22/01/2026

Majesty.co.id

News and Value

Biddokkes: Identifikasi Korban Pesawat ATR bisa Habiskan Waktu 2 Minggu

3 min read
Proses identifikasi jenazah korban pesawat ATR milik Indoensia Air Transport tersebut melibatkan Tim DVI Biddokkes Mabes Polri dan Polda Sulsel.

Majesty.co.id

Ilustrasi. Markas Biddokkes Polda Sulsel di Jalan Kumala, Kota Makassar. (Foto: Majesty.co.id/Arya Wicaksana)

Majesty.co.id, Makassar – Dua jenazah korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulsel sudah tiba di markas Biddokkes Polda Sulsel, Kota Makassar.

Kedua korban Pesawat ATR 42-500 akan dilakukan identifikasi medis atau post-mortem untuk mencocokan data ante-mortem yang diambil dari para keluarga.

Proses identifikasi jenazah korban pesawat ATR milik Indoensia Air Transport tersebut melibatkan Tim DVI Biddokkes Mabes Polri dan Polda Sulsel.

Lantas, berapa lama waktu post-mortem korban?

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Kabid Pusdokkes Polri Kombes Pol. Wahyu Hidayati mengatakan, post mortem korban tergantung kondisi jenazah yang nantinya diterima dari Tim SAR gabungan.

Wahyu menyebut, identifikasi jenazah bisa 2 sampai 3 jam jika kondisi jasad relatif utuh.

“Kalau kondisi jenazah itu relatif utuh, kemudian data-data mortemnya itu lengkap, misalnya nih, ‘oh ketemu dia pakai behel, karetnya hijau’. Nah, ternyata ada foto pada saat dia masih hidup, memang behel ada karet hijau. Nah, itu cepat,” ujar Wahyu Hidajati di Kota Makassar, Senin (19/1/2026) kemarin.

Dokter Ahli Forensik Mabes Polri tersebut menjelaskan, jika kondisi jenazah jauh dari yang diharapkan, maka proses identifikasi medis ini bisa menelan waktu berhari-harim

“Tapi kalau misalnya bentuknya, mohon maaf, kalau nggak lengkap, kita harus pakai DNA. Nah, DNA itu butuh waktu, bisa sampai 2 Minggu,” jelas Wahyu.

“Nah seperti itu, jadi sampai saat ini kita belum tahu bentuk dari korban,” imbuh polisi wanita tersebut yang sebelumnya memimpin identifikasi korban banjir bandang di Sumatra dan Aceh.

Selain itu, Wahyu menyebut data ante-mortem keluarga penumpang terdiri dari orangtua, anak dan saudara kandung.

Wahyu menyebut, tim DVI tidak hanya mengumpulkan sample DNA keluarga penumpang. Riwayat medis juga dihimpun untuk memudahkan post-mortem.

“Kita mengumpulkan juga catatan medis, mana tahu dulu pernah operasi ambeien, mana tahu pernah pengambilan usus buntu, pernah mana tahu pasang pen, mana tahu ada tai lalat, pernah pasang gigi kron, segala macam itu kita perlu data itu,” jelas Wahyu.

Diberitakan sebelumnya, dua korban pesawat ATR 42-500 yang ditemukan adalah berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Keduanya berhasil dievakuasi tim SAR gabungan dari Gunung Bulusaraung.

Korban pertama ditemukan pada Minggu (18/1/2026) atau hari perdana pencarian. Tim SAR menemukan korban di lereng Gunung Bulusaraung sedalam 200 meter.

Korban kedua ditemukan pada Senin (19/1/2026) berjenis kelamin perempuan yang disebut pramugari pesawat ATR 42-500.

Kini, tersisa 8 korban pesawat tersebut dalam proses pencarian pada hari kelima, Rabu (21/1/2026).

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.