04/04/2026

Majesty.co.id

News and Value

PT Vale sudah Bersihkan Wilayah Tumpahan Minyak, Tapi Kompensasi Belum 100 persen Pasca 6 bulan

2 min read
PT Vale merespons temuan Wahana Lingkungan Hidup atau WALHI Sulsel soal masih adanya residu atau zat yang tertinggal mencemari aliran sungai pasca kebocoran pipa minyak 6 bulan lalu.
Sulfur Melter pemurnian nikel PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur pada Januari 2026. (Foto: Majesty.co.id/Arya)

Majesty.co.id, Luwu Timur – PT Vale Indonesia Tbk mengklaim wilayah terdampak kebocoran pipa minyak di Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel) telah dibersihkan secara menyeluruh.

Klaim PT Vale merespons temuan Wahana Lingkungan Hidup atau WALHI Sulsel soal masih adanya residu atau zat yang tertinggal mencemari aliran sungai pasca kebocoran pipa minyak 6 bulan lalu.

“Seluruh proses pembersihan di area terdampak telah diselesaikan,” kata Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia Tbk, Vanda Kusumaningrum dalam keterangan tertulis kepada Majesty.co.id, Kamis (2/4/2026).

Soal kompensasi kepada warga terdampak tumpahan minyak, khususnya sawah petani yang rusak tercemar, PT Vale ternyata belum membayarkan 100 persen.

Advertisement
Ikuti Saluran WhatsApp Majesty.co.id

Padahal, perusahaan pemurnian nikel itu berjanji akan menuntaskan kompensasi pada Januari 2026.

“Hingga 30 Maret 2026, realisasi kompensasi kepada masyarakat terdampak telah mencapai 75,65 persen dan terus berjalan secara transparan dan akuntabel,” sambung Vanda.

PT Vale juga menyatakan perusahaan melakukan penguatan sistem untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.

“Termasuk peningkatan standar operasional, sistem pemantauan, serta pengawasan internal yang lebih ketat,” kata Vanda.

Sebelumnya, Kepala Divisi Perlindungan Ekosistem Esensial WALHI Sulsel, Zulfaningsih HS mengatakan, skala pencemaran kebocoran pipa minyak jauh lebih luas dari informasi yang disampaikan PT Vale.

Hasil investigasi WALHI pada Februari 2026 mengungkapkan, tumpahan minyak mengalir sejauh 18,777 kilometer dari hulu Sungai Koromusilu hingga ke Danau Towuti. Dari situ ditemukan residu minyak.


Residu minyak yang ditemukan WALHI Sulsel di Towuti, Luwu Timur, pada Februari 2026. (Foto: Istimewa/HO)

Senada dengan itu, Direktur WALHI Sulsel, Muhammad Al Amien, menyoroti lemahnya akuntabilitas PT Vale terkait insiden yang terjadi setengah tahun lalu tersebut.

Amin juga menilai bahwa penggunaan Marine Fuel Oil atau MFO sebagai bahan bakar pemurnian nikel memiliki risiko tinggi terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

“Karena itu, PT Vale juga harus segera menghentikan penggunaan MFO dalam operasionalnya karena berisiko tinggi terhadap lingkungan,” kata Amin dalam konferensi pers di Kota Makassar, Selasa (31/3/2026).

Untuk itu, WALHI Sulsel mendesak pemulihan lingkungan secara nyata dan transparan akibat tumpahan minyak PT Vale.

Mereka juga meminta perusahaan harus mengumumkan pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

PT Vale Indonesia juga harus menjamin tidak adanya kebocoran pipa minyak di masa depan.


Penulis: Suedi

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2023 © Majesty.co.id | Newsphere by AF themes.