12/02/2026

Majesty.co.id

News and Value

Selebgram NR Orasi Cari Keadilan di Mapolda Sulsel: “Foto Intim Saya Dijual Seharga Kopi”

4 min read
NR di markas polisi mendesak agar otak penyebar dokumen visumnya ditangkap. Ia menyebut, foto-foto intimnya diedarkan bahkan dijual seharga segelas kopi.
Selebgram NR, korban pelanggaran privasi data hasil visum berorasi di depan Markas Polda Sulsel, Kota Makassar, Kamis (12/2/2026). (Foto: Majesty.co.id/Istimewa/HO)

Majesty.co.id, Makassar – Selebgram NR tak berhenti mencari keadilan setelah hasil visum dan foto organ intimnya bocor publik. NR kini mendatangi markas Polda Sulsel di Kota Makassar, Kamis (12/2/2026).

Di Mapolda Sulsel, Selebgram NR berdiri di mobil bak terbuka, memegang pengeras suara dan melontarkan “surat cinta”. Ia muncul setelah mengurung diri berbulan-bulan lamanya.

NR di markas polisi mendesak agar otak penyebar dokumen visumnya ditangkap. Ia menyebut, foto-foto intimnya diedarkan bahkan dijual seharga segelas kopi.

“Sebuah hal yang seharusnya bersifat rahasia dan dilindungi, disebarkan secara luas ke publik, bahkan diperjualbelikan seharga kopi yang saya minum sehari-hari,” tutur NR dengan nada getir.

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Dokumen visum NR beredar usai memeriksakan diri sebagai korban dugaan kekerasan seksual di Rumah Sakit Bhayangkara Polri Makassar pada Agustus 2025.

NR menegaskan bahwa dirinya berdiri bukan karena tanpa kesalahan, tetapi karena hak kemanusiaannya telah dirampas.

NR mengaku telah menerima sanksi sosial, namun menegaskan hal tersebut tidak membenarkan institusi yang menangani visumnya bersikap lalai.

“Selama lima bulan saya memilih diam. Bahkan permintaan maaf tidak pernah saya terima. Yang datang justru somasi, seolah institusi yang dirugikan,” ungkapnya.

Ia menyebut tersebarnya dokumen visum bukan disebabkan kelainannya, melainkan rapuhnya sistem keamanan data di RS Bhayangkara.

“Alih-alih meminta maaf, membuka ruang dialog, atau menunjukkan empati, RS Bhayangkara justru bersikap arogan,” katanya.

NR menilai penyimpanan hasil visum di Google Drive dalam kondisi terbuka sebagai bentuk kecerobohan dan ketidakprofesionalan.

“Foto area privat saya disebarluaskan dan diperjualbelikan, sementara pihak yang memiliki akses legal justru tidak menerima sanksi, bahkan sanksi etik,” ujarnya.

Sebagai pihak yang dirugikan, NR menyampaikan tiga tuntutan, yakni permohonan maaf terbuka dari RS Bhayangkara dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses visum.

NR juga mendesak transparansi data terkait pihak-pihak yang memiliki akses terhadap dokumen visum, serta pemberhentian dan pemberian sanksi etik tegas kepada pihak yang terbukti terlibat atau lalai.

Selain itu, ia juga menuntut sikap kooperatif penuh dari seluruh pihak dalam proses hukum pidana maupun perdata yang sedang dan akan berjalan.

“Saya berharap RS Bhayangkara menunjukkan itikad baik dan tanggung jawab moral atas peristiwa ini. Jika tidak ada respons dan langkah konkret dalam waktu yang wajar, kami akan menempuh seluruh jalur hukum yang tersedia dan kembali melakukan demonstrasi dengan jumlah massa yang lebih besar,” tegasnya.

Sementara itu, ibu NR, Sri Rahayu Usmi, yang turut mendampingi anaknya, menyampaikan terima kasih kepada para peserta aksi dan menegaskan bahwa kehadiran mereka merupakan bentuk komitmen agar peristiwa serupa tidak terulang.

“Kehadiran kami di sini adalah bentuk tuntutan agar peristiwa seperti ini tidak lagi terjadi, baik karena kelalaian pemerintahan maupun aparat,” ujarnya.

Ia mempertanyakan penyebab tersebarnya hasil visum, siapa yang memerintahkan, serta siapa atasan yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

“Kami orang kecil. Kami tidak punya uang. Sementara pihak yang kami laporkan memiliki kekuasaan dan kekuatan finansial. Apakah hukum benar-benar berlaku untuk semua?” katanya.

Sri Rahayu mengungkapkan kekecewaan mendalam atas dampak peristiwa tersebut terhadap kondisi psikologis anaknya.

“Lima bulan saya dan keluarga berjuang mendampingi anak saya yang hampir gantung diri dan hampir kehilangan nyawanya karena persoalan ini,” ungkapnya.

Ia menegaskan akan terus memperjuangkan keadilan hingga tuntas.

“Anak saya adalah harga diri saya. Selama saya masih berdiri di sini, saya tidak akan mundur,” tegasnya.

Selain di Mapolda Sulsel, massa Aliansi Pemerhati Kesehatan juga menggelar unjuk rasa di RS Bhayangkara Makassar dengan tuntutan memecat oknum dokter penyebar hasil visum Selebgram NR.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto belum menjawab permintaan wawancara hingga berita ini naik tayang. Tahun lalu ia menyebut, perkara ini sedang diusut.

Begitu juga Kepala RS Bhayangkara Makassar Kombes Pol. Bambang Triambodo belum menjawab permintaan wawancara soal aksi demo kasus bocornya hasil visum tersebut.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.