Batu Bara
Peneliti CSIS, Via Azlia Widiyati, dalam pemaparannya menyoroti pentingnya membangun green value chain dalam industri kendaraan listrik Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan hilirisasi nikel belum otomatis menjadikan Indonesia unggul dalam industri EV apabila masih bergantung pada energi berbasis batu bara.
Ia menegaskan bahwa dekarbonisasi rantai pasok, pengurangan penggunaan PLTU captive, serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.
Sementara itu, Ketua KADIN Morowali Utara, Ince Mochamad Arief Ibrahim, menekankan dekarbonisasi bukanlah penghambat hilirisasi, melainkan syarat utama agar produk nikel Indonesia tetap relevan dan kompetitif.
Ia memperkenalkan konsep Green Nickel yang menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari seluruh rantai pasok industri, mulai dari kegiatan pertambangan hingga pengelolaan limbah dan daur ulang baterai.
Dekan FISIP Unhas Sukri mengulas isu dekarbonisasi dari perspektif kebijakan publik.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan selalu dihadapkan pada trilema antara kemanfaatan ekonomi, keamanan lingkungan, dan keberlanjutan jangka panjang.
“Keberhasilan dekarbonisasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi, tetapi juga oleh kemampuan menempatkan negara, masyarakat, dunia usaha, dan lingkungan dalam posisi yang setara dalam proses pengambilan keputusan,” papar Guru Besar Fisip Unhas ini.
Dari unsur pemerintah daerah, Kepala Bidang Minerba Dinas ESDM Sulsel Jamaluddin,, memaparkan tantangan tata kelola industri nikel nasional pasca sentralisasi kewenangan pertambangan.
Ia menekankan bahwa tuntutan pasar global terhadap produk rendah karbon, termasuk melalui regulasi seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), menjadikan dekarbonisasi sebagai kebutuhan mendesak bagi industri baterai dan kendaraan listrik Indonesia.
Pada sesi diskusi, peserta mengangkat berbagai isu strategis, mulai dari ketergantungan industri terhadap energi batu bara, efektivitas reklamasi lahan pascatambang, insentif fiskal untuk investasi hijau, hingga hubungan antara standar lingkungan global dan kepentingan ekonomi internasional.
Diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan regulasi, penerapan Good Mining Practice (GMP), pengawasan lingkungan yang berkelanjutan, serta peningkatan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam agenda dekarbonisasi.
Seminar menyimpulkan bahwa dekarbonisasi tidak hanya merupakan agenda lingkungan, tetapi juga agenda ekonomi dan sosial yang menentukan daya saing Indonesia di masa depan.
Keberhasilan transformasi industri baterai dan kendaraan listrik membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat melalui penguatan regulasi, percepatan transisi energi, penerapan prinsip keberlanjutan, serta pengembangan inovasi teknologi rendah karbon.
Seminar ini diharapkan menjadi ruang dialog akademik yang mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan serta memperkuat kolaborasi multipihak dalam mewujudkan industri baterai dan kendaraan listrik Indonesia yang berdaya saing global sekaligus berkelanjutan.
