23/03/2026

Majesty.co.id

News and Value

“Bupati” itu Tidak Punya Suami, Anak, apalagi Selingkuhan!

2 min read
Tidak hanya berhenti di situ, anaknya pun ikut dikritik, dengan frame “putra bupati gowa taruna gemoy.
Amar Anggriawan Azis. (Foto: Istimewa/Majesty.co.id)

Akhir-akhir ini berseliweran tulisan di media sosial terkait dugaan Bupati Gowa, Sulawesi Selatan, selingkuh dengan konsultan pribadinya. Tulisan ini tidak hanya dipublish oleh satu akun, tapi oleh beberapa akun.

Tidak hanya berhenti di situ, anaknya pun ikut dikritik, dengan frame “putra bupati gowa taruna gemoy”. Semua dihubungkan dengan kata “Bupati”.

ADVERTISEMENT
Patarai Amir DPRD Sulsel

Tentu kritik itu penting dalam ranah demokrasi, ibaratnya sebuah mobil bus, penumpang senantiasa mengingatkan jika sopir salah arah, ngebut atau melanggar rambu rambu.

Namun, kritik itu hanya boleh jika terkait pekerjaan sang sopir yakni mengemudikan bus.

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Tapi, apakah boleh mengritik ranah pribadi sang sopir, misalnya, si fulan sopir jelek karena tidak perhatikan keluarganya atau si fulan sopir buruk karena wajahnya jelek?

Tentu itu sudah melampaui batas hubungan penumpang dan sopir. Karena penumpang dan sopir hanya dihubungkan terkait bagaimana tiba di tujuan dengan selamat.

Kita sering terlalu membabi buta, tidak lagi melihat dua entitas yang memang menyatu dalam satu objek. Kita lupa membedakan yang kita kritik itu adalah jabatan atau pribadinya.

Kata “Bupati” adalah kata benda yang menunjuk pada pimpinan wilayah atau kepala daerah. Tugasnya adalah sebagai pengambil kebijakan publik. Ia adalah struktur pemerintahan.

Bupati adalah jabatan, sebagaimana si fulan yang menjabat sebagai sopir bus tadi dan kita “masyarakat” adalah penumpangnya.

Jadi “bupati” karena ia adalah jabatan tentu tidak memiliki suami, saudara, anak.

Sehingga tulisan yang berseliweran terkait dugaan bupati memiliki ini itu, ataupun tubuh anaknya yang ini itu, tentu adalah tulisan yang hampa ataupun bahkan salah akan makna.

Karena penulis berita tidak mampu membedakan yang mana ranah bupati dan mana yang rana privat individunya.

Jika itu adalah kebijakan tentu itu adalah mengkritik, jika itu ranah privat maka tentu yang kita bicarakan hanya gosip.

Lantas apakah kita menyebut diri kita kaum intelektual jika hanya terjebak dalam pusaran arus gosip belaka?

Ah sudahlah, ini masih setahun, masih banyak Pekerjaan Rumah di Gowa yang harus kita benahi bersama.

Kita tidak punya waktu untuk mengurus gosip gosip itu.

Anjing menggonggong kafilah berlalu.. Selamat Idulfitri, maaf lahir batin.


Penulis: Amar Anggriawan Azis, Pemuda Kabupaten Gowa


*) Semua isi opini ini di luar tanggung jawab redaksi Majesty.co.id

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.