Tiga Kandidat Ketua Umum Bicara Masa Depan HMI Gowa Raya
4 min read
Tiga kandidat ketua umum HMI Cabang Gowa Raya dalam acara debat menjelang Konferensi Cabang XII di Coffee Solution, Senin (1/12/2025). (Foto: Istimewa/HO)
Majesty.co.id, Makassar– HMI Cabang Gowa Raya menggelarUuji publikdan debat kandidat Konferensi Cabang (Konfercab) XII di Coffee Solution, Jalan Aroepala, Kota Makassar, Senin (1/12/2025).
Debat kandidat ini mengusung tema “Kuantum Leadership: Jalan Baru Kepemimpinan HMI Cabang Gowa Raya”.
Debat menghadirkan tiga panelis yaitu Sekretaris Umum HMI Gowa Raya 2003–2004, Mujiburrahman, Koordinator Presidium MW FORHATI Sulsel Nur Syamsiah Yunus Tekeng serta Aktivis Perempuan Aflina Mustafaina yang juga Dewan Pakar FORHATI Sulsel.
Tiga kandidat ketua umum HMI Gowa Raya yaitu A. Wahyu Pratama Hasbi dari Komisariat Syariah dan Hukum UIN Alauddin.
Kemudian, Andi Rini Sulestiani dari Komisariat Kesehatan dan Ilmu Kedokteran UIN Alauddin, serta Muhammad Amri dari Komisariat Sains dan Teknologi UIN.
Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya, Nawir Kaling, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga persatuan organisasi.
“Sepanjang HMI Cabang Gowa Raya belum dibubarkan. Maka kita harus saling membersamai satu sama lain,” ujar Nawir dalam keterangan tertulis.
Nawir juga memaparkan respons terhadap munculnya surat keputusan karateker ketua umum cabang dari PB HMI.
“Sebelum dikeluarkannya SK Karateker dari PB HMI, pengurus HMI Cabang Gowa Raya sebelumnya tidak pernah mendapatkan surat teguran/SP… Hingga saat ini belum ada tanggapan dari PB HMI mengenai Permohonan PK yang kami ajukan,” tegasnya.
Nawir menegaskan bahwa pihaknya tetap menjalankan Konfercab sesuai mekanisme organisasi.
Apa Gagasan 3 Kandidat?
Debat ini dipandu oleh Direktur Eksekutif LKBHMI Cabang Gowa Raya, Aenul Ikhsan, selaku moderator.
Kandidat ketua umum HMI Gowa Raya Muhammad Amri, mengusung gagasan HMI Konstruktif. Amri menekankan gagasan digitalisasi dan penguatan basis data kader.
“HMI Cabang Gowa Raya ke depannya akan dikelola melalui teknologi dan database digital.. menargetkan minimal 1.000 kader dalam satu periode,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya manajemen konflik dan transformasi organisasi yang adaptif di era kecerdasan buatan.
Sementara itu, Andi Rini Sulestiani, satu-satunya perempuan kandidat ketua umum HMI Gowa Raya menawarkan konsep penguatan kaderisasi komisariat.
Rini menyoroti pentingnya pembangunan jiwa kepemimpinan di tingkat komisariat.
“Pentingnya membangun kesadaran kader melalui proses kaderisasi yang baik dan tidak terlalu menekankan pada pragmatisme kader,” ucapnya.
Ia juga menekankan pengembangan keterampilan dan ruang aktualisasi kader.
“Izinkan saya tumbuh seperti bunga tembok… tapi tidak untuk datang merusak,” tutupnya.
Sementara itu, A. Wahyu Pratama Hasbi mengusung konsep profesionalisme dan independensi HMI Gowa Raya.
Wahyu menekankan pentingnya arah kepemimpinan kolektif.
“Ingin membawa HMI Cabang Gowa Raya melangkah bersama-sama menentukan arah… dengan tetap berdiri pada komitmen independensi etis dan organisatoris,” katanya.
Ia berfokus pada penguatan perkaderan, ruang kreativitas kader, dan suasana intelektual dalam organisasi.
Respons Panelis
Menanggapi itu, Mujiburrahman, menegaskan bahwa quantum leadership menuntut perubahan pola pikir.
“Quantum leadership mengajak kita pindah dari kepemimpinan yang linear… mengajak kita membawa kepemimpinan manajerial dan adaptasi teknologi,” ujarnya.
Ia menyoroti bahaya dualisme. “Dualisme ini merusak jantung organisasi… ini mengenai krisis etika dan krisis integritas.”
Panelis kedua, Nur Syamsiah, menyebut debat publik sebagai langkah penyelesaian. “Kau yang memulai, kau yang mengakhiri… siapapun yang terpilih nantinya, kita siap menjadi saksi,” ujarnya.
Ia juga menyesalkan munculnya karateker.
“Kenapa tidak dibicarakan baik-baik terlebih dulu?… Karena adanya kebijakan karateker itu, banyak menyakiti hati orang lain,” tegasnya.
Panelis ketiga, Aflina, menekankan pentingnya transformasi kepemimpinan.
“Kandidat harus mentransformasikan kepemimpinan tradisional menuju kepemimpinan yang transformatif,” ucapnya.
Menurutnya, integritas adalah fondasi kepemimpinan dan lembaga.
Presidium KAHMI Gowa, Muh. Isra DS, mengapresiasi debat kandidat yang dianggap membuka ruang publik.
Ia mengingatkan pentingnya nilai keislaman dalam kaderisasi.
“Yang menjadi tantangan kepemimpinan HMI ke depan adalah mengembalikan identitas HMI sebagai organisasi keislaman dan keindonesiaan,” katanya.
Terkait polemik karateker, Isra menyebutnya dinamika organisasi.
KAHMI Gowa menyatakan siap menjadi fasilitator penyelesaian konflik internal.
