Anak 15 tahun di Gowa Jadi Korban Tembak Senjata Jelly, Mata Terluka
2 min read
Korban tembak-tembak senjata jelly dirawat di rumah sakit di Kabupaten Gowa dengan luka pada mata kanan. (Foto: Humas Polres Gowa)
Majesty.co.id, Gowa — Senjata peluru jelly ataukah water gel blaster yang marak akhir-akhir ini memakan korban seorang anak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Bocah 15 tahun bernama Ramadhan itu terkena tembakan peluru jelly sehingga mengalami luka parah pada mata kanannya. Kejadiannya di Bajeng, Gowa, pada Kamis (5/3/2026) malam.
Mata Ramadhan terkena peluru senjata jelly setelah melaksanakan Salat Tarawih di dekat rumahnya.
Kanit Jatanras Satreskrim Polres Gowa, Ipda Aditya Pamungkas, mengatakan pihaknya segera bertindak melakukan penyelidikan di lokasi kejadian setelah menerima laporan keresahan warga terkait insiden membahayakan tersebut.
“Setelah kami menerima laporan, tim langsung menuju lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan,” ujar Aditya Pamungkas dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, kejadian bermula saat korban bersama rekan-rekannya tengah duduk santai di depan sebuah warung di depan SD Bontomanai.
Tiba-tiba, komplotan remaja yang mengendarai sepeda motor melintas dan melepaskan tembakan secara acak ke arah kerumunan.
“Para pelaku ini melintas menggunakan sepeda motor. Setiap melihat kerumunan anak muda yang sedang duduk atau berkumpul, mereka langsung menembakkan peluru jeli secara membabi buta,” jelasnya.
Nahas, salah satu tembakan tersebut mengenai tepat pada bola mata kanan korban. Aksi para pelaku dinilai sangat meresahkan karena dilakukan di area publik dan menyasar warga yang sedang berkumpul secara damai.
Polres Gowa kini tengah melakukan pengejaran terhadap komplotan pelaku tersebut. Selain itu, kepolisian mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak mereka agar tidak terlibat dalam penggunaan senjata mainan yang membahayakan keselamatan orang lain.
Saat ini, Ramadhan tengah mendapatkan perawatan medis intensif di rumah sakit dengan kondisi mata yang telah diperban.
Penulis: Suedi
