Ruben Amorim Dipecat MU Gegara Ingin Jadi Manajer, Bukan Hanya Pelatih!
2 min read
Pelatih Manchester United, Ruben Amorim. (Foto: Instagram/manchesterunited)
Majesty.co.id, Manchester – Manchester United memecat Ruben Amorim dari kursi pelatih. Petinggi MU disebut sudah membuat keputusan mendepak Amorim menjelang pertandingan pekan ke-20 Liga Inggris melawan Leeds United.
Itu menjadi laga pamungkas Ruben Amorim bersama MU, hingga klub mengumumkan memecat pelatih asal Portugal ini pada Senin (5/1/2026) waktu Indonesia.
“Klub mengucapkan terima kasih kepada Ruben atas kontribusinya dan mendoakan yang terbaik untuk kariernya ke depan,” demikian bunyi pernyataan MU.
Melansir Goal, pelatih asal Portugal itu diklaim “meledak” dalam pertemuan dengan direktur sepak bola Jason Wilcox sebelum laga di Elland Road berlangsung, dan ledakan emosi itu akhirnya menentukan nasibnya.
Hal lainnya ditujukan kepada dewan direksi United setelah Setan Merah ditahan imbang di West Yorkshire.
Amorim mempertanyakan dukungan yang telah dia terima di tingkat dewan direksi, dan menyatakan bagaimana dia ingin diberi kebebasan untuk bekerja sebagai “manajer” daripada “pelatih”.
Pria berusia 40 tahun itu mengatakan kepada wartawan dalam pernyataan yang mengejutkan di akhir masa jabatannya.
“Saya datang ke sini untuk menjadi manajer Manchester United, bukan pelatih Manchester United. Itu jelas. Saya tahu nama saya bukan [Thomas] Tuchel, bukan [Antonio] Conte, bukan [Jose] Mourinho, tetapi saya adalah manajer Manchester United,” kata Amorim.
Amorim akhirnya tidak diberi perpanjangan kontrak 18 bulan, dan pemecatannya terjadi kurang dari 24 jam setelah kata-kata itu diucapkan.
Menurut The Telegraph, posisinya sudah seperti orang mati saat itu.
Chief executive Omar Berrada adalah orang yang membuat keputusan akhir tentang Amorim.
Dia diberitahu tentang keputusan itu selama pertemuan yang juga dihadiri Wilcox pada Senin pagi, dan kemudian barang-barang pun dikemas.
Ruben Amorim ditunjuk sebagai manajer Manchester United pada November 2024 untuk menggantikan Erik ten Hag, namun kiprahnya di Liga Inggris tak berjalan sesuai harapan.
Ia hanya bertahan selama 63 pertandingan di semua kompetisi, dengan catatan 24 kemenangan—yang berarti rasio kemenangannya hanya 38 persen.
Angka tersebut dinilai jauh dari standar klub sebesar The Red Devils, terlebih dengan ekspektasi tinggi yang menyertai penunjukannya.
