25/03/2026

Majesty.co.id

News and Value

Opor, Burasa’, Perbedaan dan Bahaya Haditsul Ifki

3 min read
Tapi ya, seperti biasa, di tengah suasana damai begitu, selalu ada saja “bumbu tambahan” yang tidak diundang.
Foto Penulis Fathahuddin Lewa. (Istimewa/Majesty.co.id)

Lebaran tahun ini lagi-lagi beda-beda. Ada yang Jumat, ada yang Sabtu, bahkan ada yang sudah duluan di Kamis—walaupun yang ini jumlahnya tidak banyak.

Tapi yang menarik, suasananya beda dari dulu. Tidak ada lagi drama panjang soal siapa yang paling benar.

ADVERTISEMENT
Patarai Amir DPRD Sulsel

Masyarakat kelihatan makin santai dan dewasa. Di beberapa tempat, panitia bahkan siapkan dua kali Salat Id.

Media sosial juga relatif adem—yang biasanya panas, sekarang lebih banyak isinya foto opor ayam, toppalad, burasa’ hingga ketupat. Intinya, kita mulai paham satu hal: bersatu itu tidak harus seragam. Unity, not uniform.

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Kalau dipikir-pikir, perbedaan Lebaran sekarang efeknya cuma jadwal makan. Yang Jumat sudah masuk ronde ketiga makan opor, yang Sabtu masih pemanasan. Tapi ujungnya sama: sama-sama kenyang, sama-sama cari obat perut.

Di meja makan, semua perbedaan itu hilang. Burasa’ ketemu opor, sambal ketemu kerupuk, dan obrolan ngalir ke mana-mana. Lebaran kembali jadi momen hangat, sederhana dan menyenangkan.

Tapi ya, seperti biasa, di tengah suasana damai begitu, selalu ada saja “bumbu tambahan” yang tidak diundang.

Akhir ramadan ini, media sosial ramai dengan kabar dugaan skandal seorang pejabat.

Entah benar atau tidak, yang jelas kabarnya menyebar cepat sekali. Bahkan mungkin lebih cepat daripada burasa matang di dapur.

Hal seperti ini sebenarnya bukan cerita baru. Dalam sejarah Islam, pernah terjadi peristiwa besar yang dikenal sebagai Haditsul Ifki.

Peristiwa ini menimpa Aisyah binti Abu Bakar, istri Nabi Muhammad SAW, yang difitnah berselingkuh gara-gara tertinggal rombongan lalu diantar kembali oleh seorang sahabat.

Dari kejadian sederhana, muncul cerita. Dari cerita jadi gosip, dari gosip naik level jadi “katanya”. Dan tahu-tahu sudah dianggap fakta!

Kalau terasa familiar, ya memang. Polanya mirip sekali dengan zaman sekarang. Bedanya, dulu menyebar dari mulut ke mulut. Sekarang cukup satu klik: share.

Yang bikin miris, kadang kita ikut jadi bagian dari rantai itu. Alasannya klasik: “cuma teruskan”, “biar semua tahu”, atau yang paling jujur: “soalnya menarik dan hangat”.

Padahal, dalam kasus Haditsul Ifki, butuh waktu sampai akhirnya kebenaran ditegaskan. Dan yang menyebarkan fitnah mendapat peringatan keras. Artinya jelas: menyebarkan kabar yang belum jelas itu bukan hal sepele.

Sekarang coba jujur saja—lebih susah mana, menahan jempol buat tidak share, atau nahan diri buat tidak menambah opor ayam dan burasa?

Kalau jawabannya opor ayam dan burasa, mungkin kita memang perlu lebih waspada sama jempol sendiri.

Lebaran seharusnya jadi momen kembali ke “fitrah”—bukan cuma saling maaf-maafan, tapi juga bersih dalam cara kita bicara dan menyebarkan informasi.

Jangan sampai suasana yang sudah adem ini malah rusak gara-gara kabar yang belum tentu benar.

Jadi sebelum ikut nimbrung atau tekan tombol forward, mungkin kita bisa tanya dulu ke diri sendiri: ini beneran penting, atau cuma seru-seruan?

Karena ternyata, menjaga persatuan itu bukan cuma soal beda hari Lebaran. Tapi juga soal tidak ikut-ikutan bikin gaduh.

Akhirnya, Lebaran bukan tentang siapa yang duluan atau belakangan. Tapi tentang bagaimana kita menjaganya tetap hangat—tanpa prasangka, tanpa fitnah, dan tanpa hoaks.

Selamat menikmati dan memanaskan kembali opor ayamnya. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.


Penulis: Fathahuddin Lewa, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Gowa


*) Semua isi opini ini di luar tanggung jawab redaksi Majesty.co.id

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.