Berani! Mahasiswa Makassar Demo Kasus Air Keras di Dekat Markas Tentara, Ada Dianiaya OTK
3 min read
Massa dari Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) saat menggelar aksi solidaritas korban air keras Andrie Yunus di dekat Markas Kodam XIV/Hasanuddin, Kota Makassar. (Foto: Istimewa/HO)
Majesty.co.id, Makassar – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) menggelar aksi unjuk rasa di sekitaran markas Tentara Nasional Indonesia Makodam XIV/Hasanuddin di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, pada Rabu (8/4/2026).
Demo mahasiswa tersebut terbilang cukup berani, karena digelar tak lebih 100 meter dari Makodam XIV/Hasanuddin.
Apalagi, demo itu untuk meminta Pangdam Hasanuddin menjamin tidak terjadi kasus air keras di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) seperti yang dialami aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Mereka secara bergantian menyampaikan orasinya, menyoal teros penyiraman air keras.
Massa aksi juga membentangkan spanduk bertuliskan “Meminta Pangdam Hasanuddin untuk memberikan statement yang menjamin tidak terjadinya kasus seperti Andrie Yunus di wilayah Sulselrabar”.
Aksi tersebut dipicu oleh kekhawatiran publik atas kasus teror penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus yang dinilai mengancam ruang demokrasi.
Jenderal Lapangan demo GAM, Akmal menegaskan, bahwa jaminan dari Panglima Kodam menjadi krusial di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap keamanan aktivis di Sulselbar.
“Sikap tegas dan langkah nyata dari Pangdam Hasanuddin menjadi ujian penting dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan prinsip keadilan di kawasan Sulselrabar,” kata Akmal.
Pernyataan itu disampaikan di tengah orasi yang berlangsung selama kurang lebih 30 menit.
Massa Dianiaya OTK
Selama aksi berlangsung, massa mengalami tindakan represif yang diduga dilakukan oleh orang tak dikenal (OTK).
Dalam insiden tersebut, Panglima Besar GAM, Fajar Wasis, turut menjadi korban dan mengalami luka lebam di bagian bawah mata kirinya.
Sejumlah kader Gerakan Aktivis Mahasiswa juga turut menjadi korban dan mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh akibat tindakan represif tersebut.
Bahkan, salah satu kader mengalami perampasan telepon genggam yang diduga digunakan untuk dokumentasi aksi.
Atas kejadian tersebut, Panglima GAM mengecam keras tindakan represif yang dinilai telah merampas dan mencederai ruang-ruang demokrasi. Menurutnya, ruang demokrasi seharusnya dijamin dan dilindungi dalam setiap pelaksanaan aksi.
“Kejadian ini tidak memiliki pembenaran dalam bentuk apa pun, tindakan represif tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip demokrasi dan hak asasi manusia,” tegas Fajar Wasis usai insiden tersebut.
Ia berharap aparat keamanan segera mengusut tuntas pelaku kekerasan terhadap para aktivis.
Hingga berita kini, pihak Makodam XIV/Hasanuddin belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan dari para aktivis tersebut.
