KTT APCAT, Wali Kota Makassar Paparkan Strategi Kawasan Bebas Rokok
3 min read
Kepala Dinkes Makassar Nursaidah Sirajuddin (kiri) dan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin pada acara 8th Asia Pacific Cities Alliance for Health and Development (APCAT) Summit di Jakarta. (Foto: Humas Diskominfo Makassar)
Majesty.co.id, Jakarta — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi menghadiri forum internasional The 8th Asia Pacific Cities Alliance for Health and Development (APCAT) Summit yang berlangsung di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Dalam forum strategis ini, Appi dijadwalkan memaparkan materi terkait implementasi Kawasan Bebas Rokok (KTR) di Kota Makassar.
Mengusung tema “Together We Bring Health Solutions”, pertemuan ini menjadi ruang bagi para pemimpin kota di kawasan Asia Pasifik untuk berbagi inovasi dan praktik terbaik dalam menjawab tantangan kesehatan perkotaan.
Didampingi Kepala Dinas Kesehatan Nursaidah Sirajuddin dan Kabag Protokol Andi Ardi Rahadian, Wali Kota Appi menegaskan bahwa kehadiran Makassar dalam ajang ini adalah bentuk partisipasi aktif di level regional maupun global.
“Partisipasi ini menjadi penegasan posisi Kota Makassar sebagai salah satu kota yang aktif mengambil peran dalam percakapan regional dan global terkait pengembangan solusi kesehatan perkotaan,” ujar Appi.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI, Bima Arya Sugiarto, didampingi Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno.
Dalam sambutannya, Bima Arya menyoroti agresivitas industri tembakau yang dinilai mengancam masa depan generasi muda.
Data terbaru menunjukkan prevalensi perokok di Indonesia mencapai angka 38,2 persen pada tahun 2026, yang menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia.
“Argumen mengenai dampak mematikan rokok bukan lagi sekadar opini, melainkan fakta ilmiah yang tidak terbantahkan,” tegas Bima Arya.
Wamendagri juga mengingatkan para kepala daerah agar tidak tergiur oleh program Corporate Social Responsibility (CSR) dari industri rokok. Menurutnya, beban biaya kesehatan yang harus ditanggung masyarakat jauh lebih besar dibanding nilai bantuan tersebut.
“Pengendalian tembakau membutuhkan komitmen yang kuat dan keberanian untuk berkata tidak terhadap pengaruh industri. Ini bukan sekadar kebijakan kesehatan, tetapi soal keberpihakan pada keselamatan dan kualitas hidup warga,” tambahnya.
Sebagai penutup, Bima Arya menitipkan tiga pesan kunci untuk keberlanjutan gerakan APCAT yaitu Inovasi memperkuat riset dan kampanye yang relevan bagi Gen Z dan Gen Y.
Kemudian Co-Creation membangun kemitraan setara antara pemerintah, korporasi, dan komunitas.
Serra kemampuan regenerasi yaitu menjaga semangat pengendalian tembakau agar terus diperbarui oleh generasi penerus.
“Saya berharap APCAT dapat terus menjadi motor penggerak kolaborasi lintas kota dan lintas negara dalam melindungi kesehatan masyarakat dari dampak buruk industri tembakau,” pungkasnya.
