Jusuf Kalla Dipolisikan Gegara Ceramah “Mati Syahid”, Dianggap Menista Agama
3 min read
Jusuf Kalla saat berorasi pada aksi bela Palestina di Jakarta pada November 2023. (Foto: Instagram/jusufkalla)
Majesty.co.id, Jakarta – Pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), mengenai klaim pelaku konflik Poso dan Ambon sama-sama “mati syahid” berbuntut laporan polisi.
Pernyataan soal mati syahid disampaikan JK saat memberikan ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026.
JK dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Pengurus Pusat Pemuda Katolik, DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), serta sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya.
Laporan tersebut teregister dengan nomor LP/B/2546/IV/2026/SPKT/POLDAMETROJAYA dan LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDAMETROJAYA pada Senin, 13 April 2026.
JK dilaporkan atas dugaan penistaan agama sebagaimana diatur dalam sejumlah pasal pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menekankan pentingnya meluruskan pemahaman publik terkait ajaran Kristiani yang kerap disalahartikan dalam narasi tersebut.
Menurutnya, dalam iman Kristen, konsep kasih adalah hukum yang utama dan tidak mengenal kekerasan sebagai jalan kesaksian.
“Iman kami tidak mengajarkan kekerasan sebagai jalan kesaksian, melainkan pengorbanan, kerendahan hati, dan kesediaan menderita tanpa membalas. Konsep mati syahid dalam tradisi Gereja tidak pernah dimaknai sebagai tindakan menyerang atau menghilangkan nyawa orang lain,” tegas Stefanus Gusma.
Gusma mengingatkan agar narasi keagamaan di ruang publik tidak direduksi secara keliru karena berpotensi memicu ketegangan sosial dan retaknya persatuan.
Isi Ceramah JK Dipotong
Sebelumnya, beredar video JK berceramah tentang konflik bernuansa agama yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah dan di Ambon pada awal Reformasi.
Potongan video itu berisi pernyataan JK sebagai berikut:
“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti.”
Sejumlah akun Instagram itu lalu menarasikan bahwa JK telah berbohong karena “Kristen tidak mengenal mati syahid untuk membunuh musuh” dan bahwa ajaran Kristus adalah “Kasihilah musuhmu”.
Menanggapi laporan tersebut, Juru Bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, membantah tuduhan penistaan agama dan menyebut video yang viral tersebut telah dipotong.
Ia menjelaskan bahwa pernyataan JK harus dilihat dalam konteks sejarah penanganan konflik Poso dan Ambon di masa lalu, bukan sebagai pengajaran teologi.
Dalam potongan video yang beredar, JK menyebutkan bahwa alasan agama gampang menjadi pemicu konflik karena kedua belah pihak di Poso dan Ambon kala itu berkeyakinan bahwa membunuh atau terbunuh dalam konflik adalah syahid.
“Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah,” kata Husain Abdullah.
“Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun kelompok Kristen sama-sama menyerukan ‘perang suci’ dan mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid,” jelas Husain Abdullah.
Husain Abdullah menegaskan bahwa JK sedang menggambarkan usahanya saat itu untuk meluruskan keyakinan keliru dari kedua kelompok yang bertikai agar pertumpahan darah bisa dihentikan.
“Itu fakta sejarah, karena itu baik konflik Poso maupun Ambon disebut bernuansa SARA. Konflik yang saat itu menewaskan ribuan orang, bukan pendapat pribadi Pak JK,” pungkasnya.
